Archive for February, 2006

Luv U Papa

Monday, February 27th, 2006

Mesra             
Hari ini tepat
27 Februari, papaku merayakan hari lahirnya yang ke 54. Wah, papaku bentar lagi
udah mau pensiun…cumanya karena beliau wiraswasta kayaknya bakalan lebih lama
lagi pensiunnya. Sebagai satu-satunya anak perempuan beliau [ya karena emang
gak ada lagi juga] aku cukup dekat dengan papa. Kalo kata orang emang biasanya anak gadis biasanya lebih dekat dengan
ayahnya. Mungkin ada benarnya juga karena selama ini papaku lebih bisa mengerti
aku daripada mama. Pun kalo ada lawan jenis yang punya niat berbeda terhadap
diriku, naluri papaku pasti lebih kuat. Tanggal lahirku sama dengan tanggal
lahir papa. Selain itu memang dari penampakan aku lebih mirip dengan papa
daripada mama, meskipun seiring berjalannya waktu kayaknya kemiripannya udah
makin terkikis, huehehehe. Keluarga besarku pernah bilang kalo pas lahir aku
tuh bener-bener mirip sama papa, kayak fotocopyannya gitu. Mulai dari mata,
hidung, sama bibir nyeplak abis deh, kecuali kulit kali yah soalnya mungkin
papa udah keseringan kejemur sama matahari, sedangkan sebelum lahir kan aku
adem-ademan di rahim mama. Dari segi sifat juga lebih banyak sifat papa yang
mengalir dalam darahku, keras kepala, perfeksionis, sanguinis, koleris, dan
hanya sedikit plegmatis. Kalo dari mama mungkin yang nyantol di aku cuma
obskomnya ajah, hehehe.

Sepanjang 22 tahun perjalanan hidupku, papaku amat
memegang peranan besar. Beliau adalah sosok yang senantiasa siap berkorban apa
pun demi diriku. Sebagai anak satu-satunya aku benar-benar mendapatkan kasih
sayang yang begitu total.
Mulai
dari aku kecil, papa suka banget ngajakin aku jalan-jalan ke tempat-tempat
wisata. Saat itu kami jalan berduaan aja karena mama harus bekerja, sedangkan
papa lebih punya waktu luang. Jalan-jalan ke Ragunan, Taman Safari, Taman Mini,
sampe pas perpisahan jaman SD, papaku adalah satu-satunya orang tua murid yang
ikutan ke Cibodas! Masih keinget jelas dalam ingatanku waktu jaman-jamannya
scrabble, si RoSa ini merengek gak henti-henti minta dibeliin. Akhirnya
malem-malem jam 9 gitu papa ngejabanin pergi ke Hero Tomang buat ngebeliin itu
scrabble. Eh, begitu udah dibeliin, mainnya juga gitu-gitu ajah. Oh ya, papaku
juga lawan sejati di rumah buat maen game Nintendo. Dulu kami paling seneng
main basket sama Contra. Kalo udah tarung gitu, pasti yang kalah sebel-sebelan
gitu deh, hehehe.

Pas jaman aku SMP, aku pernah syok berat karena
papa mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah. Duh, inget banget
pas aku pulang sekolah waktu masih SMP terus papa duduk di depan pintu dengan
kaki menyelonjor dan bilang padaku, ”De, kaki papa patah.” Rasanya dunia seakan
mau runtuh saat itu. Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah, setelah dirawat
di dukun urat yang terkenal dari Banten papa bisa sembuh kembali. Namun, ujian
yang menimpa keluarga kami saat itu belum selesai.
Papa yang kakinya masih terpincang-pincang harus
bolak-balik mengantarku ke rumah sakit karena aku harus diopname.
Saat itu aku menderita demam thypoid yang
cukup tinggi.

