Archive for March, 2006

Suatu Siang di Cafe Pisa

Friday, March 31st, 2006

Akhir-akhir ini entah kenapa tiap hari lagi ngidam makan es krim. Sejak Banana
Split-nya Celcius Café di awal bulan ini, jadi keranjingan terus buat nyicipin
es krim. Pas lagi ada acara di 78 minggu lalu kebetulan ada tukang es krim
Walls keliling di deket tukang bakso favoritku, BBM [Bakso Bang Malik], langsung aja kubeli Conello. Terus pas lagi
jalan bareng temen-temenku, sehabis dari Chopstix di PIM1 kita memutuskan buat
cari dessertnya di PIM2. Akhirnya
pilihan jatuh di NYDC, di situ temenku Diyas, milih ’Dessert Storm’. Dua scoop es krim vanila dan mango ditambah
whipped cream dan cherry di atas, perpaduan yang seger euy. Terus aku sendiri
milih ’The Spy Who Loved Me’,
huehehehe berasa 007 banget!Kalau yang ini terdiri dari dua scoop es krim
coklat, ditambah chocolate chip di dalamnya, ditaburi serpihan oreo dan
diselipkan coklat wafer..Hmmmm coklat abis deh pokoknya! Berhubung deket-deket
Salemba tak ada resto es krim yang asik, jadilah kalau mau es krim ke KFC aja.
Sundaenya yang 5000an cukup enak menurutnya. Deket Senen ada sih Ice Cream
Baltic, cuma menurutku rasanya rada-rada sedikit aneh.

Berkaitan sama es krim pengeskriman ini [apaaa
coba???], jadi ingat pengalamanku waktu di Cafe Pisa Setiabudi Building. Siang
itu sehabis makan Mie Tom Yam Sliced
Beef
nya Mangkok Putih, yang entah kenapa porsinya jauh lebih sedikit dari
Mangkok Putih yang ada Chitos, aku masih berasa laper aja, huehehehe. Akhirnya
kuputuskan untuk membeli es krim di Cafe Pisa yang terletak tak jauh dari Mangkok
Putih. Semua pilihan es krim di situ cukup menggiurkan, tapi seperti biasa
pilihanku tak jauh dari yang berbau-bau coklat. Begitu melihat ada Chocolate Oreo, langsung saja aku
memilihnya. Namun, ketika aku mengajukan pilihanku tersebut pada si pelayan,
tiba-tiba saja dia mengatakan padaku, ”Chocolate Oreo itu ada rhumnya mba”,
sontak aku terkejut! Tadinya aku sama sekali tidak berpikir bahwa es krim
tersebut mengandung sesuatu yang haram untuk dikonsumsi. Si pelayan yang dengan
jenggotnya itu sudah hampir mirip dengan mafia Italia memperingatkanku agar
tidak memilih es krim tersebut karena mengandung rhum. Mungkin karena dia
melihat sosokku yang berjilbab dan dia juga seorang Muslim, lantas saja dia
memperingatkanku agar tidak memilih Chocolate Oreo. Alhamdulillah, berkat si
pelayan itu aku dapat terhindar dari mengkonsumsi sesuatu yang haram. Lain kali
tentunya harus lebih berhati-hati lagi dalam memilih makanan yang dikonsumsi.
Bisa jadi penampakannya biasa saja dan tidak terindikasi mengandung sesuatu
yang haram, tetapi ternyata di dalamnya terkandung sesuatu yang diharamkan.
Bila ragu terhadap makanan tersebut, lebih baik dijauhi. Pun apabila membeli
sesuatu yang tidak diketahui kandungannya, ada baiknya bertanya pada si
penjual. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari masuknya
makanan-makanan haram ke dalam tubuh….Amin.

