Archive for June, 2006

Pentingnya Pemeriksaan TORCH

Saturday, June 17th, 2006

 

Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan sebuah kabar duka. Sepupuku yang
menikah pada awal Februari 2006 lalu mengalami keguguran setelah mengandung
selama empat bulan. Sebuah kenyataan yang membuat hal tersebut bertambah
menyedihkan adalah pada saat dilakukan kuret, Masya Allah, janin tersebut
ternyata tidak memiliki kepala. Sebelum kabar keguguran tersebut aku juga
sempat dikabari bahwa pada saat sepupuku itu melakukan USG di bulan ketiga usia
kehamilannya, tidak terdapat gambaran kepala pada janinnya. Namun, menurut
dokter kandungannya hal itu dimungkinkan karena usia kehamilannya masih terlalu
dini sehingga kepalanya belum terlihat. Setelah melihat kenyataan yang ada pada
saat sepupuku itu keguguran, dokternya kemudian menyatakan bahwa ada
kemungkinan sepupuku itu terinfeksi TORCH.


Sejatinya ibu hamil dengan janin yang dikandungnya memana sangat peka
terhadap berbagai jenis infeksi dan penyakit menular. Beberapa di antaranya
tidak mengancam nyawa sang ibu, tapi justru menimbulkan dampak pada janin dengan
akibat antara lain, abortus, pertumbuhan janin terhambat, bayi mati dalam kandungan,
serta cacat bawaan. Infeksi TORCH ialah infeksi-infeksi dapat terjadi pada masa
janin berada dalam rahim (uterus); merupakan singkatan dari T= Toksoplasmosis,
O = other (penyakit lain misalnya sifilis, HIV-1dan 2, AIDS), R = Rubela
(campak Jerman), C = Cytomegalovirus, H = Herpes simpleks. Besarnya pengaruh
infeksi tersebut tergantung dari virulensi agennya (virus atau bakteri), umur
kehamilan, serta imunitas ibu bersangkutan
saat infeksi berlangsung.


Toksoplasmosis merupakan penyakit protozoa sistemik yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii dan biasa menyerang binatang
menyusui, burung, dan manusia. Pola transmisinya ialah melalui plasenta pada ibu
hamil. Infeksi Toxoplasma pada
trimester pertama kehamilan dapat mengenai 17% janin dengan akibat abortus,
cacat bawaan dan kematian janin dalam kandungan, risiko gangguan perkembangan
susunan saraf, serta retardasi mental.


Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan infeksi Treponema pallidum; dapat akut maupun kronis yang mempunyai
gambaran khas yaitu lesi, erupsi kulit dan mukosa; jangka panjang dapat mengakibatkan
lesi tulang, sistem pencernaan, sistem saraf pusat, dan sistem kardiovaskuler. Penularan biasanya terjadi karena adanya
kontak dengan cairan infeksius yang berasal dari kulit, membran mukosa, cairan
dan sekret tubuh (darah, ludah, cairan vagina). Penyakit ini dapat ditularkan
melalui plasenta sepanjang masa kehamilan. Infeksi penyakit ini juga dapat
menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, atau bahkan kematian janin.


HIV dan AIDS terjadi karena infeksi retrovirus. Pada awalnya infeksi ini
menunjukkan gejala yang tidak spesifik, misalnya adanya pembesaran kelenjar
(limfadenopati), anoreksia, diare kronis, penurunan berat badan, dan
sebagainya. Penularan terjadi karena kontak seksual antar manusia atau
transfusi darah. Pada janin penularan terjadi secara transplasenta, tetapi
dapat juga akibat pemaparan darah dan sekret dari leher rahim selama
persalinan.


Rubella (German measles) disebabkan oleh virus Rubella yang termasuk. Infeksi
virus ini terjadi karena adanya kontak dengan sekret orang yang terinfeksi; pada
wanita hamil penularan ke janin secara intrauterin. Penyakit ini agak berbeda
dari toksoplasmosis karena rubela hanya mengancam janin bila didapat saat
kehamilan pertengahan pertama, makin awal (trimester pertama) ibu hamil terinfeksi
rubela makin serius akibatnya pada bayi yaitu kematian janin intrauterin,
abortus spontan, atau malformasi kongenital pada sebagian besar organ tubuh
(kelainan bawaan).


