Tanggal 3 Maret kemarin tepat satu tahun sudah aku
menjalani masa kepaniteraan klinik di FKG UI. Sungguh begitu tidak terasa waktu
berlalu demikian cepat. Rasanya baru kemarin aku baru diwisuda menjadi seorang
sarjana kedokteran gigi, tetapi kini adik-adik angkatanku sudah akan memasuki
kepaniteraan klinik periode baru pada tanggal 9 Maret ini. Dalam masa satu
tahun ini sudah seluruh bagian klinik aku masuki.
Putaran klinik kelompokku, CD, dimulai dari klinik
gigi anak [Pedodontia]. Waktu yang diberikan di klinik ini adalah selama dua
bulan dengan masa kerja empat hari setiap minggunya, dipotong dengan satu hari
kerja non efektif maka hari kerja efektif hanyalah 27 hari. Dengan 27 hari
kerja tersebut kami harus menyelesaikan requirement yang cukup banyak dan
memang klinik Pedodontia memegang rekor requirement terbanyak yaitu sebanyak 64
requirement. Jadi, jika ingin benar-benar mengeefektifkan waktu, maka kami
harus dapat menyelesaikan minimal tiga requirement per harinya entah itu
requirement yang berat ataupun ringan. Adapun requirement yang ada di klinik
Pedodontia adalah pemeriksaan lengkap pasien sebanyak 8, pendidikan kesehatan
gigi dan profilaksis oral sebanyak 4 pasien, penutupan ceruk dan fisur sebanyak
4 gigi, pemasangan space-maintaner dan kontrol warisan sebanyak 2 pasien,
penutupan pulpa pada gigi tetap muda sebanyak 2 gigi, perawatan pulpotomi
[pemotongan pulpa di kamar pulpa] pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, perawatan saluran
akar pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, penumpatan amalgam kelas I sebanyak 5
gigi, penumpatan amalgam kelas II sebanyak 5 gigi, pembuatan mahkota logam
sebanyak 2 gigi, penumpatan resin komposit/kompomer/semen ionomer kaca sebanyak
6 gigi, dan pencabutan gigi sulung sebanyak 15 gigi. Kabarnya semenjak dulu
kala hingga sekarang belum ada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan seluruh
requirement tersebut dalam waktu dua bulan saja. Mungkin ada yang dapat
menyelesaikan requirement-requirement kecil dan sedang, tetapi seringkali
terhambat pada requirement pembuatan space-maintaner yang membutuhkan waktu
agak lama serta pasien yang dibuatkan space-maintaner tersebut harus dalam
kondisi gigi geligi yang sehat. Artinya semua gigi yang berlubang harus sudah ditambal
semua, gigi yang harus dicabut juga sudah dicabut semua, dan kebersihan
mulutnya juga sudah baik. Andai saja perjalanan di klinik ini datar-datar saja,
bisa jadi mungkin banyak yang dapat menyelesaikan keseluruhan requirement
tersebut tepat waktu. Namun, sejatinya tidak demikian adanya. Berhubung untuk
dapat menyelesaikan requirement di klinik Pedodontia tersebut kami harus
mencari sendiri pasien anak-anak ke sekolah-sekolah di sekitar kampus UI
Salemba, adapun pasien anak-anak yang datang ke klinik Pedodontia biasanya
diperuntukan untuk dokter gigi yang sedang menjalani masa pendidikan spesialis
gigi anak. Kami harus menjaga
hubungan baik dengan pihak sekolah dan orang tua tentunya. Hal-hal inilah yang
terkadang biasanya menjadi salah satu hambatan dalam menyelesaikan requirement
tersebut. Meskipun seluruh akomodasi dan biaya perawatan telah kami tanggung seluruhnya
terkadang ada saja orang tua pasien yang menolak perawatan yang akan diberikan
kepada anaknya, padahal anak tersebut cukup kooperatif untuk dirawat. Atau bisa
saja orang tuanya demikian mendukung perawatan terhadap gigi anaknya, tetapi
anaknya tidak dapat berlaku kooperatif terhadap mahasiswa. Atau mungkin saja
orang tua dan anak telah begitu kooperatif, tetapi pihak sekolah tidak memberikan
izin pada murid-muridnya untuk dilakukan perawatan gigi. Selain faktor-faktor
di atas, suasana di klinik Pedodontia boleh dibilang cukup kondusif.