”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal
lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata
bagimu.” [QS. Al-Baqarah :168]

Lagunya Hampir Habis

Tuesday, March 28th, 2006

diam
hentakkan
tak hendak meracau
berlari
hempaskan
tak pelak kacau

sunyi
hembuskan
sungkan tuk menyanyi
menari
helaian
susuri tuk turuti

dingin
tiada manis
jamuan
tiada makna
kecuali
esa

Notulensi Fantasi

Saturday, March 25th, 2006

seorang bocah tertegun di satu sudut
di sana banyak pot-pot tersusun rapi
ada yang menarik perhatiannya
daun-daun suplir mulai mengering
di baliknya banyak kepompong yang telah menua
nampaknya kupu-kupu indah kan
segera membuncah dari dalamnya
bukan hanya satu

kian hari bocah itu makin asyik
menikmati polah kepompong yang
menggeliat tak simultan
hal yang luar biasa
mungkin sporadis
sedang terjadi pikirnya

hari yang dinantikan tiba
setelah lama tak bersembang
warna-warni nan cantik dari kupu-kupu
merekah dari kepompong-kepompong itu
satu persatu
mereka mulai menapaki episode baru
dalam lembar kehidupannya

mencoba keharuman bunga yang satu
ke bunga yang lain
kadang pahit
tapi tak membuatnya jera

bocah itu kembali tertegun
tak sepenuhnya berbahagia
satu kepompong tampak lusuh
meski masih ada geloranya
tapi tiada yang menyambut keluarnya
entah kapan
kupu-kupu yang diharapkannya terbang
seperti yang lain

Evaluasi Satu Tahun Masa Kepaniteraan Klinik [ Episode Pedodonti]

Wednesday, March 15th, 2006

Tanggal 3 Maret kemarin tepat satu tahun sudah aku
menjalani masa kepaniteraan klinik di FKG UI. Sungguh begitu tidak terasa waktu
berlalu demikian cepat. Rasanya baru kemarin aku baru diwisuda menjadi seorang
sarjana kedokteran gigi, tetapi kini adik-adik angkatanku sudah akan memasuki
kepaniteraan klinik periode baru pada tanggal 9 Maret ini. Dalam masa satu
tahun ini sudah seluruh bagian klinik aku masuki.

