Archive for December, 2005

Ukhuwah

Saturday, December 31st, 2005

Kenapa ya?
Tempuh jarak melibas waktu
Hanya untuk satu sua
Kenapa ya?
Berpeluh-peluh dalam perjalanan
Hanya untuk mengucap salam
Kenapa ya?
Tak ada buruk sangka itu
Yang ada hanyalah kepercayaan
Itulah ukhuwah
Ukhuwah yang menyatukan hati
Ukhuwah yang memperpendek jarak
Ukhuwah yang tak lekang oleh waktu

Selembar Jilbab Hijau

Wednesday, December 28th, 2005

Setelah berpeluh menanti
Sesudah keletihan memudar
Seusai percikan-percikan kepercayaan
Kucoba tuk kembali menumbuhkan
Akhirnya
Kau datang
Walaupun tlah kukira sebelumnya
Namun tak mengapa
Subhanallah
Kau hadir
Tanpa tangan hampa
Kau datang
Dari sebuah perjalanan panjang
Hanya untuk
Selembar jilbab hijau
Warna yang menentramkan hati
Kau berikan untukku
Sebagai tanda ikatan
Persaudaraan yang takkan usang
Dimakan oleh masa

-Teruntuk saudaraku, Terima kasih atas pengorbanan yang telah diberikan, Keep istiqomah-

Memoar Sepotong Pizza

Monday, December 26th, 2005

Pizza_1Appetizer :
selada, red beans, cauliflower, japanese cucumber, cabbage, macaroni
chili powder sekedar berbasa-basi bahkan mungkin garing
olehnya disiram dengan thousand islands
tercipta
sepiring garden salad nan menggiurkan di keheningan mayonaise
meski sedikit pedas
dengan pandangan penuh selidik
mencoba tuk menerka tiap serpihan parmesan di dalamnya
berbincang dengan potongan garlic bread berhias sweet corn
dalam hangat cream soup tanpa nachos

Main Menu :
memacu epineprin memotong panasnya
panggangan enam potongan roti
tak hanya smoked beef, paprika, dan pineapple
mozarella pun tak mau kalah mengintip di balik keriuhan itu
bercakap atas nama kejujuran yang
diselingi fetuccini bercampur tomato sauce
berpetualang dalam gelimangan sierra mist dingin
sebentar
goresan pisau di potongan lima mengatakan
ingin bersua di carbonara tapinya
tak bisa karena belumlah selesai
cream soupnya hampir perforasi
padahal sudah dipreparasi secerdik mungkin
meguri ai

Dessert    :
chocolate fundoo telah menanti di ujung sendok
tapi percakapan double chocolate sundae tak kunjung usai
bahkan heningnya Opera cake
tak jua menyudahinya
cinnamon sticks seakan tak sabar menyeret rembulan
ke atas pohon kelapa
dan ternyata potongan pizza itu pun masih belum habis

Diskursus Sebuah Retorika

Tuesday, December 20th, 2005

Kunang-kunang membuka diskursus pada gulitanya malam
Begitu ekstatiknya ia pada sebuah retorika
Tapi apa lacur
Gulitanya malam yang disorot oleh gemerlapnya sang luna
Segera bertukar dengan ganasnya jilatan aurora di polar-polar dunia

Kunang-kunang membuka diskursus pada raja siang
Begitu penasarannya ia pada sebuah keniscayaan
Tapi apa daya
Guratan keletihan mulai tampak di wajah singgasananya
Yang menyeretkan rona kemerahan
Tertidur dalam buaian hangat ketercabikan

Kunang-kunang berpindah
Kembali membuka diskursus
Mencari-cari pada pepohonan yang melambai
Seketika itu pula roboh diterjang badai

Letih dirasa
Kembali membuka diskursus
Kali ini pada jejeran angkuh gunung-gunung
Tanpa mistik dan klenik dapat runtuh seketika
Kemanakah lagi???