Supervisor-supervisor yang ada kliniknya pun terkenal baik dan tidak
menyusahkan mahasiswa dalam memberikan acc, meski tetap saja ada supervisor
yang terkenal sulit dalam memberikan acc karena beliau sudah profesor di bidang
gigi anak, tetapi menurutku hal itu masih lumrah adanya. Di klinik Pedodontia,
seheboh apapun kita bekerja, entah itu meminta bantuan teman untuk menganestesi
pasien anak yang akan dicabut atau alat-alat yang berjatuhan kesana kemari
karena dimainkan oleh anak-anak biasanya supervisor tidak terlalu ambil pusing.
Jadi secara psikologis juga tidak terlalu membawa beban mental pada mahasiswa dalam
bekerja di klinik. Namun, terkadang ada satu hal yang membuatku dan teman-teman
lain merasa agak terganggu di klinik Pedodonti. Gangguan tersebut datang dari
seorang karyawan yang sehari-harinya bekerja di klinik Pedodonti yaitu Mas Ade.
Mas Ade ini terkenal sekali dengan kejutekannya terhadap semua mahasiswa yang
sedang bekerja di klinik Pedodonti. Usianya boleh dibilang tidak terlalu jauh
berbeda dengan kami. Setiap mahasiswa yang meminta tolong kepadanya biasanya
pasti disambut dengan muka yang masam dan gumaman-gumaman yang tidak jelas
adanya. Selain Mas Ade, ada satu orang karyawan lagi yang bekerja di klinik ini
yaitu Pak No. Pak No ini boleh dibilang sudah cukup berumur. Meskipun lebih
pendiam dibandingkan Mas Ade, Pak No ini biasanya cukup galak terhadap
anak-anak yang menjadi pasien di klinik Pedodonti.
NASHRULLAH!Begitu besar pertolongan Allah yang
kurasakan di klinik Pedodonti ini dan Subhanallah skenarionya begitu indah.
Ketika waktu bekerja di klinik semakin menyempit, aku belum menyelesaikan
requirement-requirement besar seperti pulpotomi dan perawatan saluran akar.
Sebelumnya padahal aku telah mendapatkan pasien untuk perawatan saluran akar,
tetapi ternyata pasienku itu tidak bisa kembali lagi karena tidak diperbolehkan
oleh ayahnya. Alhasil, aku harus mencari pasien lagi dan Alhamdulillah aku
berhasil mendapatkan satu pasien dari seorang kakak kelasku yang bisa dilakukan
perawatan saluran akar. Nama pasienku ini adalah Aldi. Si Aldi ini anaknya
cukup pendiam sehingga terkadang aku tidak mengerti apakah dia merasakan sakit
atau tidak. Setelah kulakukan pemeriksaan lengkap terhadapnya, maka tindakan
selanjutnya adalah membuka kamar pulpa gigi yang menjadi keluhan utama. Setelah
pembukaan kuanggap selesai, ternyata perdarahan dari gigi yang harusnya sudah
mati tersebut tidak juga berhenti. Lantas seorang dokter PPDGS menyuruhku untuk
mengambil foto Rontgen gigi tersebut karena dikhawatirkan pembukaan kamar
pulpaku menyebabkan perforasi ke bagian bifurkasi akar. Ternyata, apa yang
dikhawatirkannya tersebut menjadi kenyataan, aku telah melakukan kesalahan
karena preparasi yang kulakukan berlebihan perawatan saluran akar tidak dapat
dilanjutkan. Setelah selesai, seperti biasa aku mengantarkan Aldi pulang ke
rumahnya dengan hati yang sedih. Namun, apa yang terjadi ketika aku
mengantarkannya pulang ke rumah? Ternyata aku bertemu dengan pasienku yang
diiindikasi dapat dilakukan perawatan saluran akar, tetapi tidak diperbolehkan
oleh ayahnya. Nama pasienku yang satu itu adalah Ayu Ningsih. Saat itu, ia sedang
bermain-main di dekat rumah Aldi dan dia langsung menyapaku. Tenyata, rumah Ayu
tidaklah jauh dari rumah Aldi. Dari situ timbul niatku untuk bersilaturahim ke