Sitomegalovirus disebabkan oleh Human cytomegalovirus. Penularannya lewat
sekresi maupun ekskresi tubuh yang terinfeksi (urine, ludah, air susu ibu,
cairan vagina, dan lain-lain. Pada kehamilan infeksi pada janin terjadi secara intrauterin. Pada bayi,
infeksi yang didapat saat kelahiran akan menampakkan gejalanya pada minggu ke
tiga hingga ke dua belas; jika didapat pada masa perinatal akan mengakibatkan
gejala yang berat antara lain menimbulkan sindrom berat badan lahir rendah,
kepala kecil, pengapuran intrakranial, retardasi mental, dan pembesaran hati
dan ginjal (hepatosplenomegali).


Herpes simpleks disebabkan infeksi Herpes simplex virus (HSV); ada 2 tipe
HSV yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya mempunyai gejala ringan dan hanya
terjadi pada bayi karena adanya kontak dengan lesi genital yang infektif;
sedangkan HSV tipe 2 merupakan herpes genitalis yang menular lewat hubungan
seksual. Pada bayi infeksi ini didapat secara perinatal akibat persalinan lama sehingga
virus ini mempunyai kesempatan naik melalui membran yang robek untuk menginfeksi janin.


Setelah mengetahui berbagai jenis infeksi pada ibu hamil di atas, maka
rasanya sangat penting untuk mengetahui adanya infeksi ini secara dini pada ibu
hamil. Sebaiknya seorang ibu yang merencanakan suatu kehamilan melakukan
pemeriksaan TORCH.
Pemeriksaan
TORCH memungkinkan diketahui adanya virus dan dikontrol melalui obat-obatan, sehingga
tidak menular pada janin. Jika tidak segera diatasi, virus ini bisa mengakibatkan
hiperaktif atau keterlambatan perkembangan, cacat tubuh, atau kematian ketika
bayi dilahirkan. Untuk pemeriksaan TORCH sendiri dapat dilakukan di
laboratorium –laboratorium klinik atau rumah sakit yang menyediakan layanan
tersebut. Atau sebelum melaksanakan pernikahan, dapat juga dilakukan pre marital check-up. Pemeriksaan
tersebut biasanya mencakup pemeriksaan kesuburan bagi pasangan serta
pemeriksaan TORCH. Cegahlah semuanya sebelum terlambat.

 -dikompilasi dari berbagai sumber-

Bleaching

Sunday, June 11th, 2006

Akhir-akhir
ini tren masyarakat semakin berkembang untuk lebih memperhatikan
kondisi gigi geliginya. Hanya saja, nampaknya perkembangan tersebut
masih secara parsial, dalam arti bahwa hanya faktor estetis saja yang
lebih diperhatikan sedangkan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan
fungsi gigi itu sendiri jarang menjadi perhatian. Kebutuhan pasar akan
pemenuhan fungsi estetis gigi ini lantas disambut hangat oleh para
penyedia jasa ini. Banyaknya produk-produk untuk memutihkan gigi atau
bahkan dibukanya pusat-pusat pemutihan gigi adalah beberapa contohnya.
Masyarakat pun kemudian berlomba-lomba untuk memutihkan gigi mereka
seperti layaknya bintang iklan pasta gigi. Namun, yang jarang menjadi
perhatian bagi para konsumen adalah efek samping dari penggunaan bahan
pemutih gigi itu sendiri. Sebetulnya bagaimanakah efek dari pemutih
gigi terhadap gigi itu sendiri? Apakah setiap diskolorisasi (perubahan
warna) gigi harus diperbaiki dengan bleaching?

Sebelum
beranjak pada pembahasan mengenai bahan dan teknik pemutihan gigi, maka
ada baiknya untuk menilik faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab
diskolorisasi (pewarnaan) gigi. Warna normal gigi permanen adalah
kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan, atau putih kekuning-kuningan.
Derajat perwarnaan gigi ini ditentukan oleh ketebalan dan translusensi
email, ketebalan dan warna dentin yang melapisi di bawahnya, dan warna
pulpa. Dengan bertambahnya usia, email dapat menjadi lebih tipis dan
dentin dapat menjadi lebih tebal karena adanya proses fisiologis yang
terjadi di dalam gigi. Proses inilah yang nantinya dapat menyebabkan
diskolorisasi pada gigi selama hidup seseorang. Oleh karena itu, gigi
orang tua biasanya berwarna lebih kuning atau kebau-abuan atau abu-abu
kekuning-kuningan daripada gigi orang muda.