Putaran klinik kelompokku, CD, dimulai dari klinik
gigi anak [Pedodontia]. Waktu yang diberikan di klinik ini adalah selama dua
bulan dengan masa kerja empat hari setiap minggunya, dipotong dengan satu hari
kerja non efektif maka hari kerja efektif hanyalah 27 hari. Dengan 27 hari
kerja tersebut kami harus menyelesaikan requirement yang cukup banyak dan
memang klinik Pedodontia memegang rekor requirement terbanyak yaitu sebanyak 64
requirement. Jadi, jika ingin benar-benar mengeefektifkan waktu, maka kami
harus dapat menyelesaikan minimal tiga requirement per harinya entah itu
requirement yang berat ataupun ringan. Adapun requirement yang ada di klinik
Pedodontia adalah pemeriksaan lengkap pasien sebanyak 8, pendidikan kesehatan
gigi dan profilaksis oral sebanyak 4 pasien, penutupan ceruk dan fisur sebanyak
4 gigi, pemasangan space-maintaner dan kontrol warisan sebanyak 2 pasien,
penutupan pulpa pada gigi tetap muda sebanyak 2 gigi, perawatan pulpotomi
[pemotongan pulpa di kamar pulpa] pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, perawatan saluran
akar pada gigi sulung sebanyak 2 gigi, penumpatan amalgam kelas I sebanyak 5
gigi, penumpatan amalgam kelas II sebanyak 5 gigi, pembuatan mahkota logam
sebanyak 2 gigi, penumpatan resin komposit/kompomer/semen ionomer kaca sebanyak
6 gigi, dan pencabutan gigi sulung sebanyak 15 gigi. Kabarnya semenjak dulu
kala hingga sekarang belum ada mahasiswa yang berhasil menyelesaikan seluruh
requirement tersebut dalam waktu dua bulan saja. Mungkin ada yang dapat
menyelesaikan requirement-requirement kecil dan sedang, tetapi seringkali
terhambat pada requirement pembuatan space-maintaner yang membutuhkan waktu
agak lama serta pasien yang dibuatkan space-maintaner tersebut harus dalam
kondisi gigi geligi yang sehat. Artinya semua gigi yang berlubang harus sudah ditambal
semua, gigi yang harus dicabut juga sudah dicabut semua, dan kebersihan
mulutnya juga sudah baik. Andai saja perjalanan di klinik ini datar-datar saja,
bisa jadi mungkin banyak yang dapat menyelesaikan keseluruhan requirement
tersebut tepat waktu. Namun, sejatinya tidak demikian adanya. Berhubung untuk
dapat menyelesaikan requirement di klinik Pedodontia tersebut kami harus
mencari sendiri pasien anak-anak ke sekolah-sekolah di sekitar kampus UI
Salemba, adapun pasien anak-anak yang datang ke klinik Pedodontia biasanya
diperuntukan untuk dokter gigi yang sedang menjalani masa pendidikan spesialis
gigi anak.
Kami harus menjaga
hubungan baik dengan pihak sekolah dan orang tua tentunya. Hal-hal inilah yang
terkadang biasanya menjadi salah satu hambatan dalam menyelesaikan requirement
tersebut. Meskipun seluruh akomodasi dan biaya perawatan telah kami tanggung seluruhnya
terkadang ada saja orang tua pasien yang menolak perawatan yang akan diberikan
kepada anaknya, padahal anak tersebut cukup kooperatif untuk dirawat. Atau bisa
saja orang tuanya demikian mendukung perawatan terhadap gigi anaknya, tetapi
anaknya tidak dapat berlaku kooperatif terhadap mahasiswa. Atau mungkin saja
orang tua dan anak telah begitu kooperatif, tetapi pihak sekolah tidak memberikan
izin pada murid-muridnya untuk dilakukan perawatan gigi. Selain faktor-faktor
di atas, suasana di klinik Pedodontia boleh dibilang cukup kondusif.
Supervisor-supervisor yang ada kliniknya pun terkenal baik dan tidak
menyusahkan mahasiswa dalam memberikan acc, meski tetap saja ada supervisor
yang terkenal sulit dalam memberikan acc karena beliau sudah profesor di bidang
gigi anak, tetapi menurutku hal itu masih lumrah adanya. Di klinik Pedodontia,
seheboh apapun kita bekerja, entah itu meminta bantuan teman untuk menganestesi
pasien anak yang akan dicabut atau alat-alat yang berjatuhan kesana kemari
karena dimainkan oleh anak-anak biasanya supervisor tidak terlalu ambil pusing.
Jadi secara psikologis juga tidak terlalu membawa beban mental pada mahasiswa dalam
bekerja di klinik. Namun, terkadang ada satu hal yang membuatku dan teman-teman
lain merasa agak terganggu di klinik Pedodonti. Gangguan tersebut datang dari
seorang karyawan yang sehari-harinya bekerja di klinik Pedodonti yaitu Mas Ade.
Mas Ade ini terkenal sekali dengan kejutekannya terhadap semua mahasiswa yang
sedang bekerja di klinik Pedodonti. Usianya boleh dibilang tidak terlalu jauh
berbeda dengan kami. Setiap mahasiswa yang meminta tolong kepadanya biasanya
pasti disambut dengan muka yang masam dan gumaman-gumaman yang tidak jelas
adanya. Selain Mas Ade, ada satu orang karyawan lagi yang bekerja di klinik ini
yaitu Pak No. Pak No ini boleh dibilang sudah cukup berumur. Meskipun lebih
pendiam dibandingkan Mas Ade, Pak No ini biasanya cukup galak terhadap
anak-anak yang menjadi pasien di klinik Pedodonti.Pasien_pedokuw

