Ikhtiar

July 14th, 2008 by daffahanif

 

 Buana, ujarnya kamu berwarna biru
bila tak berbungkus beratus cumulus. Baruna, ia pun acap berucap bahwa satu
keajaiban dirimu adalah tak ingin mengalir ke dataran yang lebih tinggi,
melainkan ke dataran yang lebih rendah. Itu pula yang telah mengendap di
lobus-lobus otakku bahwa jika hendak menjadi tenang sepertinya, maka
mengalirlah menurut aturan ‘Arasy. Mentari, katanya kamu selalu muncul di Timur
kala pagi hari dan tenggelam di Barat jika bumi telah berputar separuhnya. Ia
juga bilang, jikalau ragaku lebih tinggi mungkin aku bisa menggapai
keindahannya dalam wujud aurora di polar-polar dunia. Namun, masih menurut
penuturannya, panas yang dihasilkannya bisa meluluhlantakkan tulang belulang
yang telah disatukan kembali oleh ruhku di hari perhitungan kelak. Semuanya
niscaya terjadi bila amalan kebaikanku di dunia teramat ringan.

…read more…

Memoar Qalbu

June 9th, 2008 by daffahanif

Cinta, ingatkah kau hari ini di

lima

bulan yang lalu? Ya,

lima

bulan lalu, tepat tanggal 10 Januari 2008, kau telah mengikrarkan sebuah janji
suci, janji yang teramat berat di hadapanNya. Oleh karenanya, Al-Qur’an
menyebutnya sebagai mitsaqan ghaliza [perjanjian yang kuat dan sangat berat].
Mungkin, kau kerap berujar dalam hati, mengapa aku demikian menghitung detik
demi detik, jam demi jam, hari demi hari, dan bulan demi bulan yang kita lalui?
Semuanya bermuara pada satu hal : sejatinya, hari yang demikian oleh Allah
adalah anugerah bagi hambaNya, dan aku ingin kita selalu mensyukuri setiap hari
yang telah kita lewati. Bukan hanya itu, di balik kesyukuran itu, kita pula
harus senantiasa bermuhasabah, apakah anugerah yang telah dikaruniakan oleh
Allah ini telah kita optimalkan, atau belum?

…read more…

Untuk Satu Kata

March 16th, 2008 by daffahanif

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Maafkan, jika aku
hanya dapat berkata-kata pinta

Dalam wajah yang
tiada lelah,

Kuartikan itu
sebagai sebuah kesanggupan

Dan selalu, kau
memenuhinya dengan sempurna

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Terima kasih,
kau telah membuka jalanku tuk raih hidayahNya

Dalam beberapa
jam perjalanan,

Kuyakini itu
adalah ungkapan kebahagiaan

Dan kerapkali,
kau kejawantahkan dalam ribuan karya nyata

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Maafkan, bila
hanya keluh yang bisa kuulurkan

Dalam raut yang
tak bercemas

Kuanggap itu sehangat
semangat

Dan senantiasa,
kau ajarkan aku untuk bangkit, meski dalam ketertatihan

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Terima kasih,
atas jutaan kebersamaan yang telah kita lalui bersama

Dalam ceriaku,

Dalam sedihku,

Dalam
waktu-waktu luang yang kau miliki

Kumaknai itu
sebagai sebuah perlambangan sayang

Dan acapkali,
kau wujudkan walau letih telah meremukredamkan raga gagahmu

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Maafkan, jika
kilahan sering terlontar dari bibir seorang manusia yang dhaif

Dalam keyakinan
yang menghujam jauh ke dasar bumi

Kusadari itu
adalah sebuah semiotika cinta

Karena
sejatinya, begitulah caramu ajariku mengenal dunia

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Terima kasih,
telah menitipkan aku pada seorang lelaki pilihanmu

Dalam senyum
yang tak pernah berhenti tersungging

Kumaknai itu
adalah euforia bercampur kelegaanmu

Karena telah
menunaikan amanah dari Allah 

Menjaga dan
mengantarku hingga bertemu imam dalam hidupku

 

Untuk satu kata
yang tak pernah terucap…

Izinkan aku
mengumandangkannya pada semesta

Bahwa aku
demikian mencintaimu

Sungguh
mencintaimu

Dalamnya palung
Mariana, sungguh tiada dapat dibandingkan dengan dalamnya

Cinta ini padamu

Hanya untukmu,
Papa…

 

*Cinta itu
indah…karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yg luas, dan inti pekerjaannya
adalah memberi. Memberi apa saja yg diperlukan oleh orang yg kita cintai untuk
tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya [M. Anis Matta] — Terima
kasih, Pah, telah mengajarkanku menjadi seorang perempuan. Terima kasih, Allah,
telah memberikan aku seorang ayah yang demikian hebat
*

 

 

…Satu Rindu…

February 27th, 2008 by daffahanif

Syahdan, kehidupan adalah sebuah daur yang akan senantiasa melingkar.
Tak selamanya manusia akan berada di puncak kebahagiaan, pun sebaliknya
selalu berkutat di bawah kesedihan. Demikian halnya dengan saya sebagai
seorang manusia biasa yang teramat dhaif. Belumlah genap tiga minggu
saya merasakan kebahagiaan atas pernikahan saya yang dilangsungkan pada
1 Muharram 1429 H yang lalu, Papa yang selama ini bertanggung jawab
penuh atas diri saya harus kembali ke haribaan Sang Pemilik Jiwa.