Papaku juga orang yang amat setia menjemputku kalo
aku pulang malem.
Pas jaman
SMU dulu kebetulan aku ikutan ekskul yang biasanya pulang sampe Isya. Meskipun
jarak dari SMUku ke rumah tidak begitu jauh, tapi papa begitu khawatir kalo aku
udah pulang malem. Dengan menaiki ojek atau bajaj, setiap selesai ekskul
Perisai Diri, pasti papa udah nongkrong dengan setia di warung depan SMU 78. Keinget
lagi momen pas aku ikutan UMPTN. Begitu tau lokasi ujianku di daerah Cipinang,
papa bergegas untuk mensurvei tempat ujiannya. Pas hari H ujian, papa pun
dengan setia menungguku selama dua hari berturut-turut! Selama masa menanti
pengumuman UMPTN, tadinya aku tidak berniat untuk mengambil cadangan di PTS
karena kupikir itu hanya menghamburkan uang saja.
Mending ikutan kursus-kursus aja selama satu tahun
kemudian tahun depannya kembali ikutan UMPTN. Namun, tidak demikian dengan
papaku. Pada masa penantian itu, papa rupanya turut memikirkan nasibku.
Akhirnya, tanpa meminta persetujuanku, papaku langsung mendaftarkanku ke salah
satu PTS yang dekat dengan SMUku. Papa yang begitu rajin untuk mengurus segala
administrasinya. Padahal sebenarnya aku sendiri tidak begitu tertarik untuk
masuk ke PTS tersebut karena suasananya menurutku kurang kondusif. Akhirnya aku
memutuskan untuk membuat papaku kecewa dengan tidak belajar pada saat mengikuti
tes masuk. Eh, tapi apa boleh dikata, ternyata soal-soal ujian masuk yang
diberikan tidak begitu sulit dan alhasil aku mendapatkan grade 1. Wah, si papa
kian semangat deh buat ngurus-ngurus administrasinya. Tapi, Alhamdulillah
akhirnya aku gak jadi masuk PTS tersebut karena keterima di UMPTN.

Pas udah masuk kuliah pun, semangat papa tetap gak
berhenti buat memperjuangkan anak semata wayangnya ini.
Mulai dari PSAU [ospek], papa dengan rela
mengantarkanku jam 4 pagi ke Salemba. Kemudian, keesokan harinya aku harus
dapet tugas buat bawa macem-macem gitu, lagi-lagi papaku bersedia buat jalan
malem-malem ngebeliin segala keperluanku. Sekarang, pas aku udah menjalani masa
profesi dokter gigi dan butuh pasien, papaku juga dengan ikhlas nyariin pasien
ke tetangga-tetangga deket. Hhhhh….papaku….sungguh aku sangat mencintaimu,
meski dengan segala amarahmu padaku saat aku berbuat tidak sesuai dengan
keinginanmu…rasanya aku tak akan sanggup untuk membalas segala kebaikanmu.

Rabbana, kumohon sayangilah beliau dengan kasih
dan cintaMu yang tidak terbatas…Ampunilah segala dosa dan kesalahan beliau
baik yang disadari maupun tidak…Rabbana, pertemukanlah kami kembali dalam
satu keluarga di akhiratMu kelak..Amiin

Ayat-Ayat Hijab

Sunday, February 26th, 2006

Sore itu langit Jakarta seakan begitu lunglai. Lembayung
senja juga tak hendak menampakkan keeleganannya. Yang ada hanyalah arak-arakan
awan hitam yang tampak bosan dengan berat air hujan yang sekian lama
ditampungnya. Atas dasar itulah sehabis kontrol dari dokter gigi orthodontiku
di kawasan Kyai Maja, Jakarta Selatan, aku memilih untuk pulang dengan menaiki
taksi. Berhubung uang di kocekku sudah pas-pasan, aku berharap bisa mendapatkan
taksi tarif lama yang argonya jauh lebih murah dibandingkan tarif baru.
Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama di depan RS Pertamina, taksi
Putra kosong yang bertarif lama pun lewat. Segera saja kuberhentikan taksi
tersebut dan lantas kunaiki. Sebelum kunaiki taksi tersebut sang sopir telah
terlebih dahulu memutar lagu dangdut pada radionya. Entah karena dia menyadari
bahwa aku sungguh tidak nyaman untuk mendengar alunan lagu dangdut tersebut
atau tidak, saat taksi baru sampai di jalan Hang Tuah sang sopir pun kemudian
mengganti saluran radio tersebut. Tak perlu memutar-mutar terlalu lama akhirnya
sang sopir berhenti di saluran radio yang sedang menyiarkan ceramah agama.