NASHRULLAH!Begitu besar pertolongan Allah yang
kurasakan di klinik Pedodonti ini dan Subhanallah skenarionya begitu indah.
Ketika waktu bekerja di klinik semakin menyempit, aku belum menyelesaikan
requirement-requirement besar seperti pulpotomi dan perawatan saluran akar.
Sebelumnya padahal aku telah mendapatkan pasien untuk perawatan saluran akar,
tetapi ternyata pasienku itu tidak bisa kembali lagi karena tidak diperbolehkan
oleh ayahnya. Alhasil, aku harus mencari pasien lagi dan Alhamdulillah aku
berhasil mendapatkan satu pasien dari seorang kakak kelasku yang bisa dilakukan
perawatan saluran akar. Nama pasienku ini adalah Aldi. Si Aldi ini anaknya
cukup pendiam sehingga terkadang aku tidak mengerti apakah dia merasakan sakit
atau tidak. Setelah kulakukan pemeriksaan lengkap terhadapnya, maka tindakan
selanjutnya adalah membuka kamar pulpa gigi yang menjadi keluhan utama. Setelah
pembukaan kuanggap selesai, ternyata perdarahan dari gigi yang harusnya sudah
mati tersebut tidak juga berhenti. Lantas seorang dokter PPDGS menyuruhku untuk
mengambil foto Rontgen gigi tersebut karena dikhawatirkan pembukaan kamar
pulpaku menyebabkan perforasi ke bagian bifurkasi akar. Ternyata, apa yang
dikhawatirkannya tersebut menjadi kenyataan, aku telah melakukan kesalahan
karena preparasi yang kulakukan berlebihan perawatan saluran akar tidak dapat
dilanjutkan. Setelah selesai, seperti biasa aku mengantarkan Aldi pulang ke
rumahnya dengan hati yang sedih. Namun, apa yang terjadi ketika aku
mengantarkannya pulang ke rumah? Ternyata aku bertemu dengan pasienku yang
diiindikasi dapat dilakukan perawatan saluran akar, tetapi tidak diperbolehkan
oleh ayahnya. Nama pasienku yang satu itu adalah Ayu Ningsih. Saat itu, ia sedang
bermain-main di dekat rumah Aldi dan dia langsung menyapaku. Tenyata, rumah Ayu
tidaklah jauh dari rumah Aldi. Dari situ timbul niatku untuk bersilaturahim ke
rumahnya sekalian bicara dengan ayahnya tentang rencana perawatan gigi yang
akan kulakukan terhadap Ayu. Beberapa hari kemudian, ditemani oleh dua orang
temanku, Erly dan Eveline, aku mencari rumah Ayu dan menemui kedua orang
tuanya. Setelah kami menjelaskan panjang lebar mengenai rencana perawatan yang
akan dilakukan kepada ayahnya, Alhamdulillah ayahnya mengerti dan kemudian
mengizinkanku untuk merawat Ayu. Pada waktu pemeriksaan awal, Ayu membutuhkan
perawatan saluran akar pada dua gigi sulungnya yang sudah non vital. Namun,
setelah aku periksa lebih seksama lagi hanya ada satu gigi yang membutuhkan
perawatan saluran akar karena gigi yang lainnya tersebut karies[lubang]nya
belum mencapai pulpa. Sejujurnya aku pribadi merasa agak kecewa karena berarti
satu requirementku berkurang, tetapi aku yakin bahwa rezekiku tidak akan
kemana. Benar saja, ketika aku akan memasang mahkota logam pada gigi Ayu yang
telah dirawat saluran akar, ternyata Prof. Heriandi yang memeriksa kondisinya
saat itu tidak membolehkanku untuk melakukan pemasangan tersebut karena ada
masih terdapat abses. Setelah kuperiksa lagi, ternyata abses tersebut bukan
berasal dari gigi yang telah dirawat saluran akar, melainkan dari gigi
sebelahnya. Dengan adanya abses, menunjukkan bahwa gigi sebelahnya telah dalam
kondisi non vital dan terindikasi untuk dilakukan perawatan saluran akar. Subhanallah!
Akhirnya, aku bisa mendapatkan satu requirement untuk perawatan saluran akar.