   

Adapun
faktor-faktor yang dapat menyebabkan diskolorisasi dapat
diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu faktor ekstrinsik dan faktor
intrinsik. Faktor ekstrinsik adalah faktor-faktor dari luar yang dapat
menyebabkan diskolorisasi gigi, misalnya saja noda tembakau pada orang
yang merokok, minuman seperti teh atau kopi, atau bahan tambal gigi
berupa amalgam. Biasanya diskolorisasi yang disebabkan oleh faktor
ekstrinsik dapat dihilangkan dengan cara menyikat gigi secara benar dan
teratur, pembersihan karang gigi dengan alat ultrasonik atau dengan
obat pemutih eksternal (yang ini merupakan pilihan terakhir). Faktor
yang kedua adalah faktor intrinsik yaitu faktor-faktor dari dalam yang
dapat menyebabkan diskolorisasi gigi. Faktor instrinsik ini berhubungan
dengan adanya penumpukan noda yang terdapat di dalam email dan dentin.
Noda ini dapat berasal antara lain dari penggunaan antibiotik
tetrasiklin, adanya perdarahan di dalam pulpa gigi (proses
nekrosis/kematian gigi), dan gangguan pada saat tumbuh kembang gigi
geligi. Diskolorisasi yang disebabkan oleh gangguan pada saat tumbuh
kembang gigi geligi seperti Amelogenesis imperfecta
(perkembangan email yang tidak sempurna sehingga menghasilkan gambaran
email gigi dengan bercak-bercak kekuningan) tidak mungkin dapat
dihilangkan karena berasal dari kerusakan perkembangan email dan dentin
kecuali dengan prosedur pembuatan mahkota tiruan (crown/jacket). Namun,
diskolorisasi akibat proses nekrosis dapat dihilangkan dengan prosedur
pemutihan.

Bahan-bahan
yang biasa digunakan untuk memutihkan gigi antara lain adalah Hidrogen
Peroksida, Natrium Perborat, dan Karbamid Peroksida. Dari ketiga jenis
bahan ini, Natrium Perborat terbukti cukup efektif dan aman untuk
digunakan. Sesuai dengan penyebab dari diskolorisasi gigi, maka teknik
bleaching juga ada dua macam yaitu teknik bleaching eksternal dan
internal. Teknik bleaching eksternal dimaksudkan untuk teknik pemutihan
dengan mengaplikasikan bahan pemutih gigi pada permukaan email. Hasil
yang diperoleh dari teknik bleaching eksternal ini biasanya kurang
efektif karena biasanya perubahan warna terjadi pada dentin, sedangkan
bahan pemutih yang diletakkan pada email yang relatif tidak permeabel
sedikit peluangnya untuk mencapai derah yang berubah warna. Namun, jika
perubahan warna terdapat pada permukaan email atau emailnya rusak,
dapat diharapkan hasil yang lebih baik. Efek samping dari teknik ini
adalah rasa terbakar pada jaringan lunak dan sensitivitas gigi juga
mungkin ada hubungannya dengan penggunaan bahan-bahan tersebut.

   

Teknik
yang kedua adalah teknik bleaching internal. Pada teknik ini, bahan
pemutih dimasukkan ke dalam kamar pulpa yang sebelumnya telah dirawat
saluran akar. Berdasarkan sejumlah laporan klinis dan pemeriksaan
secara histologis menunjukkan bahwa pemutihan secara internal dapat
merangsang adanya proses resorpsi akar di daerah leher gigi. Selain
itu, teknik bleaching internal juga dapat menyebabkan peningkatan
kerapuhan struktur bagian mahkota gigi.