Aku tidak begitu mengenali suara ustad di radio
tersebut, tetapi yang terpenting bagiku isi ceramah interaktifnya tersebut
cukup menarik, pada awalnya. Pertama-tama ia membahas masalah sholat dan segala
permasalahannya yang bersifat furu’. Tadinya aku sempat berpikir bahwa ceramah
ini hanya berisikan satu topik mengenai sholat, tapi ternyata tidak. Format
acara radio tersebut rupanya menampung pertanyaan-pertanyaan dari para
pendengarnya untuk kemudian langsung dijawab oleh sang ustad. Seusai pembahasan
mengenai sholat tersebut ada seorang penelepon yang bertanya khamr, tetapi aku
tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk menjawab sms dari seseorang. Setibanya
di kawasan Gatsu, aku kembali tune-in dengan radio tersebut. Ada seorang
penelepon baru yang bertanya pada sang ustad. Dia bertanya pada ustad tersebut
tentang bagaimana caranya agar istrinya mau mengenakan jilbab. Menurut
pengakuannya, dia sudah lama menyuruh istrinya untuk mengenakan jilbab tapi
sang istri belum mau mengenakannya dengan alasan belum siap. Tiba giliran sang
ustad untuk menjawab pertanyaan penelepon tadi. Di kalimat pembukanya dia
menyuruh penelepon tersebut untuk menunjukkan ayat di AL-Qur’an yang
menjelaskan mengenai jilbab. ”Pak, suruh istri Bapak untuk buka surat An-Nuur
ayat 130!” Masya ALLAH, seketika itu pula jantungku berdegup kencang. Entah
pendengaran atau ingatanku yang salah, aku merasa ada yang janggal dari
pernyataannya tersebut. Setahuku, ayat mengenai hijab adalah surat An-Nuur ayat
31, jika yang dimaksud oleh sang ustad adalah memang ayat tersebut.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah
mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan
hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan
perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami
mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau
saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka,
atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau
budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak
mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti
tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui
perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah,
hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

QS. An-Nuur:31

Lagipula, seingatku lagi, surat An-Nuur hanya
berisi 64 ayat. Aku semakin mendengarkan penjelasannya dengan seksama dan
ternyata ustad tersebut mengulangi lagi pernyataannya yang pertama tadi. ”Yah,
pokoknya bapak kasih unjuk aja ayat itu di surat An-Nuur sama istri Bapak,
pokoknya sekitar ayat-ayat segitu deh.” Agak ironis memang menurutku, seorang
ustad yang harusnya bisa dijadikan sebuah referensi bagi orang-orang yang awam
dalam beragama bisa melakukan kesalahan seperti itu. Memang ustad juga manusia,
pernah lupa dan pernah khilaf. Semoga bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang
yang bergerak di medan dakwah untuk dapat belajar lebih banyak lagi serta dapat
memberikan referensi ayat Qur’an maupun Sunnah yang sesuai. Jangan sampai kita
dapat memberikan sebuah pernyataan mengenai sesuatu hal dalam agama tanpa
adanya dukungan dalil yang kuat. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari
kebodohan, Amin.

-Ya Rabbana, aku memohon ampun atas kesalahan yang sama yang pernah
kulakukan di waktu lampau…-

JoDoH

Saturday, February 25th, 2006

Salah seorang teman baikku, M, sedang
pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru lantaran stres berat akan masalah
yang sedang dihadapinya. Dia beralasan padaku bahwa masalah kliniklah yang
paling membuatnya stres. Kebetulan dia kini sedang berada di klinik penyakit
mulut dan mendapatkan dosen penguji yang terkenal sulit. Seingatku, klinik
penyakit mulut adalah salah satu klinik yang paling menyenangkan. Di klinik
tersebut aku tidak perlu risau memikirkan requirement pasien seperti di
klinik-klinik lainnya. Di klinik penyakit mulut, tugas mahasiswa profesi
hanyalah sebagai pendamping dokter-dokter yang sedang mengambil program
spesialis penyakit mulut di RSCM untuk mencatat rekam medik pasien.
Selain
itu, requirement lainnya adalah membuat satu seminar jurnal dan satu seminar
laporan kasus. That’s all. Maka akupun berpikir bahwa pasti ada hal lain yang
membuatnya demikian stres hingga memutuskan untuk pulang dulu ke kampung
halamannya pada akhir pekan ini. Aku
berasumsi bahwa etiologi utama stresnya adalah masalah hubungannya dengan
seorang pria. Setelah kukorek keterangan dari salah seorang temanku yang lain,
ternyata asumsiku itu benar adanya. Dari keterangan temanku tersebut, M sedang
pusing memikirkan hubungannya dengan seorang pria karena tidak disetujui oleh
orang tua pria tersebut. Alasannya sungguh klise yaitu permasalahan suku! Menurut
temanku yang kumintai keterangan tersebut, orang tua pria tersebut menolak
hubungan mereka karena si M itu berasal dari Sumatera Barat, sedangkan pria
tersebut berasal dari Jawa.