Lain lagi ceritanya pada saat aku mendapatkan
requirement untuk perawatan pulpotomi. Aku memiliki satu orang pasien yang
bernama Ali Mustaqim dan biasa dipanggil Aqim. Pada saat pemeriksaan lengkap
dengan satu orang supervisor, salah satu giginya yang telah mengalami resorbsi
akar diindikasi untuk dicabut. Padahal, menurutku resorbsinya tersebut belum
terlalu besar sehingga masih dapat dilakukan perawatan saluran akar. Aku
mencoba untuk mencabut gigi tersebut, tetapi ternyata gigi tersebut masih
begitu kuat tertanam di dalam tulang.
Oleh karena itu, aku berpikir bahwa gigi tersebut masih bisa dirawat
saluran akar. Akhirnya, pada hari itu aku berniat untuk melakukan pembukaan
kamar pulpa pada gigi Aqim.
Setelah
meminta izin kepada supervisor pada saat itu, aku pun mulai melakukan tindakan.
Apa yang terjadi kala itu? Ketika aku melakukan pengeboran terhadap gigi
tersebut, ternyata mengalir darah segar dari dalam kamar pulpa yang menunjukkan
bahwa gigi tersebut masih dalam keadaan vital. Sesegera mungkin aku melapor
pada Drg. Syahril yang menjadi supervisor saat itu untuk melakukan tindakan
pulpotomi. Jadi, gigi Aqim tersebut mengalami penurunan indikasi perawatan,
mulai dari ekstraksi, perawatan saluran akar, hingga akhirnya pulpotomi! Untuk
requirement pulpotomi yang satunya juga kudapatkan secara tidak sengaja.
Pasienku kali ini namanya Herry yang kebetulan juga adalah tetanggaku. Tadinya
salah satu giginya aku indikasi untuk dilakukan ekstraksi atau pencabutan. Dari
hasil foto Rontgennya pun menunjukkan akar telah mengalami resorbsi hingga
servikal [leher] gigi sehingga tidak mungkin untuk dilakukan perawatan. Namun,
pada saat diperiksa oleh Drg. Ike, ternyata gigi tersebut mengalami perdarahan
yang berarti masih dalam kondisi vital. Drg. Ike mengindikasi gigi tersebut
untuk dilakukan pulpotomi, meskipun resorbsi akarnya sudah cukup besar.