 

 

Setelah
mengetahui penyebab diskolorisasi gigi, macam-macam bahan dan teknik
bleaching, serta efek samping yang ditimbulkan dari bleaching, maka
diharapkan masyarakat dapat lebih bijaksana lagi dalam mengambil
keputusan untuk memutihkan gigi. Sesungguhnya gigi yang sehat bukan
hanya dilihat dari putih atau tidaknya gigi tersebut, tetapi apakah
gigi tersebut dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau tidak. Apa
gunanya gigi yang putih bersinar tetapi mudah berlubang??? Hal yang
terpenting sekarang adalah menjaga kebersihan gigi dan mulut seoptimal
mungkin dan juga kontrol secara rutin ke dokter gigi untuk mendeteksi
secara dini adanya kelainan-kelainan pada gigi.

Diam

Saturday, June 3rd, 2006

lihatlah baur yang menyatu
dalam hamparan laut
tak berbatas
tak bertepi

riak menepi
ombak berganti
Maha Adil Sang Pencipta

adalah karuniaNya
pertemukan kembali dua insan
adalah iradahNya
pertautkan selisik hati dalam cinta

tak kan ku enyahkan rasa
bila datangnya benar dari Rabbku
tak kan ku bakar remah-remah keletihan
hanya tuk menanti

karena semesta telah ajariku
melangkah dalam ruangNya
karena hening telah merasukiku
menuntun turuti nurani

tentang Konservasi

Friday, June 2nd, 2006

Sebulan ini lagi riweh-riwehnya sama ujian Drg
lisan di Departemen Konservasi Gigi alias urusan tambal menambal. Mulai dari
ngelengkapin requirement jadi 100% sampe bongkar-bongkar lagi belasan textbook
yang sudah dicopy dari masa preklinik yang sama sekali belum pernah dibuka buat
persiapan ujian. Ternyata nih hasil dari pembongkaran terkumpullah 12 textbook
saudara-saudara!!! Textbook terbanyak yang aku miliki dari semua bagian yang
ada di FKG…kalo di bagian lain, paling banter cuma punya dua ato tiga textbook.
Alhasil, bingung deh textbook mana yang mau dibaca duluan buat nyicil belajar.
Tadinya sih niat mau ujian lisannya baru awal Juni ini, tapi ternyata
pendaftaran ujiannya udah dibuka mulai pertengahan Mei, ya kepalang tanggung
daripada nunggu nanti2 lagi, mendingan daftar sekarang aja deh.

Pada hari yang udah ditentuin, koordinator
profesi, Drg. Kamizar, SpKG memanggil semua peserta ujian Drg Konservasi
sebanyak 12 orang ke klinik. Ternyata pada hari itu akan dilakukan pengundian
nama penguji! Wedew…sempet rada deg2an juga…sekali tangan kita ngambil tuh
kertas, saat itu juga nasib kita di Konservasi ditentuin. Belum kelar
deg2annya, ehhhh si RoSa disuruh jadi yang pertama ngambil itu kertas
undian!…Kubuka dengan perlahan-lahan kertas itu…dan terlihatlah di situ
kode nama dosen penguji…NK-KZ!!!It means, pengujiku adalah Drg. Nilakesuma,
SpKG dan Drg. Kamizar, SpKG. Alhamdulillah wa syukurillah…kalo dari kabar
burung yang beredar selama ini, beliau berdua adalah dosen paling enak ngujinya…karena
selain kadang-kadang bisa disambi ngobrol, kalo mahasiswanya gak bisa jawab
biasanya mereka suka mancing ato bahkan dikasih jawabannya sekalian.

Akhirnya pada tanggal 29 Mei 2006, aku menjalani
ujian Drg lisan konservasi. Seumur-umur aku mengikuti ujian lisan di FKG, baru
kali ini aku merasakan deg-degan yang luar biasa! Dari malam sebelum ujian,
rasanya tachycardia [jantung berdetak lebih cepat] banget. Ujian berlangsung
mulai dari jam 11 hingga 12 siang. Pertanyaan seputar diagnosis kasus, rencana
perawatan, hingga tahap-tahap kerja. Dari beberapa pertanyaan tersebut ada
beberapa yang aku jawab dengan kurang PD…dan untuk alasan itulah akhirnya
mereka berdua menyuruhku untuk mengulang ujian pada hari Rabunya, 31 Mei 2006.
Malam hari sebelum ujian keduaku berlangsung, psikosomatis tachycardianya
muncul lagih…tapi aku telah memasrahkan semuanya pada ALLAH…Que Sera
Sera…