rumahnya sekalian bicara dengan ayahnya tentang rencana perawatan gigi yang
akan kulakukan terhadap Ayu. Beberapa hari kemudian, ditemani oleh dua orang
temanku, Erly dan Eveline, aku mencari rumah Ayu dan menemui kedua orang
tuanya. Setelah kami menjelaskan panjang lebar mengenai rencana perawatan yang
akan dilakukan kepada ayahnya, Alhamdulillah ayahnya mengerti dan kemudian
mengizinkanku untuk merawat Ayu. Pada waktu pemeriksaan awal, Ayu membutuhkan
perawatan saluran akar pada dua gigi sulungnya yang sudah non vital. Namun,
setelah aku periksa lebih seksama lagi hanya ada satu gigi yang membutuhkan
perawatan saluran akar karena gigi yang lainnya tersebut karies[lubang]nya
belum mencapai pulpa. Sejujurnya aku pribadi merasa agak kecewa karena berarti
satu requirementku berkurang, tetapi aku yakin bahwa rezekiku tidak akan
kemana. Benar saja, ketika aku akan memasang mahkota logam pada gigi Ayu yang
telah dirawat saluran akar, ternyata Prof. Heriandi yang memeriksa kondisinya
saat itu tidak membolehkanku untuk melakukan pemasangan tersebut karena ada
masih terdapat abses. Setelah kuperiksa lagi, ternyata abses tersebut bukan
berasal dari gigi yang telah dirawat saluran akar, melainkan dari gigi
sebelahnya. Dengan adanya abses, menunjukkan bahwa gigi sebelahnya telah dalam
kondisi non vital dan terindikasi untuk dilakukan perawatan saluran akar. Subhanallah!
Akhirnya, aku bisa mendapatkan satu requirement untuk perawatan saluran akar.
Lain lagi ceritanya pada saat aku mendapatkan
requirement untuk perawatan pulpotomi. Aku memiliki satu orang pasien yang
bernama Ali Mustaqim dan biasa dipanggil Aqim. Pada saat pemeriksaan lengkap
dengan satu orang supervisor, salah satu giginya yang telah mengalami resorbsi
akar diindikasi untuk dicabut. Padahal, menurutku resorbsinya tersebut belum
terlalu besar sehingga masih dapat dilakukan perawatan saluran akar. Aku
mencoba untuk mencabut gigi tersebut, tetapi ternyata gigi tersebut masih
begitu kuat tertanam di dalam tulang. Oleh karena itu, aku berpikir bahwa gigi tersebut masih bisa dirawat
saluran akar. Akhirnya, pada hari itu aku berniat untuk melakukan pembukaan
kamar pulpa pada gigi Aqim. Setelah
meminta izin kepada supervisor pada saat itu, aku pun mulai melakukan tindakan.
Apa yang terjadi kala itu? Ketika aku melakukan pengeboran terhadap gigi
tersebut, ternyata mengalir darah segar dari dalam kamar pulpa yang menunjukkan
bahwa gigi tersebut masih dalam keadaan vital. Sesegera mungkin aku melapor
pada Drg. Syahril yang menjadi supervisor saat itu untuk melakukan tindakan
pulpotomi. Jadi, gigi Aqim tersebut mengalami penurunan indikasi perawatan,
mulai dari ekstraksi, perawatan saluran akar, hingga akhirnya pulpotomi! Untuk
requirement pulpotomi yang satunya juga kudapatkan secara tidak sengaja.
Pasienku kali ini namanya Herry yang kebetulan juga adalah tetanggaku. Tadinya
salah satu giginya aku indikasi untuk dilakukan ekstraksi atau pencabutan. Dari
hasil foto Rontgennya pun menunjukkan akar telah mengalami resorbsi hingga
servikal [leher] gigi sehingga tidak mungkin untuk dilakukan perawatan. Namun,
pada saat diperiksa oleh Drg. Ike, ternyata gigi tersebut mengalami perdarahan
yang berarti masih dalam kondisi vital. Drg. Ike mengindikasi gigi tersebut
untuk dilakukan pulpotomi, meskipun resorbsi akarnya sudah cukup besar.
