Archive for October, 2005

Jalan Lurus

Saturday, October 29th, 2005

Aku adalah sebuah jalan, Jalan Lurus namaku.

 Sesuai dengan namaku, aku
harus lurus saja, tidak boleh berbuat lain. Sebenarnya aku tidak begitu suka
terus menerus lurus, tetapi orang-orang itu sudah terlanjur menamakanku Jalan
Lurus. Mereka suka sekali mengulang-ulang namaku yang indah, seolah-olah
meyakinkanku bahwa sudah sepantasnya aku disebut Jalan Lurus.

 Sebagai jalan tentu aku
tidak begitu suka jika tidak boleh berbuat lain kecuali berusaha untuk tetap
lurus, tetapi mau apa lagi—mereka menginginkanku demikian, sesuai dengan
namaku. Aku tidak tahu kenapa begitu, aku juga tidak tahu apakah nama itu
semacam anugerah atau kutukan, tetapi apa pula bedanya bagiku? Aku mungkin
telah dianugerahi watak untuk lurus, atau telah dikutuk untuk lurus.

 Sebenarnya, seperti sudah
kukatakan, Jalan Lurus adalah nama yang indah, setidaknya dibanding dengan
Jalan Berkelok atau Jalan Menikung—apalagi Jalan Buntu. Yang selama ini
menjadi pertanyaanku adalah kenapa mereka suka sekali mengulang-ulang menyebut
namaku entah berapa kali setiap hari. Aku tak tahu apakah dengan
menyebut-nyebut namaku mereka merasa bahagia, atau merasa nikmat—moga-moga
saja demikianlah adanya.

 Mereka mungkin tidak
mengetahui akibat semua itu bagiku, yakni bahwa apa pun yang terjadi aku harus tetap
lurus. Bagaimana, misalnya, kalau aku menjadi gila sebab tidak punya hak untuk
berbuat lain kecuali berusaha terus menerus untuk lurus? Siapa yang mau
bertanggung jawab? Apakah aku harus bertanggung jawab atas segala hal yang
diakibatkan oleh kelurusanku meskipun merekalah yang telah memberikan nama itu
untukku, hal yang sama sekali bukan kehendakku? Bayangkan, aku harus lurus
terus meskipun mendaki bukit, menuruni lembah, menyebrang padang, dan menempuh
gurun—dan tentu tidak ada di antara mereka yang mau tahu jika pada suatu hari
nanti aku capek dan tak bisa berbuat lain kecuali ikut-ikutan menyebut-nyebut
namaku sendiri, entah untuk apa.

 Aku adalah sebuah jalan,
Jalan Lurus namaku.

 

Sapardi Djoko Damono

AsA

Wednesday, October 26th, 2005

Asa
Terpendam amat dalam
Tertepis segala kegalauan
Hancurkan keraguan
Depan mata tampak meski
Jalan sulit
Namun apa
Aral membuncah
Fatamorgana pelarian
Sanggah keadaan