Alhamdulillah wa Syukurillah….pada waktu
tambahan klinik, akhirnya aku dapat menyelesaikan seluruh requirement klinik
Pedodonti termasuk space-maintaner dengan pasienku bernama Diana.
Sesegera mungkin aku mendaftarkan diri
untuk mengikuti Ujian Dokter Gigi [UDG] Pedodonti yang terdiri dari satu kali
ujian pasien berupa pemeriksaan lengkap dan satu kali ujian lisan dengan satu
orang supervisor. Sebelum dilaksanakan ujian pasien, aku harus mencari satu
anak lagi untuk menjadi pasien ujianku. Dibantu oleh salah seorang temanku,
Widya, aku berhasil mendapatkan pasien ujian dari SD yang direkomendasikannya.
Nama pasien ujianku adalah Nurul Livianti atau dipanggil Livia. Sebelum ujian,
aku harus melakukan pemeriksaan lengkap bayangan untuk mengetahui kasus-kasus
apa saja yang terdapat di dalam rongga mulutnya. Dibantu oleh dua orang
temanku, Eveline dan Deasy Daniasari, aku melakukan pemeriksaan lengkap
seadanya dengan alat standar dan lampu senter di ruang senat mahasiswa. Pada
hari Jumat tanggal 10 Juni 2005 aku memantapkan diri untuk mengikuti ujian
pasien. Sebelumnya aku telah banyak bertanya pada senior-seniorku tentang
tipikal pertanyaan yang akan diberikan oleh supervisor pada saat ujian pasien.
Karena aku mengikuti ujian pasien pada hari Jumat, maka kemungkinan supervisor
yang akan menjadi pengujiku adalah Drg.
Levi dan Drg. Ike. Sedari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk diuji
oleh Drg.
Levi karena pada
hari itu temanku, Dhani Ayu Andini, juga akan ujian. Pagi hari pukul 06.00 WIB
aku sudah berangkat dari rumah karena harus menjemput Livia terlebih dahulu. Aku
dan ibunya telah berjanji untuk bertemu pada pukul 07.00 di SDnya.
Tiba di SDnya yang terletak di daerah
Kramat Sentiong pada pukul 06.45 WIB. Jarum jam telah menunjukkan pukul 07.00
WIB dan belum tampak tanda-tanda kedatangan Livia beserta ibunya. Aku masih
bisa menyabarkan diri sambil menunggu aku mengirimkan SMS ke beberapa orang
temanku untuk memohon doa. Lima belas menit kemudian, Livia dan ibunya belum
juga muncul. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya meskipun aku belum
mengetahui lokasi rumahnya tersebut. Berbekalkan alamat yang diberikan oleh
ibunya, pagi itu sebelum ujian, aku menyusuri gang-gang di daerah Kramat
Sentiong untuk menemukan rumah Livia. Setelah beberapa kali bertanya-tanya pada
orang sekitar, Alhamdulillah aku berhasil menemukan rumah Livia. Saat aku
datang, Livia sedang bersiap memakai sepatu dan makan. Dari pengakuan ibunya,
Livia telat bangun karena malamnya tidur terlalu larut menonton acara TV.
Berangkat dari rumahnya pada pukul 07.45 WIB membuat hatiku agak ketar ketir
karena aku belum mempersiapkan peralatan untuk ujian. Belum lagi harus
berebutan kursi dental unit dengan mahasiswa-mahasiswa tambahan yang sedang ada
di klinik Pedodonti. Tiba di kampus UI Salemba pada pukul 07.55 WIB, aku
langsung bergegas untuk menyiapkan alat dan pintu klinik ternyata juga sudah
dibuka. Tadinya aku berpikir akan mendapatkan bangku ujian yang ada sekatnya
sehingga tidak perlu terlalu tegang terlihat oleh supervisor dari tempat
duduknya, tapi temanku Dhani ternyata sudah mengambil tempat itu terlebih
dahulu. Akhirnya aku mendapatkan kursi di sebelahnya yang tidak bersekat. Pukul
08.30 WIB, semua peralatan telah aku sterilisasi dan aku kembali membuka
bahan-bahan untuk ujian. Pada saat itu, Dhani masuk ke ruangan dan berkata
padaku bahwa dia sudah melapor ke Drg. Ike untuk ujian pasien pada hari itu.
Aku kaget, karena berpikir untuk ujian pasien biasanya melapor pada saat
supervisor berada di ruangan. Seketika itu pula aku berpikir bahwa kesempatanku
untuk mendapatkan penguji Drg. Ike sudah berkurang karena Dhani terlah lebih
dahulu melapor padanya. Sebagai catatan meskipun aku sudah bersiap untuk
mendapatkan penguji Drg. Levi, aku tetap berharap mendapatkan penguji Drg. Ike
karena dari beliau lebih baik dan santai dibandingkan Drg. Levi. Pukul 09.00
WIB Dr. Ike masuk ke ruangan dan memberi waktu untuk aku dan Dhani untuk
melakukan pemeriksaan hingga pukul 11 WIB. Hingga pukul 09.30 WIB, aku belum
melihat kedatangan Drg. Levi. Seketika itu hatiku bertanya, seketika itu pula
pintu ruangan klinik Pedodonti dibuka dan Drg. Levi masuk. Aku berpikir bahwa
aku masih memiliki peluang untuk mendapatkan penguji beliau. Pada pukul 10.50,
aku sudah selesai melakukan pemeriksaan ulang dan aku memutuskan untuk segera
melapor pada Drg. Ike. Dhani yang kuajak serta untuk melapor memilih untuk
memeriksa kembali pekerjaannya dahulu. Pada saat aku melapor, kemudian Drg. Ike
berkata pada Drg. Levi bahwa dia akan menjadi penguji mahasiswa yang satunya
lagi yaitu temanku Dhani. Alhamdulillah! Tak disangka-sangka Drg. Ike menjadi
pengujiku. Sebelum memeriksa pasien, terlebih dahulu aku ditanya mengenai
pengisian kartu status dan Alhamdulillah dalam waktu lima belas menit aku dapat
menjawab semua pertanyaan dari beliau. Begitu memeriksa Livia, tidak pertanyaan
Drg. Ike berkisar soal crossbite [gigitan silang] yang ada padanya. Aku
mengalami sedikit stagnasi pada pertanyaan mengenai syarat-syarat rencana
perawatan kasus tersebut. Akhirnya, Drg. Ike memberiku tugas tentang rencana
perawatan crossbite yang dikenal dengan nama Incline Bite Plane. Alhamdulillah, dalam waktu tiga puluh menit
saja aku telah dapat melewati ujian pasien dengan Drg. Ike.
Sementara itu, temanku Dhani harus
melanjutkan ujiannya dengan Drg. Levi seusai beliau sholat Jumat. Sehabis ujian
pasien, masih ada satu ujian lagi yang harus kulalui yaitu UDG lisan. Hari
Rabu, tanggal 15 Juni aku mendapatkan kabar bahwa pengujiku adalah Prof. Dr.
Drg. Retno Hayati, SKM, SpKGA. Meskipun aku belum pernah berinteraksi dengan
beliau, tetapi dari kabar angin yang kudengar beliau cukup baik. Akhirnya pada
tanggal 20 Juni 2005 aku, Deasy Rosalina, menghadapi UDG lisan klinik
Pedodontia. Semua teman-teman satu kelompokku mendukung dan memberikanku doa.
Alhamdulillah, meskipun penuh dengan poci-poci aku bisa melewati ujian tersebut
mulai dari pukul 07.45 hingga pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah lagi, hasilnya
tidak terlalu mengecewakan, aku mendapatkan angka 77 [B+] untuk seluruh
kumulatif requirement beserta ujianku di klinik Pedodontia.