Alhamdulillah wa Syukurillah….pada waktu
tambahan klinik, akhirnya aku dapat menyelesaikan seluruh requirement klinik
Pedodonti termasuk space-maintaner dengan pasienku bernama Diana. Sesegera mungkin aku mendaftarkan diri
untuk mengikuti Ujian Dokter Gigi [UDG] Pedodonti yang terdiri dari satu kali
ujian pasien berupa pemeriksaan lengkap dan satu kali ujian lisan dengan satu
orang supervisor. Sebelum dilaksanakan ujian pasien, aku harus mencari satu
anak lagi untuk menjadi pasien ujianku. Dibantu oleh salah seorang temanku,
Widya, aku berhasil mendapatkan pasien ujian dari SD yang direkomendasikannya.
Nama pasien ujianku adalah Nurul Livianti atau dipanggil Livia. Sebelum ujian,
aku harus melakukan pemeriksaan lengkap bayangan untuk mengetahui kasus-kasus
apa saja yang terdapat di dalam rongga mulutnya. Dibantu oleh dua orang
temanku, Eveline dan Deasy Daniasari, aku melakukan pemeriksaan lengkap
seadanya dengan alat standar dan lampu senter di ruang senat mahasiswa. Pada
hari Jumat tanggal 10 Juni 2005 aku memantapkan diri untuk mengikuti ujian
pasien. Sebelumnya aku telah banyak bertanya pada senior-seniorku tentang
tipikal pertanyaan yang akan diberikan oleh supervisor pada saat ujian pasien.
Karena aku mengikuti ujian pasien pada hari Jumat, maka kemungkinan supervisor
yang akan menjadi pengujiku adalah Drg. Levi dan Drg. Ike. Sedari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk diuji
oleh Drg. Levi karena pada
hari itu temanku, Dhani Ayu Andini, juga akan ujian. Pagi hari pukul 06.00 WIB
aku sudah berangkat dari rumah karena harus menjemput Livia terlebih dahulu. Aku
dan ibunya telah berjanji untuk bertemu pada pukul 07.00 di SDnya. Tiba di SDnya yang terletak di daerah
Kramat Sentiong pada pukul 06.45 WIB. Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00
WIB dan belum tampak tanda-tanda kedatangan Livia beserta ibunya. Aku masih
bisa menyabarkan diri sambil menunggu aku mengirimkan SMS ke beberapa orang
temanku untuk memohon doa. Lima belas menit kemudian, Livia dan ibunya belum
juga muncul. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya meskipun aku belum
mengetahui lokasi rumahnya tersebut. Berbekalkan alamat yang diberikan oleh
ibunya, pagi itu sebelum ujian, aku menyusuri gang-gang di daerah Kramat
Sentiong untuk menemukan rumah Livia. Setelah beberapa kali bertanya-tanya pada
orang sekitar, Alhamdulillah aku berhasil menemukan rumah Livia. Saat aku
datang, Livia sedang bersiap memakai sepatu dan makan. Dari pengakuan ibunya,
Livia telat bangun karena malamnya tidur terlalu larut menonton acara TV.
Berangkat dari rumahnya pada pukul 07.45 WIB membuat hatiku agak ketar ketir
karena aku belum mempersiapkan peralatan untuk ujian. Belum lagi harus
berebutan kursi dental unit dengan mahasiswa-mahasiswa tambahan yang sedang ada
di klinik Pedodonti. Tiba di kampus UI Salemba pada pukul 07.55 WIB, aku
langsung bergegas untuk menyiapkan alat dan pintu klinik ternyata juga sudah
dibuka. Tadinya aku berpikir akan mendapatkan bangku ujian yang ada sekatnya
sehingga tidak perlu terlalu tegang terlihat oleh supervisor dari tempat
duduknya, tapi temanku Dhani ternyata sudah mengambil tempat itu terlebih
dahulu. Akhirnya aku mendapatkan kursi di sebelahnya yang tidak bersekat. Pukul
08.30 WIB, semua peralatan telah aku sterilisasi dan aku kembali membuka
bahan-bahan untuk ujian. Pada saat itu, Dhani masuk ke ruangan dan berkata
padaku bahwa dia sudah melapor ke Drg. Ike untuk ujian pasien pada hari itu.