Pada hari Rabunya, tibalah saat-saat ujian
keduaku.
Agak tremor juga
masuk ke ruang ujiannya. Apalagi Drg. Nila bilang kalo dia akan menguji
terlebih dahulu sebelum Drg. Kamizar…bakal tambah lama nih ujiannya
pikirku….Sebelum mulai ujian Drg. Nila meminta izin padaku untuk mengirimkan
SMS terlebih dahulu. Dan rupa-rupanya skenario ALLAH memang skenario yang
paling indah. Berawal dari SMS tersebut, aku mencoba untuk mengurangi
ketegangan dengan mengajak beliau bicara.
Dari pembicaraan itulah kemudian malah bersambung
kemana-mana. Pada ujian keduaku yang berlangsung selama satu setengah jam itu,
kedua pengujiku itu hanya tentang pertanyaan yang kemarin aku jawab dengan
ragu-ragu, selebihnya kami malah berbincang-bincang soal anaknya Drg. Nila,
permasalahan2 di klinik Konservasi, sampai masalah ta’aruf!!!! Huehehehe…Alhamdulillah
wa syukurillah! Setelah itu ujianku dinyatakan selesai oleh
mereka….Subhanallah! Walhamdulillah! WallahuAkbar!!!

Untuk itu, pada kesempatan ini, aku ingin sekali
berterima kasih yang sebesar-sebesarnya dari lubuk hati yang paling dalam
kepada :

1. ALLAH SWT yang dengan kasih sayangNya telah memberikan
pertolonganNya kepada hambaNya yang demikian lemah dan hina ini

2. Mama
dan Papa tercinta : Dra. Lien Herlina
dan M. Zein Sukri…makasih yah Mah,
Pah atas doa dan dukungan buat Ade…semoga ALLAH SWT senantiasa mencurahkan
rahmatNya pada kalian berdua…Amin

3. Dua
orang dosen pengujiku : Drg. Nilakesuma
Djauharie, SpKG
dan Drg. Kamizar,
SpKG
, terima kasih banyak atas bimbingan dan obrolan-obrolan selama
ujiannya yah Dok
J

4. Pasien
ujian tambalanku : Kabul Wahono,
yang telah demikian kooperatifnya mau aku kerjain :D…meski dengan mata yang
beler datang ke klinik lantaran habis begadang semaleman di Indosat..terima
kasih jgua atas tips2 buat menghadapi ujiannya [kayaknya emang aku tambah endut
pasca ujian nih Bul’e :p]

5. Pasien
ujian perawatan saluran akarku sekaligus adek kelasku di angkatan 2005 : Mita Fauziah Damanik, yang meski pada
awalnya ketakutan mau dirawat, tapi Alhamdulillah bisa nurut juga akhirnya

6. Pasien
yang telah memberikan persentase requirement Konservasi terbanyak [31%] : Bapak Djeremia, meski sempet ada
insiden dilabrak sama ’TTM’annya terus ketiduran pas dipreparasi saluran akar,
Alhamdulillah akhirnya bisa kelar juga dua perawatan saluran akar plus
restorasi onlaynya

7. Pasien
yang memberikanku nilai paling tinggi selama di Konservasi atas restorasi kelas
IVnya [85!] sekaligus sahabat terbaik yang pernah kumiliki : R Permono, semoga ALLAH SWT selalu
memberikan rahmat dan berkahNya pada dirimu, Amiiin ya Rabb

8. Pasien-pasien
konservasiku yang lainnya : Mbak Novita
Sari, Ibu Asih
, Ibu Inge, dan Bapak Sarman Panggabean….terima kasih
banyak atas kesediaan dan kepercayaannya pada RoSa dalam merawat gigi

9. Sobat
terbaikku yang kusayangin banget banget : Deasy
Daniasari
, Deasykuwwwww!!!!kapan yah kita mengalami malam-malam bersama
seperti tempo hari lagih???Jazakillah udah mau nemenin RoSa belajar sampe jam 3
pagi meskipun ku tau matamu udah 1 watt :p…Jazakillah juga udah mau jadi
pendengar yang baik soal hiperemia pulpa, pulpitis, nekrosis pulpa, abses,
granuloma, sampe cupu2an :p