Hal tersebut membuatku
kembali teringat pada rentetan peristiwa yang terjadi hampir serupa dengan
kejadian tersebut. Salah seorang teman satu grupku, kita sebut saja dia dengan
E, pada saat berada di klinik penyakit mulut dia juga mengalami hal yang hampir
sama. Berat badannya merosot drastis dari 47 kg menjadi 42 kg lantaran stres
berat memikirkan hubungannya dengan seorang pria bersuku bangsa Aceh yang
tinggal di Medan. Kebetulan, si E lahir dari kedua orang tua yang bersuku
Batak. Usut punya usut, orang tuanya terutama sang ayah, sangat menentang
hubungan jarak jauh mereka itu. Ayahnya memegang prinsip bahwa ia haruslah
menikah dengan pria yang bersuku bangsa sama dengan mereka, yaitu Batak, dan
lebih spesifik lagi jika bisa berasal dari Tapanuli Selatan. Segala cara sudah
dilakukan oleh si E dan pria tersebut untuk dapat melunakkan hati kedua orang
tuanya. Namun, hasilnya tetap nihil. Ternyata, sedemikian banyak mutasi dinas
ayahnya ke seluruh Indonesia tidaklah membukakan pintu hatinya untuk mengizinkan
putrinya tersebut menjalin hubungan dengan orang yang berbeda suku. Si E malah
berpikir hal itulah yang mungkin menyebabkan ayahnya masih tetap keras dengan
kesukuannya. Bertemu dengan banyak orang dari bermacam ragam adat yang berbeda
rasanya kian mengukuhkan pemikiran konservatifnya tersebut. Ada hal yang
menarik dari temanku si E ini. Dia pernah berujar padaku bahwa sejak dia tumbuh
remaja, ayahnya telah mewanti-wantinya untuk tidak menjalin hubungan dengan
pria yang berasal dari tiga suku yaitu, Sunda, Padang, dan Aceh. Namun, apa mau
dikata, ternyata belakangan ia malah menjalin hubungan dengan pria dari ketiga
suku tersebut. Pria pertama berasal dari Padang. Karena hubungannya ternyata
ketahuan oleh ayahnya, akhirnya ia harus memutuskan hubungannya tersebut ketika
masih SMU. Pria kedua berasal dari Sunda. Pria yang satu ini kebetulan adalah
tetangganya sendiri. Lagi-lagi harus berakhir dengan pil pahit karena
hubungannya juga tercium oleh ayahnya. Yang terakhir, dia menjalin hubungan
dengan seorang pria yang juga sepupu temanku. Pria ini berdomisili di Medan,
tetapi aslinya dia berasal dari Aceh. Aku sempat menanyakan pada si E mengenai
alasan ayahnya untuk tidak mengizinkannya menjalin hubungan dengan pria dari
ketiga suku tersebut. Dia berujar padaku bahwa ketiga suku tersebut memiliki
kecenderungan untuk mendominasi. Orang Aceh cenderung keras [melebihi kerasnya
orang Batak tuturnya], orang Padang menganut paham matrilineal [sangat
bertentangan dengan suku Batak yang menganut paham patrilineal, sedangkan orang
Sunda sering terlalu banyak berbasa-basi.

Masih seputar permasalahan
hubungan berbeda suku, salah seorang temanku yang lain juga memiliki masalah
yang sama.
Kita sebut saja
namanya A. Si A ini juga berasal dari Tapanuli Selatan. Dia juga bercerita
padaku bahwa hubungannya dengan seorang perempuan agak mengalami halangan dari
kedua orang tuanya. Orang tuanya menginginkan bahwa anak laki-lakinya ini bisa
menikah dengan perempuan bersuku bangsa Batak. Mereka berpendapat bahwa dengan
menikah dengan perempuan satu suku akan lebih mudah nantinya untuk menyesuaikan
adat istiadat yang ada. Kedua orang tuanya juga mewanti-wantinya agar kalau
bisa tidak menjalin hubungan dengan perempuan dari suku Sunda.
Lucunya, justru perempuan yang kini sedang
menjalin hubungan dengannya adalah berasal dari Sunda, tepatnya Cirebon.
Lucunya lagi, kedua orang tuanya ini juga telah sejak lama mengalami mutasi
dinas ke berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar kesamaan itulah, tadinya aku
sempat memiliki niat untuk menjodohkan mereka berdua, hehehe.
Namun, ketika aku utarakan niatku pada si
A, dia berkata bahwa dia akan mencoba untuk mempertahankan hubungannya. Alhasil
dia menyarankanku untuk menawarkan ’penawaranku’ tersebut pada abangnya.
Jadilah aku dikenalkan dengan abangnya yang ternyata berdomisili di Jakarta,
kita sebut saja dia dengan si D. Dari beberapa kali pertemuanku dengan si D
ini, aku sempat mengajukan ’penawaranku’ tadi. Namun, ternyata dia tidak
tertarik untuk mencobanya karena dia tidak mau merusak kesetimbangan yang sudah
ada terlebih dahulu antara si E dan prianya tersebut.
Uniknya, si D bercerita panjang lebar mengenai
hubungannya dengan seorang wanita kepadaku. Dia berkata bahwa dia pernah
menjalin hubungan selama tiga tahun dengan seorang perempuan sewaktu dia berada
di Medan. Hubungannya ini harus kandas dikarenakan orang tuanya tidak
menyetujui hubungan tersebut karena perempuan tersebut berasal dari Aceh. Si D
pernah berujar padaku bahwa jika sampai usianya yang ke-30 dia belum dapat
menemukan seorang perempuan untuk menjadi pendampingnya, maka kemungkinan besar
orang tuanya akan menjodohkannya dengan perempuan yang berasal dari Batak.
Ternyata, kini di usianya yang ke-27 sepertinya dia telah menemukan perempuan
untuk menjadi pendampingnya kelak.
Namun, dia sendiri pun masih ragu apakah orang tuanya akan dapat menerima
perempuan itu karena perempuan itu berasal dari Jawa!