Aku kaget, karena berpikir untuk ujian pasien biasanya melapor pada saat
supervisor berada di ruangan. Seketika itu pula aku berpikir bahwa kesempatanku
untuk mendapatkan penguji Drg. Ike sudah berkurang karena Dhani terlah lebih
dahulu melapor padanya. Sebagai catatan meskipun aku sudah bersiap untuk
mendapatkan penguji Drg. Levi, aku tetap berharap mendapatkan penguji Drg. Ike
karena dari beliau lebih baik dan santai dibandingkan Drg. Levi. Pukul 09.00
WIB Dr. Ike masuk ke ruangan dan memberi waktu untuk aku dan Dhani untuk
melakukan pemeriksaan hingga pukul 11 WIB. Hingga pukul 09.30 WIB, aku belum
melihat kedatangan Drg. Levi. Seketika itu hatiku bertanya, seketika itu pula
pintu ruangan klinik Pedodonti dibuka dan Drg. Levi masuk. Aku berpikir bahwa
aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan penguji beliau. Pada pukul 10.50,
aku sudah selesai melakukan pemeriksaan ulang dan aku memutuskan untuk segera
melapor pada Drg. Ike. Dhani yang kuajak serta untuk melapor memilih untuk
memeriksa kembali pekerjaannya dahulu. Pada saat aku melapor, kemudian Drg. Ike
berkata pada Drg. Levi bahwa dia akan menjadi penguji mahasiswa yang satunya
lagi yaitu temanku Dhani. Alhamdulillah! Tak disangka-sangka Drg. Ike menjadi
pengujiku. Sebelum memeriksa pasien, terlebih dahulu aku ditanya mengenai
pengisian kartu status dan Alhamdulillah dalam waktu lima belas menit aku dapat
menjawab semua pertanyaan dari beliau. Begitu memeriksa Livia, tidak pertanyaan
Drg. Ike berkisar soal crossbite [gigitan silang] yang ada padanya. Aku
mengalami sedikit stagnasi pada pertanyaan mengenai syarat-syarat rencana
perawatan kasus tersebut. Akhirnya, Drg. Ike memberiku tugas tentang rencana
perawatan crossbite yang dikenal dengan nama Incline Bite Plane. Alhamdulillah, dalam waktu tiga puluh menit
saja aku telah dapat melewati ujian pasien dengan Drg. Ike. Sementara itu, temanku Dhani harus
melanjutkan ujiannya dengan Drg. Levi seusai beliau sholat Jumat. Sehabis ujian
pasien, masih ada satu ujian lagi yang harus kulalui yaitu UDG lisan. Hari
Rabu, tanggal 15 Juni aku mendapatkan kabar bahwa pengujiku adalah Prof. Dr.
Drg. Retno Hayati, SKM, SpKGA. Meskipun aku belum pernah berinteraksi dengan
beliau, tetapi dari kabar angin yang kudengar beliau cukup baik. Akhirnya pada
tanggal 20 Juni 2005 aku, Deasy Rosalina, menghadapi UDG lisan klinik
Pedodontia. Semua teman-teman satu kelompokku mendukung dan memberikanku doa.
Alhamdulillah, meskipun penuh dengan poci-poci aku bisa melewati ujian tersebut
mulai dari pukul 07.45 hingga pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah lagi, hasilnya
tidak terlalu mengecewakan, aku mendapatkan angka 77 [B+] untuk seluruh
kumulatif requirement beserta ujianku di klinik Pedodontia.
Satu hal yang terpenting di klinik Pedodontia
adalah kebersamaan. Alhamdulillah, bersama Ariyadi Prakajaya, Deasy Daniasari,
Desly Reinina, Dewi Kurniyanti, Dhani Ayu, Ditha Indah Lestari, Emmawati
Prawitasari, Erly Zuliana Lubis, dan Eveline, aku dapat melalui hari-hari di
klinik Pedodontia. Kelompok kami memiliki kebiasaan untuk berkonsolidasi dengan
tujuan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kelompok. Pada forum
konsolidasi tersebut biasanya kamu menumpahkan semua unek-unek yang ada baik
mengenai orang per orang, klinik, atau hal-hal lainnya. Dari situ memang cukup
terbukti efektif untuk mendekatkan tiap-tiap pribadi yang sebelumnya tidak
terlalu intens bersama dalam satu kelompok. Dari klinik Pedodonti ini akan
terus berlanjut ke klinik-klinik berikutnya.