10. Temen-temen
2001 seperjuangan ujian konser : Eveline,
Tia Herfiana, Vera Kusuma, Vidya Ayuningtyas, Agi Ardianti
….segera
setelah pengumuman keluar, kita musti realisasiin nadzar2 kita yah!!!hehehehe

11. Tukang
bajaj yang belum pernah sekalipun naik bajaj : Samsam Usama, Jazakallah yah ’a udah mau ngerelain mata, kuping, n
pulsanya buat nyemangatin RoSa belajar dari Pekanbaru…moga-moga bisa cepet walimah sama
teteh di Bandung ;)

12. Temen-temen
grup CD kuwww: Ariyadi Prakajaya, Deasy Daniasari [again], Desly Reinina, Dewi Kurniyanti, Dhani AA, Ditha IL, Emmawati PS, Erly Zuliana…yang selalu ngasih dukungan, semangat,
n perhatian buat temennya ini, meski dengan kata-kata yang sarkastis :D

13. Orang
yang tidak terduga-duga dapat menyelamatkanku di ujian lisan konservasi
: Ahmad Yani…makasih banyak yah k,
secara tidak sengaja kk telah menyelamatkanku lantaran Drg. Nila pernah
menitipkan anaknya yang kul di Penerbangan ITB 02 ke kk
 , smoga tesisnya bisa segera kelar Juli ini terus berangkat deh ke Jepang, Aminn

14. Orang-orang
yang telah memberikan doa dan dukungannya kepada RoSa sebelum ujian : Drg. Gunarso Gunadi, PhD [dokter yang
merawat orthokuwww...terima kasih banyak yah Dok atas perhatiannya], Dimas Widyasastrena [S2 EL
ITB’04....makasih banyak atas tips2nya yah k...jadi kapan donk mau
dicomblangin???:P], Rahmat Purbaningrat
[MS ITB’01...thanx yah Matz gak pernah bosen buat bangunin RoSa buat QL], Mutiara Harvia Dewi [FKG UI’01...gak
nyangka loh kamu bakal SMS malam itu, hehehe], Siti Fachmy Novianti [FKG UI’01...jazakillah ukh atas sgala
perhatian dan dukungannya], Cahyanti WS
[
FKG UI’01...wah pas malam Senin kita sama-sama deg2an yah Yas???lantaran
besoknya sama-sama mau UDG], Dini
Saraswati
[Bogor...duh kapan yah kita bisa kopi darat mba???], Nita Trisula [Plaza Indonesia...makasih banyak yah mba atas
traktiran ultahnya yang bikin semangat!:p], Mba Elly Kuswandari n Mba Hermy [kangen
banget deh sama mbaaaaa], Kuncoro Adi
Nugroho
[EL Trisakti’01...thanx berat atas obrolan-obrolan malam itu
yah...moga lo cepet insap deh Cor...hueheheh], Zamri Rahmat [ TKim UGM’01...weits, gak nyangka bakalan dapet
’durian runtuh’ ditelpon kamu sebelum ujian Jam, kapan donk traktirannya???pan
baru diterima kerja ;)], Dian Suryanata
[Jakarta...wah kapan donk kamu mau berobat gigi Dian???], Tri Setiono Rachmadi [FK UnPad’01...syukron yah Tri...moga-moga Ko
As kamu juga cepet kelar, amiiin], Tian
Ahmad
[temen SDku yang udah lama banget gak kontak, eh tiba-tiba dia tau
aja kalo RoSa mau ujian, makasih yah Yan ], Nanda Praharsa [IPB ’01...kumaha bang???damang...hehehe koq
ngomongnya Sunda pisan yak???], Febriman
Abdillah
[si uda yang suka nyelonong aja, tapi ternyata care juga nih,
hehehe tetep semangat dan optimis yah Da, kalo udah jodoh mah gak akan kemana deh ;) ]

15. dan
semua pihak yang tak dapat RoSa sebutkan satu persatu…RoSa tetap memohon doa
dan dukungannya agar langkah-langkah RoSa tuk menjadi seorang Drg semakin
mantap…Aminnn