_schwabingSatu hal yang terpenting di klinik Pedodontia
adalah kebersamaan. Alhamdulillah, bersama Ariyadi Prakajaya, Deasy Daniasari,
Desly Reinina, Dewi Kurniyanti, Dhani Ayu, Ditha Indah Lestari, Emmawati
Prawitasari, Erly Zuliana Lubis, dan Eveline, aku dapat melalui hari-hari di
klinik Pedodontia. Kelompok kami memiliki kebiasaan untuk berkonsolidasi dengan
tujuan menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kelompok. Pada forum
konsolidasi tersebut biasanya kamu menumpahkan semua unek-unek yang ada baik
mengenai orang per orang, klinik, atau hal-hal lainnya. Dari situ memang cukup
terbukti efektif untuk mendekatkan tiap-tiap pribadi yang sebelumnya tidak
terlalu intens bersama dalam satu kelompok. Dari klinik Pedodonti ini akan
terus berlanjut ke klinik-klinik berikutnya.

Sepeda tak Berpedal

Sunday, March 12th, 2006

Berjalan meretas hamparan kon blok terakota
di kanan kirinya sejuk akasia mengibaskan
gaun biru hingga sebuah kulot senada tampak
tes…tes…tes…
tak terasa rintik hujan turun
menebarkan keharuman tanah basah

Berjalan susuri ngarai pedalaman
sekeliling pakis demikian subur diselingi gulma
gerombolan pacet tak ketingggalan berpesta pora
menanti kulit-kulit tak berbungkus
lewati belukar

Berjalan hampiri eksibisi akrobatik nan megah
tanpa pedal
karena
telah tertinggal di belakang
sesuatu menenggelamkannya
dalam kuburan tak bernisan

Gembul of the Dayz…

Wednesday, March 1st, 2006

          Pagi ini sebenarnya rada-rada kurang semangat buat
datang ke kampus. Dari semalam badan berasa meriang dan tenggorokan sakit, mau
demam sih kayaknya. Berhubung udah ada janji sama dua orang pasienku untuk
perawatan periodontal hari ini jadilah harus tetap meluruskan niat kembali
untuk tetap datang ke kampus. Berangkat dari rumah jam 6.45 udah siang banget
buatku [karena biasanya berangkat jam 6.15-6.30]…Alhamdulillah sampai di
kampus masih jam 7.15, pintu RS belum dibuka dan batang hidung teman-temanku
yang biasanya udah nongkrong lebih dulu pun tak ada. Alhasil aku pun membawa
barang bawaanku yang lumayan banyak ke lokerku di lantai 4 karena gak ada orang
buat nitipin barang.

