Bermi’raj ke Langit Ketujuh
Wednesday, January 25th, 2006Senyapnya malam menjelang datangnya fajar
Hangatnya peraduan yang diliputi oleh kain panjang
yang terbuat dari bulu domba
Syahdunya mimpi-mimpi tentang kisah anak manusia
Makin melenakan mata yang rindu tuk terpejam
dan siapapun yang tak ingin terjaga
Di satu sudut selembar sajadah menggigil tampak memanggil
Berdebu ia wujudnya oleh jarangnya bahkan tak pernah dipakai
Rindunya ia pada sosok yang bersujud khidmat di atasnya
dan sesudahnya lantunan doa-doa panjang
Penuh khauf dan roja’
Pada Rabb Semesta Alam
yang pada waktu itu kan mengijabah setiap pinta
Di sudut lain terlihat sebuah mushaf yang agak usang
Ucapnya tak pernah dibuka oleh si empunya
Tenggelam dalam aktivitas duniawi yang seakan tiada usai
Sejatinya ia amat menantikan tilawah-tilawah tartil
Diselingi oleh tetesan bening air mata
Jujur dari sebuah hati yang demikian halus
Hati yang tergetar demikian hebat kala
nama Rabbnya dituturkan
Sukma yang kian bertambah keimanannya saat
ayat-ayat suci itu terbuncahkan
Tak jauh dari sudut itu segelintir tasbih tergolek lemah
Dahulunya ia adalah cindera mata dari sebuah walimatul’ursy
yang benderang bila gelap menerpanya
Kini tak ada lagi kejayaan lagi padanya
Jangankan sebagai pelengkap untaian dzikir-dzikir khusyuk
Asesoris pun bagai tak berarti
Usia kan terus beranjak menapaki dunia fana
Kadang tegar dan tak jarang tertatih
Terpaan badai selalu berhembus pada azzam sebuah hijrah
Seringkali bersangka bahwa kewajaran semata adanya
Karena panah-panah syaithoni kan menyerbu dari segala arah
Mungkin iya pada mulanya
Namun kelanjutannya adalah menjadi adat
dan makhluk terkutuk itu pun tinggal berongkang-ongkang kaki
nikmati capaiannya
Terbanglah ke langit ke tujuh
Bermi’rajlah ke langit ke tujuh
dan lihatlah dengan sejelas-jelasnya
syurga dengan cahaya yang demikian berkemilau
aromanya menjalar
sungai-sungai yang mengalir tiada henti
airnya tiada berubah rasa dan abunya
sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya
sungai-sungai dari madu yang disaring
buah-buahan tak henti-henti
bidadari-bidadari bermata jeli laksana mutiara
yang tersimpan baik
bangunan yang terbuat dari batu perak dan emas
yang perekatnya dari mutiara dan permata yaqut
sedang debu-debunya adalah za’faran
yang barangsiapa memasukinya
akan merasa senang
tak pernah susah dan tak pernah mati
pakaiannya tak pernah kumal dan masa mudanya tak pernah sirna
yang demikian itu sesungguhnya belum seberapa
Terbanglah lagi ke langit ke tujuh
Bermi’rajlah ke langit ke tujuh
tatap kembali sejelas-jelas
naar dengan azab teringannya
hanya dengan dua butir bara api di kedua telapak kaki
dapat merebus otak yang selama ini
begitu terlindungi oleh kerasnya cranium
sungai-sungai yang mengalir
baunya begitu busuk dan amat mengganggu penghuninya yang lain
minuman penghuninya adalah dari air
seperti besi mendidih yang dapat menghanguskan muka
pohonnya memiliki mayang seperti kepala-kepala setan
dan lagi-lagi itu baru sebagian kecil saja
Sekarang tinggallah memilih
mana yang akan ditinggali untuk kehidupan abadi…