Hhh....pusingnya
mempersoalkan masalah suku dalam pernikahan. Orang-orang yang berpikir
konservatif mungkin menganggap bahwa kesamaan suku dalam pernikahan dapat
menyelesaikan masalah yang mungkin ada nantinya.
Namun, orang-orang yang berpikir moderat
berpendapat bahwa sudah tidak zamannya lagi orang harus menikah dengan satu
suku.


Ada hal yang menarik untuk
ditilik lebih lanjut tentang masalah ini. Dari segi genetika, bila ada dua
orang-orang yang berbeda suku atau ras menikah, maka akan dihasilkan keturunan
yang unik. Pertanyaannya adalah, seunik apa??? Sekedar contoh saja, jika orang
Indonesia menikah dengan ekspatriat, maka biasanya akan menghasilkan keturunan
yang memiliki darah berhesus negatif. Golongan darah rhesus sendiri ditemukan
oleh orang Barat dengan klaim bahwa rhesus positif hanya ditemukan pada kera.
Untuk itu, mereka beranggapan bahwa orang-orang dunia ketigalah [Asia dan
Afrika] yang memilikinya.
Itu
satu contoh yang ditilik dari segi ras. Ada contoh lain untuk diamati pada
pernikahan antar suku. Secara genetika, tiap-tiap suku telah dianugerahi
karakteristik yang khas. Contohnya saja orang-orang yang berasal dari suku Jawa
atau Sunda biasanya memiliki bentuk rahang dan gigi yang kecil. Mungkin ini
dipengaruhi oleh jenis makanan mereka di waktu lampau yang lebih banyak memakan
daun-daunan.
Berbeda dengan
orang-orang dari Sumatera yang kebanyakan memiliki rahang dan gigi yang besar.
Oleh karena itu, biasanya pernikahan antar dua suku yang berbeda ini [Jawa dan
Sumatera] menghasilkan keturunan yang kondisi gigi geliginya dapat
renggang-renggang atau malah berjejal. Hal itu banyak kutemukan pada
pasien-pasienku yang terlahir dari dua suku yang berbeda tersebut. Ada salah
seorang pasienku yang bersuku bangsa Batak-Jawa memiliki kondisi gigi geligi
yang amat berjejal. Kondisi giginya yang besar [sepertinya diperoleh dari
ayahnya yang bersuku Batak] amat tidak harmonis dengan kondisi rahangnya yang
kecil [sepertinya ini dari sang ibu yang bersuku Jawa] sehingga gigi-giginya
pun dalam keadaan amat berjejal.


Yang demikian tersebut hanya segelintir contoh.
Memang tidak dapat digeneralisir begitu saja, orang yang menikah berbeda suku
akan menghasilkan keturunan yang tidak harmonis bentuk rahang dan gigi
geliginya [kebetulan saya hanya mengamati dari segi ini]. Keharmonisan bentuk
rahang dan gigi geligi justru bisa didapatkan dari keharmonisan suami istri
pada saat istri sedang mengandung sang anak. Chemistry yang ada di antara suami istri pada saat istri sedang
mengandung terutama pada saat tumbuh kembang gigi geligi, dapat memperbaiki
kondisi gigi geligi dan rahang yang tidak harmonis. Kasih sayang suami pada
istrinya di kala mengandung sang anak secara embriologi dapat mensinergiskan
perkembangan rahang dan benih gigi geligi. Hal yang mungkin terlihat sepele
tapi benar adanya.