Lihatlah
Semuanya hanya tunduk pada satu aturan
dan semuanya hanya tertuju pada satu tujuan

-QS. 51:56-

Cintanya Bunda

Wednesday, December 14th, 2005

Mencintai adalah memberi
Bukan memberi dan menerima
Teringat pada Rabiah al Adawiyah
Kisah cintanya dengan Sang Pencipta Alam
Tiada harap apaun
Selain berkorban, berkorban, dan berkorban
Letih ku dikandung tak dirasakannya
Lelah ku dibesarkan tak dihiraukannya

Kala mentari dan bintang menjadi Satu
Yang ada hanyalah cahaya terang yang menerpa
Kala siang dan malam menjadi tiada beda
Yang ada hanyalah kerinduan yang menggelora
Pada buah hati

Subhanallah…
Bilakah Kau beri rasa itu Rabb???
Kasih dan cintanya Bunda pada diriku
Hanya padaMu kulantunkan asa dan doa
Agar Engkau berkenan tuk memberi
Bahagia dunia dan akhirat
Pada sang Bunda tercinta…

Hari Ini Enam Tahun yang Lalu

Thursday, December 1st, 2005

Hari ini enam tahun yang lalu…
Menanti malam meretas gelisah
Apa yang kan terjadi esok???
Apa ku kan dapat memakaikannya dengan elok???
Selembar kain putih penutup yang melingkar
demikian jelitanya di kepala wanita-wanita suci
Selembar kain yang memiliki kekuatan magis
simbol kebebasan wanita
simbol eksistensi keberagamaan
bukan simbol keterkekangan yang mungkin orang kira
apalagi sekadar tabir surya

Hari ini enam tahun yang lalu…
Bergumul dengan rasa yang mendedah jiwa
Apa ucap orang banyak tentangku kelak???
Apa ku kan sanggup tuk tetap menyunggingkan senyum
saat hujaman cerca mungkin kan menyambangi diriku
Lihatlah!
Sosok begajulan itu tlah berevolusi!
Kemana jeans Tira dan kaos Mickey Mouse ketat
yang menjadi pakaian favoritnya???
Semuanya telah disimpan rapi di baris paling bawah lemarinya
Sebagian ada pula yang ia berikan pada sanak saudaranya
Lantas bagaimana dengan koleksi pin up dan poster
yang kerap menghiasi dinding dan plafon kamarnya
Seluruhnya telah ia robek dan dibuang ke tong sampah

Hari ini enam tahun yang lalu…
Melangkah dengan jejakan penuh percaya diri
Pandangan mata penuh keheranan tak menjadi sebuah gubrisan
yang ada hanyalah hamasah tuk tetap berada di jalanNya
Meniti kehidupan baru yang lebih berarti
Menghiasi tiap desah nafas dengan momen-momen magis
Melanglang di buana bak seekor merpati bebas
dengan tuntunan ayat-ayatNya
Bukit-bukit nan terjal tiada lagi jadi sebuah aral
Kala sepoi kalimah takbir dikumandangkan membahana

Hari ini enam tahun yang lalu…
Semesta pun menjadi saksi
akan azzam seorang manusia dhaif yang teramat dhaif
akan khauf secercah kekufuran
akan roja’ sebuah keistiqomahan
tiap helainya tertanam di palung terdalam seonggok kalbu
Teriring dalam lautan dzikir dan doa
yang bait-bait serenadanya mengalun demikian indah

Hari ini kini…
Saksikan ombak yang menerjang ke pantai iman
Bukan lagi sekedar riak-riak kecil yang bercanda riang
Mudah lisan bertutur tak kan ada atau tak kan pernah
Tapi sungguh
Saat itu pulalah ia terjebak dalam nuraninya sendiri
Bertatapan dengan sang tiada ada dan sang tiada pernah
Terguncanglah ia
Tak siap dan tak waspada
Hadapi semuanya sendirian, tak bertombak,atau bahkan bersamurai
Perisainya pun kian menipis

Hari ini kini…
Berusaha tuk kembalikan semuanya sedia kala
layaknya enam tahun yang lalu
merangkak dan tertatih mengemis akan kasihNya
sungguh rindu tak tertahankan akan syahid di medanNya
Asa selalu dapatkan ridho dan cintaNya
semoga
hari ini…esok…dan selamanya

011205
-mengenang saat-saat hijrahnya seorang manusia dhaif-