Minggu ini
tampaknya merupakan minggu dengan hari-hari serba kejadian pertama yang aku
alami.
Dimulai di
hari Senin adalah hari pertama aku masuk klinik prostodonsi atau pembuatan gigi
palsu. Dengan kedua mata yang menyembab karena habis menangis semalamam, aku
tiba di kampus pukul 7 tepat. Kontan saja hal ini menimbulkan pertanyaan pada
beberapa orang temanku. Teman-teman segrupku yang telah mengetahui masalah yang
sedang aku alami langsung mengira mataku sembab karena menangis akibat masalah
tersebut dan teman-teman lain yang tidak mengetahuinya mengira aku sedang dalam
kondisi sakit. Entah kenapa di hari pertama yang harusnya aku semangat untuk
memulai pekerjaan prostoku, tetapi justru sebaliknya aku malah tidak punya
semangat sama sekali. Bahkan di kala teman-temanku berlomba-lomba mendatangkan
pasien untuk dilakukan indikasi, aku malah masih termangu tak tahu harus
berbuat apa. I don’t know, this isn’t a real me!Tiba-tiba dengan spontan, aku
memutuskan untuk ikut-ikutan memanggil pasienku untuk datang pada hari itu.
Kutelepon dia dan memintanya untuk datang, alhasil dia bisa datang pada siang
hari nanti sekitar pukul 11 janjinya. OK, kalau begitu aku masih punya waktu
untuk mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk indikasi pasien. Ku bergegas naik ke lantai empat untuk
mengambil peralatanku yang disimpan di loker [masih dengan ketermanguan]. Sudah
lama juga aku tidak mengurusi semua peralatanku karena hampir 4 bulan aku tidak
bertugas di klinik yang harus berhadapan dengan pasien. Karena aku juga bingung
dengan alat-alat yang dibutuhkan apa saja, akhirnya satu boks alat yang
beratnya lumayan itu aku bawa turun ke klinik. Wuih, mengira semuanya sudah
lengkap, ternyata alat-alat yang kecil tapi krusial seperti sarung tangan dan masker
justru malah kulupakan! Alhasil, jadilah aku kesana kemari mencari pinjaman
sarung tangan [actually, I’ve borrowed it ;)] Setelah semua kupikir lengkap,
masih dengan ketermanguan, aku memperhatikan teman-temanku yang sedang bekerja.
Subhanallah! Semangat kerja mereka sangat tinggi!Aku tidak tahu, mengapa
tiba-tiba semangat kerjaku malahan turun dratis seperti ini. Charles Jourdanku
sudah menunjukkan pukul 11, kuajak temanku Eveline untuk menunggu pasienku dan
pasiennya datang di depan RS Gigi dan Mulut. Alhamdulillah, tak perlu menunggu
terlalu lama ternyata mereka sudah tiba di depan RS. Langsung saja ku ajak
mereka ke klinik prosto. Setelah meminta izin kepada supervisorku untuk
indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian, beliau menyuruhku untuk mencetak
pasienku. Dan pada titik inilah, untuk pertama kalinya aku mencetak pasien
untuk pembuatan gigi tiruan.
Hari Selasa, ketika akan berangkat ke kampus,
tiba-tiba saja perutku terasa sakit tak tertahankan. Rasanya tak kuat untuk
berjalan ke kampus, padahal hari itu adalah hari pertamaku masuk klinik Bedah
Mulut. Wuih, alhasil harus izin dan seharian tiduran di rumah.
Keesokan harinya, hari Rabu adalah hari pertama Ramadhan.