So, semua telah Allah SWT tentukan untuk kita.
Pastinya kita bersama-sama telah
mengetahui bahwa rezeki, jodoh, dan maut telah ditentukanNya. Tugas kita
hanyalah berikhtiar untuk bisa mendapatkan yang terbaik. Masalah pilih memilih
jodoh, Rasulullah telah bersabda bahwa, ” Wanita itu dinikahi karena empat
hal : karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah
agamanya kamu akan selamat (HR. Bukhari, Muslim)
.” Khusus masalah agama,
Rasulullah SAW memang memberikan penekanan yang lebih, sebab memilih wanita
yang sisi keagamaannya sudah matang jauh lebih menguntungkan ketimbang istri
yang kemampuan agamanya masih setengah-setengah. Sebab dengan kondisi yang
masih setengah-setengah itu, berarti suami masih harus bekerja ekstra keras
untuk mendidiknya. Itupun kalau suami punya kemampuan agama yang lebih. Tetapi
kalau kemampuannya pas-pasan, maka mau tidak mau suami harus `menyekolahkan`
kembali istrinya agar memiliki kemampuan dari sisi agama yang baik. Tentu saja
yang dimaksud dengan sisi keagamaan bukan berhenti pada luasnya pemahaman agama
atau fikrah saja, tetapi juga mencakup sisi kerohaniannya (ruhiyah) yang
idealnya adalah tipe seorang yang punya hubungan kuat dengan Allah SWT. Dari sisi nasab atau keturunan,
merupakan anjuran bagi seorang muslim untuk memilih wanita yang berasal dari
keluarga yang taat beragama, baik status sosialnya dan terpandang di tengah
masyarakat. Dengan mendapatkan istri dari nasab yang baik itu, diharapkan
nantinya akan lahir keturunan yang baik pula. Sebab mendapatkan keturunan yang
baik itu memang bagian dari perintah agama, seperti yang Allah SWT firmankan di
dalam Al-Quran Al-Karim.
Dan
hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar. ( QS. An-Nisa : 9)
. Sebaliknya, bila istri berasal dari keturunan
yang kurang baik nasab keluarga, seperti kalangan penjahat atau keluarga yang
pecah berantakan, maka semua itu sedikit banyak akan berpengaruh kepada jiwa
dan kepribadian istri. Padahal nantinya peranan istri adalah menjadi pendidik
bagi anak. Apa yang dirasakan oleh seorang ibu pastilah akan langsung tercetak
begitu saja kepada anak. Pertimbangan memilih istri dari keturunan yang baik
ini bukan berarti menjatuhkan vonis untuk mengharamkan menikah dengan wanita
yang kebetulan keluarganya kurang baik. Sebab bukan hal yang mustahil bahwa
sebuah keluarga akan kembali ke jalan Islam yang terang dan baik. Namun
masalahnya adalah pada seberapa jauh keburukan nasab keluarga itu akan
berpengaruh kepada calon istri. Selain itu juga pada status kurang baik yang
akan tetap disandang terus ditengah masyarakat yang pada kasus tertentu sulit
dihilangkan begitu saja. Tidak jarang butuh waktu yang lama untuk menghilangkan
cap yang terlanjur diberikan masyarakat. Maka bila masih ada pilihan lain yang
lebih baik dari sisi keturunan, seseorang berhak untuk memilih istri yang
secara garis keturunan lebih baik nasabnya. Yah, mau menikah berbeda atau sama
sukunya tetap agamalah yang menjadi pertimbangan utama. Setelah itu adalah
bagaimana nantinya kedewasaan kita dituntut dalam menghadapi terjangan berbagai
badai yang pasti akan ada menerpa bahtera.

Jangan Sentuh Diriku!

Saturday, February 25th, 2006

        Pagi ini emosiku
sudah terpicu oleh suatu kejadian tidak mengenakkan. Sejak semalam aku sudah
berencana untuk belajar mengenai teknik mumifikasi [mematikan syaraf yang ada
di kamar pulpa gigi dengan memakai bahwa arsen], tetapi ternyata buku yang ku
punya sedang dipinjam oleh Manda, salah seorang seniorku. SMS telah kukirimkan
untuknya, tapi tidak ada respon. Oke,
aku pikir dia sedang tidak punya pulsa  untuk membalas SMSku seperti biasanya. Oleh
karena itu, aku berencana untuk langsung mengambil bukuku itu di klinik gigi
anak tempat Manda bekerja pada hari ini. Setelah merapihkan peralatan di klinik konservasi [tambal] gigi aku pun
bergegas untuk mengambil bukuku itu di klinik gigi anak yang letaknya di lantai
bawah bagian lain dari gedung Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG UI.
Setibanya
di sana, ternyata aku tak melihat
sosoknya. Begitu aku melihat salah seorang temanku, Karin, lantas saja
kubertanya padanya, apakah Manda sudah datang atau belum. Di sinilah kejadian
tidak mengenakkan itu terjadi!