…read more…

…Menikah…

February 19th, 2008 by daffahanif

Assalamu’alaikum Wr Wb…

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam buncahan rasa rindu yang mendalam atas indahnya persahabatan yang kita jalani

 

untuk itu

 

Kusampaikan segala pinta agar hari-hari itu tak berlalu dari hadapanku meski mungkin jarak

kan

memisahkan

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam lelehan air mata yang mengalir demikian deras mengingat segala kebaikan yang pernah kalian hantarkan padaku

 

untuk itu

 

Kusampaikan
segala doa agar Allah SWT berkenan membalas segalanya dengan balasan
yang lebih baik di akhirat kelak karena mungkin ku tak

kan

mampu membalasnya

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam pintalan kasih yang terajut dalam simfoni indah tanpa sekat syak wa sangka

 

untuk itu

 

Kusampaikan
segala maaf atas kelebatan dzon yang sempat bersemayam dalam dada
karena sejatinya aku hanyalah seorang manusia dhaif yang penuh khilaf

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam alunan kesyukuran atas segala iradahNya yang telah mempertemukan kita

 

untuk itu

 

Kusampaikan
segala harap agar tali-tali ukhuwah yang telah tersambung tiada pernah
dapat terputus walau tuntutan roda kehidupan terus memburu

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam eksotika keindahan cinta berbalut pesona setiap detail kuasa Ilahi atas seluruh alur yang kita lalui

 

untuk itu

 

Kusampaikan segala tutur tuk tebarkan jutaan ibroh pada semesta dengan penuh keikhlasan dan kelapangan dada

 

 

 

Kutuliskan

surat

ini dalam guratan secercah sinar yang menelisik jernih dalam sudut-sudut hatiku

 

untuk itu

 

Kusampaikan segala senyum tulus dan terindah kalian seluruh sahabatku di hari bahagiaku…

 

 

 

 

 

 

Alhamdulillah,
sebagaimana Allah SWT telah mempertemukan Adam AS dengan Siti Hawa di
Padang Arafah dalam iradahNya…semoga Allah SWT juga meridhoi kami :

…read more…

Maut itu…

February 14th, 2008 by daffahanif

“Cukuplah kematian itu sebagai
nasehat.”
[HR. Thabrani-Baihaqi]

 

Maut.
Manusia mana di belahan bumi ini yang dapat menghindar ketika Izrail telah
datang memanggil? Beribu mil jauhnya manusia berusaha lari dari maut, beribu
mil itu pula dengan sigap ia akan menghadang di ujung jalan. Jika kini dengan
pelbagai teknologi di bidang kedokteran sebuah kelahiran dapat ditentukan dan
direncanakan, maka tidak demikian halnya dengan maut. Secanggih apapun
instrumen diagnosis, tidak ada satu pun yang dapat memberikan prognosis pasti
mengenai sebuah kematian. Pun ia, tak mesti didahului oleh sebuah sakit yang
mendera. Ia bisa menjemput kala kita sedang terlelap tidur, berkumpul bersama
keluarga, atau bermacam kesibukan lainnya.

…read more…

Energi Sebuah Maaf

January 8th, 2008 by daffahanif

Dalam fase perjalanan
hidup seorang insan di dunia rasanya tiada yang tak pernah merasakan sesuatu
yang bernama perselisihan. Entah bagaimana akhir kisah dari perselisihan
tersebut pastinya akan sempat menorehkan sebuah luka di hati. Ada dua pilihan penatalaksanaan dari luka
tersebut ; pertama tetap membiarkan luka tersebut ada di dalam hati, dan kedua
menutup serta merawat luka tersebut dengan kata ajaib bertitel maaf.

Sejatinya luka yang
apabila tetap dibiarkan, mungkin dapat menyembuh tetapi sungguh penyembuhannya tidak
akan sesempurna bila dibandingkan dengan luka yang dirawat. Hasil akhirnya
sungguh memiliki perbedaan yang signifikan. Luka di kulit yang dibiarkan
terbuka biasanya akan meninggalkan noktah atau hingga yang paling parah adalah
berupa jaringan parut. Namun, luka di kulit yang dirawat dengan baik dapat
menyembuh hingga strukturnya kembali seperti semula. Memang, untuk merawat luka
tentunya dibutuhkan tenaga juga waktu, tetapi apalah arti dari kesemuanya itu
bila hasil akhir yang didapatkan akan lebih baik bila dibandingkan dengan hanya
membiarkan luka yang ada?