Sesudah nyiapin semua perlengkapan dan sterilisasi
alat, perutku udah berasa laper gitu.
Untung tadi dibekalin roti keju dan pisang coklat sama mama. Langsung aja
deh kulahap keduanya :D. Jam udah nunjukkin pukul 8.30, pasien yang mau
bersihin karang gigi belum terlalu banyak dan aku pun berencana untuk gak skeling
[bersihin karang gigi] hari ini berhubung udah ada janji pasien. Jam udah
nunjukkin pukul 9, pasien janji pertamaku belum datang juga, rada deg-degan
juga nunggunya karena biasanya dia tepat waktu. Aku SMS pun dia gak jawab,
akhirnya aku tunggu kedatangannya dengan skeling satu pasien, itu pun aku gak
minta acc dari supervisornya. Gak lama aku kelar skeling, pasien pertamaku
ngabarin kalo dia udah di parkiran.
Rencananya memang dia mau dilakukan perawatan pengasahan dan penstabilan
gigi-gigi yang goyang. Karena perawatan pengasahannya udah aku lakuin hari
Senin kemarin, sekarang giliran temanku, Eveline, yang merawatnya. Tapi dari
pagi supervisor yang ada di klinik cuma ada satu orang dan dokter itu terkenal
jutek banget dan susah minta acc sama dia selain tindakan skeling. Eveline pun
punya pengalaman buruk sama dia karena untuk melakukan suatu tindakan
desensitisasi gigi-gigi yang hipersensitif perlu prosedur yang lebih panjang
dari biasanya. Alhamdulillah, hari ini dia lebih lunak dari biasanya dan tindakan
pengasahan pun bisa dilakukan dengan lancar. But not with me! Setelah Eveline
selesai melakukan pengasahan, aku pun lantas meminta izin untuk memasang kawat
penstabil gigi-geligi tapi dia tidak memberi izin. Alasannya tindakan itu harus
dilakukan di lain hari saja. Padahal menurutku dan Eveline tindakan itu tidak
mengapa dilakukan pada hari yang sama mengingat keefektifan waktu. Akhirnya aku
memutuskan untuk menunggu supervisor siang untuk meminta izin melakukan
tindakan splinting tersebut. Pasienku ku minta untuk menunggu dulu selama
setengah jam dan sementara itu aku suruh saja dia untuk makan siang terlebih
dahulu. Tepat pukul 11.30 supervisor yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Lantas saja aku meminta izin untuk melakukan tindakan splinting dan
Alhamdulillah beliau tidak memperlama prosesnya dan menyuruhku untuk segera
mengerjakannya. Dibantu oleh Pak Min, aku mulai proses pemasangan kawat untuk
menstabilkan gigi-gigi pasienku yang mantan pemain bola PSMS Medan tersebut.
Alhamdulillah, tidak perlu memakan waktu terlalu lama, pukul 12.30 pemasangan
kawat tersebut sudah selesai dan diacc oleh supervisor.

After klinik, aku dan teman-teman segrupku sudah
berencana pergi ke Plasa Semanggi untuk membeli kado temanku yang akan berulang
tahun esok hari, Ariyadi Prakajaya. Berhubung yang punya mobil, Eveline, ada
janji diskusi tatap muka dulu, jadilah aku dan Erly menunggunya sambil makan di
kantin. Niatnya sih mau sekedar nyemil aja karena mau cari makanan di Plangi,
tapi lapernya udah gak tertahankan. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli spaghetti
dan Erly beli bandeng presto plus nasi. Berhubung porsi spaghettinya sedikit,
pas itu makanan udah abis, perutku masih aja berasa laper. Eh ternyata si Erly
gak ngabisin makanannya dan akupun bantuin Erly buat ngabisin bandeng
prestonya:D. Usai dari kantin ternyata si Eveline gak jadi buat diskusi sama
dosennya. Langsung aja deh kami chao ke Plasa Semanggi. Sampai di sana si
Eveline yang belum makan siang teriak-teriak minta cari makan
dulu. Kami mutusin buat makan di Mister
Baso di lantai 3A. Tadinya sih aku niat cuma buat nyemil doangan, tapi ternyata
tergiur juga ngeliat bakso berhubung udah lumayan lama juga gak makan bakso.
Aku dan Erly sama-sama pesen baso urat dan Eveline pesen mie ayam baso jamur.
Abis makan kami tertarik buat nyari pencuci mulut dan aku ngusulin buat nyemil
Banana Splitnya Celcius Cafe yang terletak arah jam 10 dari Mister Baso. Sampe
di Celcius ternyata kami tergiur lagi sama menu-menunya. Waduh gawat bener sih
nih emang perut. Acara nyari kado malah jadi acara makan-makan.
Aku dan
Eveline akhirnya pesen Banana Split Ice Cream dan Erly Strawberry Ice. Berhubung
masih keinget enaknya lumpia Celcius, selain itu aku juga pesen lumpianya. Eh,
si Eveline juga gak mau kalah dengan pesen sate ayam khas Celcius [khasnya sih
tambahan aja :D]. Dan Banana Splitnya pun datang!!!Wahhh…enak buangettt itu
Banana Split emang tob abizzz…lumpianya juga enak…Jadilah hari ini kami
kekenyangan makan, untungnya gak kelupaan nyari kado buat si Ari…huehehehe….