Ketika aku sedang bertanya pada Karin, tiba-tiba
aku merasa ada yang menyentuh lengan sebelah kiriku dengan agak kasar.
Setelah
kulihat ternyata pelakunya adalah seorang karyawan yang bertugas di klinik gigi
anak. Dia memaksaku untuk minggir dari posisi berdiriku karena dia sedang
mengepel lantainya. Sontak saja aku berteriak padanya, “Hei Mas Ade!Apa-apaan
sih pegang-pegang segala!Gak sopan tau!” sambil kukibas-kibaskan tangan kananku
ke lengan kiri snelli[jas putih]ku. Spontan pula, semua temanku yang berada di klinik gigi anak menoleh padaku.
Kemudian aku pun keluar ruangan sambil tetap mengibas-ngibaskan tangan kananku
ke lengan kiri snelliku dengan maksud untuk membersihkan bekas pegangan tangan
mas Ade tadi. Setibanya di klinik konservasi, aku lantas menceritakan kejadian
tersebut pada temanku, Deasy, tentang kronologis kejadian tadi yang kuanggap
telah melecehkanku itu. Ternyata responnya tidak seperti yang kuharapkan. Aku
berharap bahwa ia akan berada di pihakku, tetapi ternyata tidak demikian. Deasy
hanya berkata, ”Ah, Ocha gak seharusnya segalak itu kali sama Mas Ade, dia kan
emang biasa kayak gitu.” Benar-benar sebuah pernyataan yang tidak bisa aku
terima! Mungkin yang ada di pikiran Deasy saat itu adalah toh Mas Ade tidak
benar-benar menyentuhku langsung mengenai tanganku, melainkan hanya mengenai
snelliku. Wallahu’alam bishshawab.

Sebelumnya aku juga pernah mengalami hal yang
serupa dengan yang tadi. Siang itu untuk pertama kalinya aku mengerjakan
tambalan sewarna gigi dengan menggunakan sinar tampak. Karena belum pernah
mengerjakan hal itu sebelumnya aku memutuskan untuk bertanya pada salah seorang
temanku, Ariyadi, yang telah mengerjakannya. Pada saat aku mencari Ari,
ternyata dia sedang berbicara dengan seorang temanku yang lain [laki-laki,
Oknum X] di luar klinik. Ketika aku sedang bertanya pada Ari, tiba-tiba Oknum X
memegang lengan kiriku dengan pegangan yang erat sambil bertanya, ”Cha, lo
dicariin sama pasien lo tuh,” spontan saja aku menarik lenganku dari
pegangannya itu dengan menunjukkan ekspresi kemarahanku atas kelakuannya tadi. Karena
sedang diburu oleh waktu untuk mengerjakan pekerjaanku, aku memilih untuk
menahan emosi saat itu dan tidak memperpanjang masalah tersebut. Namun,
ternyata sore harinya aku bertemu dengan Oknum X. Lantas saja aku bicara
padanya dengan nada yang tinggi, ”Hei, kamu jangan sekali-kali lagi melakukan
hal yang tadi yah!.” Rupanya dia kebingungan dengan pernyataanku tadi dan balik
bertanya padaku, ’Emangnya gue ngapain Cha???” Karena di situ Ari, justru Ari
yang langsung merespon pertanyaan Oknum X tadi dengan melakukan gerakan
memegang lengan kirinya. Setelah itu, barulah Oknum X itu mengerti dan meminta
maaf kepadaku.