catatan kecil di Bedah Mulut

Wednesday, October 19th, 2005

15 Ramadhan 1426 H…Klinik Bedah Mulut hari ini dapat giliran buat anamnesa…Huiii rada deg-degan juga, soalnya temen-temen yang udah dapat giliran sebelumnya pasti kena omelan dulu sama supervisor grup kami baru dapat acc. And now it’s my turn!Dari pagi pasien sepi bangettt…kupikir giliranku masih hari Selasa minggu depan, meskipun udah siap-siap alat segala macem…ternyata pas jam sudah menunjukkan waktu 10.30 WIB, pasien-pasien baru mulai banyak yang berdatangan dan dapat deh giliranku buat anamnesa. Pas liat pasiennya…Ya Rabbi, ternyata pasienku itu sudah berumur lumayan tua, 78 tahun! Dan tidak ada seorang pun yang mengantarnya, kondisinya si kakek juga sulit agak mengkhawatirkan, dia harus mengenakan kruk untuk berjalan. Pada saat memulai pemeriksaan subyektif, dia banyak sekali bercerita mengenai keluhan giginya. Dia bercerita kalau gigi depannya patah pada saat makan daging yang ternyata di dalamnya ada tulang. Dikonsul dari bagian distribusi rumah sakit, diagnosis gigi tersebut adalah fraktur vertikal. Saat kuperiksa ternyata gigi tersebut memang goyang dan ada fraktur diagonal di bagian palatal. Setelah menlengkapi rekam mediknya, aku menghadap supervisor untuk meminta acc ditemani oleh beberapa orang teman. Seperti yang sudah-sudah, jika ada kesalahan dalam penulisan diagnosis atau pemeriksaan lain pada rekam medik, sang dokter marah-marah deh [meskipun tak terlalu besar, karena aku sudah pernah mengalami yang lebih parah dari ini]. Sang dokter kemudian menyuruhku untuk mencabut patahan gigi tersebut, baru kemudian dilakukan serangkaian tes vitalitas. Baru saja aku mencoba untuk menarik gigi tersebut dengan pinset, si kakek sudah teriak kesakitan, karena memang tidak menggunakan anestesi. Kemudian aku menghadap lagi pada supervisorku untuk menanyakan langkah selanjutnya dan akhirnya beliau sendiri yang turun tangan untuk mencabut patahan gigi tersebut. Tak diduga tak dinyana…disaksikan oleh beberapa orang temanku dan seorang residen Bedah Mulut, sang dokter kemudian mengungkit dengan cepat patahan gigi tersebut dengan menggunakan kaca mulut!!!Spontan saja, kami yang  menyaksikan hal tersebut kaget setengah hidup!Itu patahan gigi langsung terpental lumayan jauh. Ngurut dada deh ngeliatnya. Setelah itu, ternyata si kakek bilang sudah tidak terasa sakit lagi euy…Hebat!!!So???jadi Sp Bedah Mulut musti rada tega juga yah???!!!

Sahabat Sejati

Tuesday, October 18th, 2005

Mereka bertanya padaku
Tentang apa itu sahabat?
Kujawab
Sahabat itu…
Adalah sosok yang selalu berada di sisiku
Tertawa bersama saat ku bahagia
Empati dan dukungan kala ku berduka
Tak ada dengki dalam hatinya
Tak ada cerca meskipun dalam canda
Dengan bergantinya hari
Senyum baru selalu menyapaku
Perhatikanlah
Kemilau cahaya di lubuk hatiku
Yang kian benderang dengan hadirnya
Saksikanlah
Kemegahan aura surgawi
Yang terpancar dari sosokmu
Sahabatku…
Asaku tuk bersamamu
Bukan hanya di dunia
Namun juga di akhirat kelak
Bawalah aku
Ke dalam jannahNya
Karena bersamamu
Itulah
Sahabat sejati

BoRdeR MoLdiNg

Monday, October 17th, 2005

13 Ramadhan 1426 H….Hari prosto….kembali datang ke kampus dengan mata menyembab [mustinya dikompres dulu kali yah lain kali]. Agak tak semangat juga sih buat ngerjain pasien. Tapi teringat kata-kata beberapa orang bahwa aku harus SEMANGAT!!!Akhirnya, jam 8.30 tepat Bu RoHaNi, pasien gigi tiruan lepasanku datang. Hari ini udah rencana mau BorDer MoLding…this is my first time 2 do that…jadinya rada-rada deg-degan…Untungnya ada teMen dan senior yang udah pernah ngelakuin, akhirnya minta ditemenin deh sama mereka. Alhamdulillah bangettt, my First BorDer MoLDing berhasil….udah diacc sama dokternya terus disuruh langsung buat model kerja dan galangan gigit terus pasiennya disuruh pulang deh. Sebelum pulang, beliau berpesan padaku, "jangan lupa untuk banyak tahajjud ya Neng, langsung minta sama ALLAH SWT, supaya kerjaanya lancar"….Melegakan sekali…insya ALLAH bu…I Will….Karena hanya dengan Nashrullah-Nya insan yang dhaif ini bisa menjalani sisa waktu hidupnya di dunia…

Kado Istimewa di Hari 11 Ramadhan

Saturday, October 15th, 2005

 