Meski masih terasa sakit dan kondisi badan yang lemas, aku tetap berusaha untuk
menjalankan shaum pertama ini. Ba’da Shubuh seperti tradisi tiap tahunku selama
kuliah, kupejamkan mataku barang sebentar sebelum berangkat ke kampus. Setelah
bangun, ternyata aku merasa badanku benar-benar lemas dan ku pikir tak akan
sanggup lagi untuk ke kampus. Akhirnya kuputuskan untuk tidak berangkat ke kampus lagi! Rekor!Ini adalah
pertama kalinya selama masa klinikku, aku tidak masuk selama dua hari
berturut-turut [tanpa merasa ada beban karena memang belum dapat giliran
kerja].
Hari Kamisnya, setelah merasa badanku benar-benar
kuat, akhirnya aku dapat berangkat ke kampus. Sudah dapat kutebak, teman-teman
segrupku pasti bertanya alasan sakitku apa sehingga tidak masuk selama dua hari
berturut-turut. Aku yang ditanya cuma bisa senyam-senyum, karena sesungguhnya
memang aku juga tidak tahu aku sakit apa. Dokter bilang ada sedikit gangguan
pencernaan. Mungkin ada benarnya juga, tapi sepertinya lantas diperberat oleh
gejala psikosomatis akibat masalah-masalah yang menderaku selama beberapa
minggu ini. Karena hari Kamis adalah jadwal aku bekerja di klinik prosto, aku
mengajak mamaku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan jembatan. Lagi-lagi ini
adalah momen pertamaku mengajak mama ke kampus untuk dirawat gigi.
Hari Jumat adalah jadwal klinik Orthodonti yang
berarti bagi sebagian besar mahasiswa klinik adalah hari santai atau hari
’ngacir’ ke bagian lain untuk menyelesaikan requirement dan jadwalku sendiri di
klinik Ortho hari ini tidak terlalu padat karena tidak ada diskusi. Seusai
aktivasi kawat ortho pasienku, tepat pukul 12 aku bergegas ke lantai 4 menemui
adik-adik angkatan 2005 untuk memberikan mentoring kepada mereka sesuai dengan
amanah yang diberikan kepadaku. Ini pertama kalinya aku memegang kelompok
mentoring di kampus.
Hari Sabtu aku sudah mengatur jadwal untuk belajar
persiapan diskusi gigi tiruan penuh dengan Eveline di perpustakaan kampus.
Setelah selesai dari kampus, seorang yang baik hati mengajakku untuk ifthor di
luar yang kuterima dengan senang hati. Dimulailah petualangan ngabuburit kami
sore itu. Berawal dari Gramedia Matraman untuk mencari buku terjemahan dosen
pembimbingku. Karena tidak menemukannya di sana, aku berinisiatif untuk
mencarinya ke Sagung Seto di Pramuka. Ternyata di sana buku yang kucari juga
tidak ada. Karena waktu Ashar sudah tiba, akhirnya kami memutuskan untuk segera
pergi ke Masjid Pondok Indah untuk menunaikan sholat di sana. Seusai sholat,
aku masih penasaran untuk mencari buku tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall.
Sebetulnya sudah agak letih juga berjalan dari siang tadi, tapi aku berusaha
untuk tetap bersemangat!Fiuh, lagi-lagi ternyata di Gramedia PIM tak kutemukan
buku itu. Setelah berpikir-pikir dan menimbang cukup lama, akhirnya kami
memutuskan untuk berbuka di PIM saja untuk kemudian sholat Maghrib dan tarawih di
Masjid Pondok Indah. Ya! Ini pertama kalinya aku di mal dan tarawihan di Masjid
Pondok Indah.
Hmm….Setelah masa-masa September Kelabu,
sepertinya Sang Pertanda untuk dapat meraih hari dan semangat baru telah
datang!Teringat bait-bait motivasi dari seseorang….
A new day has started.
A new day to love and to be loved.
A new day to feel warm of the sun.
A new day to sweep all our miserables of
past.
A new day to make a new great history.
A new day to forgive our and other mistakes.
A new day to proof our quality.
A new day to make another fight.
A new day…
A new opportunities to be a better person,
to gather pahalas for ALLAH SWT’s heaven