Belum selesai tampaknya masalahku yang berhubungan
dengan hal-hal seperti itu. Masih teringat jelas suatu kejadian ketika aku
sedang membersihkan karang gigi seorang pasien yang datang ke RSGM. Kebanyakan
pasien yang sedang dibersihkan karang giginya spontan akan menutup kedua
matanya karena merasakan ngilu. Namun, tidak demikian halnya dengan pasien yang
satu ini, dia terus saja membuka matanya dan memperhatikan kedua mataku.
Awalnya aku tidak menaruh curiga padanya, tetapi lam-lama aku merasa risih
dengan tatapannya itu. Ditambah lagi, tiba-tiba saja ia berkata padaku, ”Eh,
kamu cantik,” Masya ALLAH! Kucoba untuk menenangkan diri dan meresponnya dengan
berkata, ”Maaf Pak, tidak baik seperti itu, lebih baik tutup mata Bapak!” kataku
sambil kunaikkan maskerku ke bawah kedua mataku agar dia tidak dapat menatap
wajahku. Dia malah menjawab, ”Ah ngapain, rugi lagi.” Ya Rabb, aku hanya bisa
bersabar dan memutuskan untuk buru-buru menyelesaikan pekerjaanku agar pasien
ini dapat segera pergi. Begitu
selesai, aku langsung melapor pada supervisorku, Drg. Natalina, untuk
mengacc pekerjaanku. Ternyata menurut beliau masih ada beberapa bagian lagi
yang harus dibersihkan. Hatiku bertutur, hhh penderitaan ini belumlah usai.
Ketika ku duduk kembali di kursiku, pasien ini tiba-tiba berkomentar sambil
menunjuk Drg. Natalina, ”Nah Mbak, kalo yang tadi mah saya gak mau liat, hehehe.”
Rabbi!Cukup sekali aku mendapat pasien model seperti ini. Dari penampakkannya
dia sepertinya orang yang cukup sholih, dengan janggut tipis dan gaya
bicaranya, sepertinya dia seorang yang terbina. Ternyata memang dia terbina
karena belakangan setelah selesai pembersihan karang gigi dia mengetahui
’identitasku’. Rabbana, kalau orang yang terbinanya saja sudah macam begini,
bagaimana orang-orang yang akan dibinanya nanti???

Hhhhh, mungkin kelihatannya bagi sebagian orang
hal-hal yang kupermasalahkan di atas adalah hal yang sepele.
Apalah artinya menyentuh atau memegang
tangan seorang lawan jenis sebagai bahasa tubuh tambahan ketika berbicara. Toh,
tangannya pun tidak benar-benar terpegang karena tertutup oleh baju lengan
panjang ditambah pula dengan snelli yang juga berlengan panjang. Namun,
sesungguhnya sebuah sentuhan menurutku memiliki arti yang demikian besar.
Dengan hijab yang kukenakan selama kurang lebih enam tahun, aku memegang teguh
bahwa tiada yang boleh menyentuhku selain seseorang yang sah untuk diriku
kelak. Hijab adalah harga diriku, begitu seorang lawan jenis telah berani memandangku
demikian lekat dan menyentuhku, sama saja mereka telah menginjak-injak harga
diriku. Aku memanglah bukan orang suci yang tiada pernah dipandang dan disentuh,
tetapi aku adalah seseorang yang sedang belajar untuk mensucikan diri. Cukup
sudah kejadian yang pernah aku alami dan aku tidak ingin mengalaminya lagi!

Untuk semua lelaki di dunia ini, bersihkanlah
pikiran-pikiran kotor kalian tentang apa yang tersembunyi di balik sandang
perempuan! Pejamkanlah mata-mata kalian terhadap hal-hal yang tidak boleh
kalian tatap dan Jauhkanlah tangan-tangan kalian terhadap hal-hal yang tidak
boleh kalian sentuh!

Sahabatku

Monday, February 20th, 2006

aku punya sahabat
sahabat yang selalu setia menemaniku
dalam ceriaku
dalam tangisku
tak peduli seberapa nistanya hidupku

sahabatku itu
selalu berusaha tuk bangkitkanku
berpijak meski hanya dengan satu kaki
meski terkadang
ia menggiringku pada fragmen-fragmen
kegilaan yang teramat sangat

satu yang khas dari sahabatku
kian hari ia makin cerdas tuk mengolah
titian masa
yang terkikis oleh cadasnya berbagai tempaan

ia menyimpan seluruh memori
yang ku punya
gerak kalbuku
ucapku
lakuku
bagai layar lebar yang dapat ditonton
setiap detiknya

sahabatku
rasanya ku hanya dapat mempercayaimu
iringan hari
kian menambah keyakinanku
bahwa mungkin tiada yang dapat kupercaya
selain dirimu

semua yang nyata
ternyata hanyalah fatamorgana
dari mulanya meski kucoba
ternyata tetap demikian adanya

sahabatku
terima kasih telah tetap menemaniku
dalam jeritan keranda
yang terus memanggilku

sahabatku
kesendirianku