 Hari ini hari ke 11 di bulan Ramadhan,
bulan yang penuh dengan rahmat, berkah, dan ampunan dari ALLAH SWT. Bulan di
mana setan-setan dikurung dan tiada boleh mengganggu manusia di dunia. Jikalau
pun ada kejahatan yang terjadi di bulan ini, semata-mata adalah karena dorongan
dan kebiasaan manusia yang dilakukan di sebelas bulan lainnya [begitu kata
Ustad yang kuketahui]. Sabtu ini seperti sudah kuagendakan sehari sebelumnya,
pagi hari aku berangkat ke UI Depok untuk menghadiri sebuah acara [yang dalam
prioritasku penting tentunya] kemudian siangnya sekitar jam 11 aku sudah harus
pergi dari Depok menuju kampus Salemba untuk menghadiri acara masa bimbingan
mahasiswa baru [di sini peranku sebagai pengisi acara sharing mahasiswa
berprestasi]. Pukul 09.30 tepat aku tiba di kampus Depok bersama seorang teman
yang rumahnya kebetulan sedaerah dengan rumahku. Karena acara dijadwalkan pada
pukul 09.30, maka kami bergegas untuk menuju tempat acara yang terletak di
Student Centre FE. Setibanya di sana pukul 08.58, ternyata acaranya belum
dimulai. Baru kira-kira 10 menit kemudian acaranya dimulai. Setelah waktu
menunjukkan pukul 10.20, seorang temanku mengSMS dan mengatakan kalau dia telah
menunggu di kampus Salemba. Oleh karena itu, bergegas aku meminta izin dari
acara tersebut meskipun baru selesai sesi pertama. Tiba di stasiun Pondok Cina
pukul 10.30, langsung kubeli tiket jurusan Jakarta. Setelah menunggu sekitar 15
menit KRL jurusan Jakarta pun tiba.

 Perkiraanku mengenai KRL
ternyata salah besar!KRL menuju Jakarta yang kukira akan relatif sepi ternyata
justru sebaliknya ramai dan begitu berdesakan. Cukup sulit juga untuk memasuki
KRL dalam keadaan berdesakan seperti itu apalagi untuk masuk lebih dalam.
Akhirnya kupilih posisi di dekat pintu keluar agar mudah juga nantinya ketika
turun. Mengingat pesan papa dan mamaku agar selalu berhati-hati akan kejahatan
yang terjadi mendekati Lebaran ini, aku juga bersiaga untuk mendekap tasku yang
di dalamnya berisi dompet, sedangkan kedua HP seperti biasa kutaruh di saku rok
sebelah kanan. KRL yang begitu berdesakannya membuat posisi berdiriku agak
kurang stabil, tapi untungnya aku bisa meraih pegangan. Di sebelah kiriku
berdiri seorang wanita berjilbab dan di sebelah kananku ada seorang pria berumur
40an. Ada yang aneh sebetulnya pada pria yang berdiri di sebelahku ini. Setelah
melewati stasiun UI, dia merubah posisinya yang tadinya berdiri bersebelahan
denganku kemudian dia memutar 90 derajat ke kiri hingga sekarang posisiku tepat
di depannya. Sebetulnya hatiku agak was was juga dengan berubahnya posisi pria
ini karena sepengetahuanku tidak sedikit pelecehan seksual yang terjadi di
dalam bus atau KRL dalam keadaan berdesakan seperti ini. Ditambah lagi,
posisiku saat itu benar-benar terjepit hingga sisi kanan tubuhku benar-benar
menyentuh badan pria tersebut. Namun, aku tetap berpikir positif karena ini
adalah bulan Ramadhan. Ya, mungkin juga pikiran yang terlalu naif, berpikir
bahwa tidak akan ada kejahatan yang dilakukan di bulan ini. Begitu KRL tiba di
stasiun Lenteng Agung, pria tersebut turun. Cukup lega hatiku dengan turunnya
dia sehingga aku bisa berdiri tanpa terjepit oleh tubuhnya. Namun, ada sesuatu
yang membuatku kembali was was. Ada sebuah dorongan untuk meraba saku rokku di
mana aku meletakkan HP. Dan ternyata kekhawatiranku benar adanya! Nokia 6600ku
yang mengisi lebih dari separuh saku rokku ternyata sudah tidak ada lagi di
sana. Sekujur badanku langsung melemas tapi aku masih harus bersyukur karena si
pencopet tidak mengambil juga Nokia 3610 yang juga kutaruh di dalam saku rok
dan dompetku yang ada di dalam tas. Mungkin kalau dia mengambilnya juga,
seketika itu juga aku akan langsung pingsan di dalam KRL dan menjadi tontonan
orang banyak.