…read more…

Kangen!!!

January 4th, 2008 by daffahanif

Tadi
pagi, saya sempat melihat-lihat profil Friendster seorang adik kelas angkatan
2003 yang saat ini masih menjalani masa ko-asisten di kampus. Adik kelas saya
ini dulunya adalah anak buah saya ketika saya menjadi koordinator biro
kemahasiswaan senat mahasiswa FKG UI periode 2004-2005. Kini, dia telah
menjabat sebagai ketua senat mahasiswa FKG UI. Di profilnya tersebut, saya
mendapati banyak sekali foto-foto kegiatan kemahasiswaan kampus.

…read more…

Kontemplasi

December 26th, 2007 by daffahanif

Detik…telah berkumpul menjadi menit

Menit…telah bersatu menjadi jam

Jam…telah melebur menjadi hari

Hari…telah bertambah menjadi bulan

Bulan…telah berjalan menjadi tahun

 

…dan nikmat Tuhanmu manakah yang
kau dustakan?…

 

Allah…

Demikian melimpah kasih yang telah
Kau curahkan pada manusia dhaif ini

Adakah jalan yang lebih indah
dibandingkan jalan yang telah Kau tunjukkan

Meski berliku dan harus melaluinya dengan
ketertatihan

Sejatinya, itulah caraMu mencintaku

 

Allah…

Jauhkan hamba dari segala noktah
yang kerap menodai jiwa

Hempaskan gelimang thaghut yang berkelibat
tanpa sangka

Musnahkan seluruh bara yang menjadi
hijab di antara kita

Harapku, miliki sayap tuk kepakkan
ke ‘Arasy…jumpaiMu…

 

Allah…

Sungguh kupinta,

Hanya ingin dalam belaimu

Sekali lagi…

Jangan henti ajari memujiMu

Dalam tiap debaran…dalam tiap
getaran..dalam tiap kerlipan…

Tak ingin khianati rahman dan
rahimMu

Karena ku selalu yakini

Dalam dada pecinta sejati, tak

kan

terkumpul dua hati

 

*tiap detik adalah Anugerah…tiap tawa adalah
Karunia…dan tiap tetes air mata adalah Cinta… hari ini ruh baru telah lahir
kembali, tak ada yang bisa berpulang ke masa lampau, tapi selalu akan ada
kesempatan untuk memulai masa depan…semoga*


 

…special thanks
to : Bul’e, Bang Anca, Deasyku, Fathy, Bang Nanda, Icha, Diyas, Unce Marunce,
Tante Ida, Om Dhan, Jeng Dewi, Fitri, Meita, Andhika, Bang Ridho, Putri, Uda
Ipeng, Bang Ipin, Mba Ut, Thea, Donna, Pak’e Aroeng, Desly, Tia, Indah, Mba
Desan, Ditha [atas SMS dan teleponnya : sort by chronological order] ; Adis,
Ita, Yudha, Dian, Ranny, Mba Roza, Mba Retno, Mba Intan, Luiz [atas offline
message di Y!M], Mas Novi, Mas Haryo, Azhar, Idzma, Ka Samsul, Any, Tity,
Setta, Mba Wiet, Bunda Nila Aura, Wilda, Bunda Ira, Bunda Nila, Mas Riza, Dr.
Ady [atas message dan komennya di FS] ; Andik [atas kirimannya]…

…Born to Love…

December 19th, 2007 by daffahanif

We were born to
love.

We were not born
to suffer.

There are times
when we will meet people who are heartless, and we feel like hitting them from
behind. But, we were not born to hurt others.

There are times
when we will meet people who are heartless, and we feel insecured, or stifled. But,
we were not born to be hurt by others.

 

Sometimes, we
create another person inside us.

Perhaps that is
just a way of escaping from pain and suffering.

Perhaps we are
only preparing ourselves for escape.

Shutting
ourselves and running to another place, in order to talk to that other person,
the friend inside us.

That is why no
one is ever alone.

Everyone of us
has a friend, the person inside of us.

There are times
when we think that friend is bad company, that he is cowardly and cruel.

But in reality
it is different.

The one that is
cowardly and cruel is not our friend, but ourselves.

Why? Because in
truth, the existence of that friend is created by us for our own sake.

That is why, we
have to part with that wonderful friend.

If we don’t do
so, we will always dependent on that person inside us.

 

So, when will
that happen?

It will happen
when we meet the person we love.

When we give up
loneliness, sorrow, pain, and the person inside us for that person that we love.

Let’s go look
for the one we love.

Someone who love
whom can talk to about anything, to laugh with, to cry with, to hold each
other.

Someone from
whom we can courage from, and to whom we can give courage in return.

Cause, the only
reason we were born is to love…