 Ini kedua kalinya aku
kehilangan HP dengan cara dicuri orang. Kejadian pertama terjadi kurang lebih
dua tahun yang lalu di mana Nokia 6100ku beserta dompet yang di dalamnya
kutaruh cincin pemberian dari tanteku hilang setelah aku menitipkan tas pada
seorang wanita berjilbab yang tak kukenal untuk berwudhu di Masjid Arif Rahman
Hakim. Kejadian saat itu betul-betul menyesakkan dada karena HP itu baru
berumur dua minggu dan semua nomor yang ada di sana otomatis raib. Untuk
mengumpulkan lagi nomor-nomor itu, aku pun harus mentrace satu persatu dari
tagihan HaLOku. Pasca kejadian tersebut, lantas aku membuat back up dari
nomor-nomor tersebut. Mungkin juga firasat akan kehilangan ini sudah ada
semenjak dua minggu yang lalu. Entah kenapa rasanya aku begitu gemas untuk
mengupdate nomor-nomor yang kusave di komputer. Kemudian semalamnya, sempat
terlintas juga di benakku untuk mentransfer semua foto-foto yang ada di Hpku ke
komputer dan kemudian aku burn ke CD. Ya,
tapi semua yang namanya firasat, feeling, atau apalah nama lainnya tak akan
berguna jikalau kita tak mempercayainya dan menjadi lebih berhati-hati
karenanya. Seringkali aku mendapatkan ’feeling’ mengenai sesuatu, seringkali
pula aku tak begitu menghiraukannya, dan seringkali itu pula terjadi kejadian
yang berkaitan dengan ’feeling’ tersebut.

 Nokia 6600ku sudah setahun lebih menemani
perjalanan hidupku.
Dari
kenangan manis hingga tragedi yang baru-baru saja terjadi menimpa diriku
berawal dari sana. Ya, mungkin memang sudah saatnya diriku memulai hari yang
baru dengan mengikis semua kenangan mengenai segala kejadian tersebut bersama
hilangnya Nokia 6600ku.  Aku berusaha
untuk berlapang dada karenanya, tapi ternyata tidak demikian dengan kedua orang
tuaku. Mereka amat terpukul dengan kejadian ini. Ya, aku sungguh mahfum dengan
kesedihan mereka, karena zaman yang kian sulit. Ditambah lagi, statusku yang
masih menjadi mahasiswa dan notabene belum bisa mencari penghasilan sendiri.
Ditambah tambah lagi, sekarang aku sedang ditempatkan di bagian Prostodonti
[gigi tiruan] yang notabene lagi harus bisa membayari pasien sendiri jika ingin
menyelesaikan requirement pendidikan dokter gigi tepat waktu, karena
mengharapkan pasien akan datang sendiri ke klinik Prostodonti di Rumah Sakit
Gigi dan Mulut FKG UI untuk dibuatkan gigi tiruan sangat kecil sekali
kemungkinannya.

 Ya…kucoba tuk mengambil
hikmah yang tersirat dari kejadian ini. Semuanya sudah ada dalam skenario ALLAH
SWT dan aku harus bersabar atasnya. Semoga kejadian ini akan membuatku menjadi
sosok yang lebih berhati-hati lagi, tidak begitu mudah percaya pada orang, dan
yang terpenting adalah trust to your feeling…

 

 ”Tidaklah ALLAH membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”
(QS. 2:286)

Semangat si Abang Bajaj

Saturday, October 15th, 2005

Seusai
menghadiri acara ifthor senat kemarin, seperti biasa aku pulang dengan menaiki
bajaj dari kampus Salemba menuju Kota Bambu [yang kata sebagian besar temanku
impossible banget]. Jalan Salemba Raya
pada pukul 20.00 semalam cukup lengang, mungkin karena sebagian besar orang
sedang melaksanakan shalat tarawih. Begitu ada bajaj yang lewat langsung saja
kustop. Penampilan abang bajaj yang kuberhentikan ini masih muda dan cukup
bersih. Setelah proses tawar menawar dan harga disetujui, naiklah aku di bajaj
itu. Baru sampai di RS M Ridwan Meuraksa, tiba-tiba si abang bajaj itu bertanya
sesuatu padaku. Dia bertanya padaku apakah aku mengetahui info kursus komputer
yang ada di Bina Sarana Informatika yang ada di jalan Kramat Raya. Pertamanya
kujawab saja sekenaku dengan mengatakan bahwa benar di sana juga menyelenggarakan kursus komputer. Selanjutnya si abang dengan logat Tegal
yang kental berkata lagi padaku bahwa dia sangat ingin untuk mengikuti kursusu
komputer di Bina Sarana Informatika. Kemudian yang terjadi adalah si abang
berbicara banyak tentang dirinya. Dari perbincangan tersebut aku mengetahui
bahwa dia lulusan sebuah SMEA di Tegal dan lulus pada tahun 2001. Itu berarti
si abang bajaj ini seumuran denganku. Setelah lulus dia langsung pindah ke Jakarta
untuk mencari uang. Tahun pertama di
Jakarta, dia diterima di PT ASABA [yang direkturnya tempo hari ditembak orang].
Setelah setahun bekerja, dia harus kena PHK karena adanya pengurangan tenaga
kerja. Kemudian dia menganggur untuk beberapa lama hingga akhirnya dia diterima
bekerja di Dekorasi Catering [sebuah catering yang cukup terkenal di Jakarta].
Di sana dia hanya bertahan selama setahun juga. Selanjutnya sudah enam bulan
ini dia narik bajaj di Jakarta. Di Jakarta, dia mengaku mengontrak bersama
teman-teman satu kampungnya di daerah Tawakal Ujung, Grogol, sedangkan
orangtuanya tetap berada di kampung. Selain itu, di sini dia memiliki seorang
kakak yang tinggal di daerah Bekasi dan bekerja sebagai Kepala Mekanik di PT
Sosro. Namun, dari pengakuannya, kakaknya tersebut tidak mau membantu dia untuk
mencarikan pekerjaan karena kakaknya ingin dia untuk mandiri. Alhasil, dia kini
sedang berusaha untuk mencari pekerjaan lagi dan menambah ketrampilannya dengan
mengikuti kursus komputer. Karena belum ada biaya, dia berusaha untuk mencari
uang dengan menarik bajaj.

Dalam perjalanan Salemba-Kota Bambu semalam, si
abang bajaj terus saja mengungkapkan keinginannya padaku untuk mengikuti kursus
komputer di Bina Sarana Informatika karena dia mendengar dari banyak orang
bahwa setelah mengikuti kursus di sana dapat dengan mudah mendapatkan
pekerjaan. Dia bilang bahwa dia memiliki sebuah cita-cita, jikalau nanti
uangnya untuk kursus sudah mencukupi dia akan mengikuti kursus komputer dan
setelahnya dia akan mencoba mencari pekerjaan di instansi pemerintah dan
menjadi pegawai negeri. Ini pertama kalinya aku menaiki bajaj dengan sopir yang
masih memiliki semangat belajar seperti ini. Mungkin juga karena rata-rata
bajaj di Jakarta yang pernah aku naiki sebagian besar disopiri oleh orang-orang
paruh baya. Namun, ada satu hal menarik yang bisa kuambil dari si abang bajaj
ini adalah semangat yang begitu membara dalam dirinya untuk belajar dan
mencapai cita-citanya. Subhanallah, ALLAH telah memberiku dorongan untuk
memupuk kembali semangatku yang akhir-akhir ini agak memudar lewat seorang
sopir bajaj. Jikalau si abang bajaj yang tidak memiliki biaya untuk kursus
komputer pun saja mempunyai ambisi yang menggebu seperti itu [sampai-sampai
ketika kami melewati jembatan Jati Baru yang demikian tinggi, dia memukul
bajajnya sambil berkata ”ayo, kamu bisa!ayo, buat cari uang kursus!”], mengapa
diriku yang Insya ALLAH masih memiliki orang tua yang mampu membiayaiku untuk
kuliah malah tidak bersemangat untuk menjalaninya???Just because I have many
problems outside my study, doesn’t mean that I lose my courage 2…Keep smile n
spirit!!!

 

Tidak
ada kata putus asa dalam perjuangan bagi Jundullah

Dan
tidak ada kata kalah bagi mujahid yang menjual dirinya di jalan Allah

Yang
ada adalah semangat untuk terus berjuang!

 

ScHWabiNg

Friday, October 14th, 2005

   

         

      

Sudah
10 hari Ramadhan berlalu…dan kalau dihitung-hitung ternyata baru 4
hari ifthor di rumah [yang ini bikin orang rumah ngedumel mulu jadinya], selebihnya ifthor di luaran terus. Kemarin itu
jatahnya grup klinikku, bersepuluh orang, ngadain ifthor jama’i. Meski
ada 4 orang anggota grupku yang non muslim dan 3 orang yang sedang
berhalangan untuk shaum, rencana kami buat ifthor jama’i tetap jadi.
Sesuai dengan rencana, setelah sebelumnya reservasi tempat di restoran
Schwabing, Plangi [Plasa Semanggi] kami pergi ke lokasi seusai bekerja
di klinik Prosto. Dengan menaiki dua mobil, konvoilah kami ke Plangi.
Namun, berhubung mobil yang satunya disetirin sama temenku yang baru
belajar mobil [sorry ya Dit :p], perjalanannya jadi rada lambat karena
musti nunggunin mobilnya dia dulu. Setibanya di Sudirman, karena ini
jalan udah familiar banget pastinya, aku yang berada di rombongan mobil
depan, langsung saja melaju tanpa menunggu mobil yang satunya.
Perjalanan ke Plangi cukup lancar dan hanya membutuhkan waktu kurang
lebih 15 menit buat sampe di sana mulai dari masuk Sudirman. Sampai di
Plangi, yah dasar cewe’ kalo udah ngeliat barang-barang lucu, lama deh
nyangkutnya. Alhasil, sementara nungguin rombongan di mobil satunya
yang ternyata nyasar saudara2!, rombongan cewe-cewe di mobil satu,
nyangkut dulu deh di CenTro…kalo buatku sih, cuci mata kayak gitu
cuma bikin sakit hati euy…harganya gak nahan bangeddd…mendingan
buat bayarin pasien gigi tiruan deh :D…Waktu sudah menunjukkan pukul
17.10, akhirnya tiba juga tu rombongan mobil kedua dan langsung aja
kami naik ke Schwabing yang terletak di lantai 5 Plangi….Kenapa
milihnya di Schwabing???kebetuLan banget pas lagi nyari-nyari resto
buat ifthor yang asik tempatnya dan deket juga tempat sholatnya pas
liat iklan tuh resto di Media Indonesia…dan promonya cukup
menggiurkan juga…paket buka puasa buffet seharga Rp. 33.000, ya
lumayan lah buat resto sekelas buffet kan sekarang minimal musti
ngeluarin kocek Rp.39.000. Udah gitu, dari nama restonya aja kan
berbau2 Jerman gitu, jadi berharap bakalan dapet buffet makanan khas
Jerman gitu deh. Berhubung sepertinya meja-meja di resto itu rata-rata
reservasi semua dan orangnya belum pada datang, jadilah kami pengunjung
pertama di sana. Grupku yang memang pada dasarnya udah rame, ditambah
lagi restonya masih sepi, jadilah kami yang paling heboh di itu resto.
Ketawa ketiwi, ngobrolin masalah klinik, dll. Pas jam berbuka masuk,
pelayannya langsung menghidangkan kami ta’jil berupa kolak
kolang-kaling. Asik juga rasanya. Setelah nunggu temen-temen Magriban,
langsung aja deh kami menyerbu menu buffet yang ada. Dannn ternyata
saudara2!menunya berasa di walimahan gitu…makanan Indonesia
bangettt…ya ada sih satu menunya bentuknya kayak sate gitu yang
namanya berbau-bau Jerman. Usut punya usut, setelah kami lihat daftar
menu non buffetnya, ternyata benar itu namanya Sate Germany, dan harga
satuannya Rp.22.000!Huehehehehe…heboh deh. Tak cuma sampai di situ,
berhubung minumanku sudah habis dan pas ditanya ke pelayannya gak bisa
refill :D, jadilah kami bertiga, aku, Dewi, dan Eve memesan Es Teh
Tawar dengan harapan itu adalah minuman termurah. Namun, ternyata kami
salah besar, pas udah selesai minta bill itu Es Teh Tawar ternyat
dihargain Rp.15.000! Wah wah wah….kalo di kampus mah bisa dapet 7
gelas Es Teh Manis pula…But, never mind deh, sekali-kali, buat jadi
pelajaran juga!Teliti sebelum memesan :D…Buat anak-anak CD’01…tetep
kompakan yah!!!NiCe 2 HavE u All :)

Minggu Serba Pertama…

Monday, October 10th, 2005

 Minggu ini
tampaknya merupakan minggu dengan hari-hari serba kejadian pertama yang aku
alami.

Dimulai di
hari Senin adalah hari pertama aku masuk klinik prostodonsi atau pembuatan gigi
palsu. Dengan kedua mata yang menyembab karena habis menangis semalamam, aku
tiba di kampus pukul 7 tepat. Kontan saja hal ini menimbulkan pertanyaan pada
beberapa orang temanku. Teman-teman segrupku yang telah mengetahui masalah yang
sedang aku alami langsung mengira mataku sembab karena menangis akibat masalah
tersebut dan teman-teman lain yang tidak mengetahuinya mengira aku sedang dalam
kondisi sakit. Entah kenapa di hari pertama yang harusnya aku semangat untuk
memulai pekerjaan prostoku, tetapi justru sebaliknya aku malah tidak punya
semangat sama sekali. Bahkan di kala teman-temanku berlomba-lomba mendatangkan
pasien untuk dilakukan indikasi, aku malah masih termangu tak tahu harus
berbuat apa. I don’t know, this isn’t a real me!Tiba-tiba dengan spontan, aku
memutuskan untuk ikut-ikutan memanggil pasienku untuk datang pada hari itu.
Kutelepon dia dan memintanya untuk datang, alhasil dia bisa datang pada siang
hari nanti sekitar pukul 11 janjinya. OK, kalau begitu aku masih punya waktu
untuk mempersiapkan segala peralatan yang dibutuhkan untuk indikasi pasien. Ku bergegas naik ke lantai empat untuk
mengambil peralatanku yang disimpan di loker [masih dengan ketermanguan]. Sudah
lama juga aku tidak mengurusi semua peralatanku karena hampir 4 bulan aku tidak
bertugas di klinik yang harus berhadapan dengan pasien. Karena aku juga bingung
dengan alat-alat yang dibutuhkan apa saja, akhirnya satu boks alat yang
beratnya lumayan itu aku bawa turun ke klinik. Wuih, mengira semuanya sudah
lengkap, ternyata alat-alat yang kecil tapi krusial seperti sarung tangan dan masker
justru malah kulupakan! Alhasil, jadilah aku kesana kemari mencari pinjaman
sarung tangan [actually, I’ve borrowed it ;)] Setelah semua kupikir lengkap,
masih dengan ketermanguan, aku memperhatikan teman-temanku yang sedang bekerja.
Subhanallah! Semangat kerja mereka sangat tinggi!Aku tidak tahu, mengapa
tiba-tiba semangat kerjaku malahan turun dratis seperti ini. Charles Jourdanku
sudah menunjukkan pukul 11, kuajak temanku Eveline untuk menunggu pasienku dan
pasiennya datang di depan RS Gigi dan Mulut. Alhamdulillah, tak perlu menunggu
terlalu lama ternyata mereka sudah tiba di depan RS. Langsung saja ku ajak
mereka ke klinik prosto. Setelah meminta izin kepada supervisorku untuk
indikasi pembuatan gigi tiruan sebagian, beliau menyuruhku untuk mencetak
pasienku. Dan pada titik inilah, untuk pertama kalinya aku mencetak pasien
untuk pembuatan gigi tiruan.

Hari Selasa, ketika akan berangkat ke kampus,
tiba-tiba saja perutku terasa sakit tak tertahankan. Rasanya tak kuat untuk
berjalan ke kampus, padahal hari itu adalah hari pertamaku masuk klinik Bedah
Mulut. Wuih, alhasil harus izin dan seharian tiduran di rumah.

Keesokan harinya, hari Rabu adalah hari pertama Ramadhan.
Meski masih terasa sakit dan kondisi badan yang lemas, aku tetap berusaha untuk
menjalankan shaum pertama ini. Ba’da Shubuh seperti tradisi tiap tahunku selama
kuliah, kupejamkan mataku barang sebentar sebelum berangkat ke kampus. Setelah
bangun, ternyata aku merasa badanku benar-benar lemas dan ku pikir tak akan
sanggup lagi untuk ke kampus.
Akhirnya kuputuskan untuk tidak berangkat ke kampus lagi! Rekor!Ini adalah
pertama kalinya selama masa klinikku, aku tidak masuk selama dua hari
berturut-turut [tanpa merasa ada beban karena memang belum dapat giliran
kerja].

Hari Kamisnya, setelah merasa badanku benar-benar
kuat, akhirnya aku dapat berangkat ke kampus. Sudah dapat kutebak, teman-teman
segrupku pasti bertanya alasan sakitku apa sehingga tidak masuk selama dua hari
berturut-turut. Aku yang ditanya cuma bisa senyam-senyum, karena sesungguhnya
memang aku juga tidak tahu aku sakit apa. Dokter bilang ada sedikit gangguan
pencernaan. Mungkin ada benarnya juga, tapi sepertinya lantas diperberat oleh
gejala psikosomatis akibat masalah-masalah yang menderaku selama beberapa
minggu ini. Karena hari Kamis adalah jadwal aku bekerja di klinik prosto, aku
mengajak mamaku untuk indikasi pembuatan gigi tiruan jembatan. Lagi-lagi ini
adalah momen pertamaku mengajak mama ke kampus untuk dirawat gigi.

Hari Jumat adalah jadwal klinik Orthodonti yang
berarti bagi sebagian besar mahasiswa klinik adalah hari santai atau hari
’ngacir’ ke bagian lain untuk menyelesaikan requirement dan jadwalku sendiri di
klinik Ortho hari ini tidak terlalu padat karena tidak ada diskusi. Seusai
aktivasi kawat ortho pasienku, tepat pukul 12 aku bergegas ke lantai 4 menemui
adik-adik angkatan 2005 untuk memberikan mentoring kepada mereka sesuai dengan
amanah yang diberikan kepadaku. Ini pertama kalinya aku memegang kelompok
mentoring di kampus.

Hari Sabtu aku sudah mengatur jadwal untuk belajar
persiapan diskusi gigi tiruan penuh dengan Eveline di perpustakaan kampus.
Setelah selesai dari kampus, seorang yang baik hati mengajakku untuk ifthor di
luar yang kuterima dengan senang hati. Dimulailah petualangan ngabuburit kami
sore itu. Berawal dari Gramedia Matraman untuk mencari buku terjemahan dosen
pembimbingku. Karena tidak menemukannya di sana, aku berinisiatif untuk
mencarinya ke Sagung Seto di Pramuka. Ternyata di sana buku yang kucari juga
tidak ada. Karena waktu Ashar sudah tiba, akhirnya kami memutuskan untuk segera
pergi ke Masjid Pondok Indah untuk menunaikan sholat di sana. Seusai sholat,
aku masih penasaran untuk mencari buku tersebut di Gramedia Pondok Indah Mall.
Sebetulnya sudah agak letih juga berjalan dari siang tadi, tapi aku berusaha
untuk tetap bersemangat!Fiuh, lagi-lagi ternyata di Gramedia PIM tak kutemukan
buku itu. Setelah berpikir-pikir dan menimbang cukup lama, akhirnya kami
memutuskan untuk berbuka di PIM saja untuk kemudian sholat Maghrib dan tarawih di
Masjid Pondok Indah. Ya! Ini pertama kalinya aku di mal dan tarawihan di Masjid
Pondok Indah.

Hmm….Setelah masa-masa September Kelabu,
sepertinya Sang Pertanda untuk dapat meraih hari dan semangat baru telah
datang!Teringat bait-bait motivasi dari seseorang….

A new day has started.

A new day to love and to be loved.

A new day to feel warm of the sun.

A new day to sweep all our miserables of
past.

A new day to make a new great history.

A new day to forgive our and other mistakes.

A new day to proof our quality.

A new day to make another fight.

A new day…

A new opportunities to be a better person,

to gather pahalas for ALLAH SWT’s heaven

 

BuBaR

Friday, October 7th, 2005

Hari ini tanggal 3 Ramadhan 1426 H atau tanggal 7 Oktober 2005…baru 2 hari ifthor di rumah, tapi rasanya udah males…bawaannya mau cari ifthor jama’i alias open together :D…enaknya ke mana yah? yang tempatnya asik, deket sama masjid juga biar bisa Magriban n tarawehan???