Archive for July, 2006

Flamboyan

Sunday, July 16th, 2006

di raut malam yang berkawan pada suatu kesunyian
getirnya dedaunan menelusup tak hendak memeluk sisa-sisa arang
demikian Arasy mengejawantahkannya
di antara puing-puing salju yang tiada pernah ada
resahnya belulang akan pengembaraan telisik dingin
menapaki tiap jejak-jejak kaki di bawah guguran pepohonan
cawan-cawannya tak habis berisi jernih air
seakan ingin merefleksikan suatu keabadian

gelombang bebukitan menghijau di kejauhan
tak ingin mengalah pada awan-awan yang kian menebal
rasa-rasa toska hampir saja menang
andai secarik iftitah dan hipotalamus tak bereaksi
hembusan telaga sewarna bak biusan khamr
menanti reruntuhan kamboja di sudut jalan

siapa nyana kan secercah hudan di bilik khauf
kala mushaf berkidung kan sebuah antologi
dalam gempita aliran tausiyah
tiap aksaranya meski telah empat belas abad berlalu
hamparan pesonanya menggetarkan jiwa-jiwa yang terzholimi

hantarkan asa ke terbitnya mentari pagi
sanjungkan puitisasi angan dalam bait-bait lantunan dzikir
Subhanallah…Walhamdulillah…wa Laa ilahaillahuallahuakbar

Proud of U All !!!

Friday, July 14th, 2006

Udah dua hari ini aku bener-bener full di rumah aja. Operasi gigi geraham
bungsu dan gigiku yang berlebih pada hari Selasa lalu telah membuat pipi kiriku
menjadi bengkak dan memar. Unfortunately, jilbab yang kukenakan tak dapat
menutupi bengkak dan memar tersebut. Dua hari yang lalu hal ini menjadi pusat
perhatian orang-orang sekampus dan pertanyaannya sama, ”Ocha abis diOD [odontektomi,red] ya???” Walhasil aku harus berulang-ulang
menjelaskan bahwa yang dioperasi bukan hanya satu gigi melainkan dua gigi. Daripada
kondisiku ini terus menjadi pertanyaan tiap orang yang kutemui, lebih baik
kuputuskan untuk rehat dulu di rumah agar kondisinya dapat membaik.

 

Sebetulnya, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan di kampus yaitu
mengerjakan laporan kasus bedah mulut. Laporan tersebut harus segera diselesaikan
karena residen bedah mulut telah meminta untuk mengumpulkannya hari Jumat ini. Namun,
berhubung kondisiku tidak memungkinkan jadilah aku harus mendelegasikan tugas
tersebut kepada teman-teman satu grupku di grup C. Hari Rabu malam telah kukirimkan
file laporan kasus kepada temanku, Deasy, agar keesokan harinya mereka dapat mengerjakannya
seusai jadwal klinik. Tak lupa kukirimkan SMS kepada tiga orang temanku agar laporan
tersebut bisa diselesaikan hari Kamis kemarin.
Hari Kamisnya aku pun memantau dan menyemangati mereka
via SMS.
Wuahhh…bangga banget
deh sama kerja mereka. Bayangin aja!Seumur-umur kita di klinik, grup C yang terdiri
dari, Ari, Deasy, aku sendiri, Desly, dan Dewi, belum pernah tuh yang ngerjain tugas
sampe jam 9 malam.
Waktu di bagian public health pun maksimal cuma sampe
jam 8. Deasy dan Desly pun sampe di rumah jam setengah 11 malem. Wew…rekor
banget deh pokoke…Good job friends! Keep up the good work! I’m really proud of
u all

 

Aufklarung

Thursday, July 13th, 2006

detik
bagai berjalan di tempat
menit
tak hendak berlari meninggalkan diri
masa
kan tetap menunggu apapun adanya jiwa

tahniah
atas kecakapan suatu kejayaan
retorika tiada tara
melesat demikian pesat

mauidzah
hakikat sebuah ketawadhuan
dalam rinai-rinai juwita nan elok

hamasah
terbit hingga ke profunda
meski pucuk-pucuknya mengering
di satu fase dalam perjalanan

Harafisy

Sunday, July 9th, 2006

Terdiam diri ini…sungguh ku tersentak kala kau sampaikan kabar itu padaku.
Sejak awal ku telah mengira bahwa detik-detik itu lambat laun kan menghampiri
kita.

Saat di mana dirimu kan meninggalkan diriku.

Saat di mana tiada lagi celoteh-celoteh riangmu di malam hari.

Saat di mana tak ada lagi dering telponku yang berasal darimu.

Saat di mana kisahku tiada lagi berarti untukmu.

Saat di mana semua petualangan kita kan berakhir.

Saat di mana kau merasa harus menjemput kebahagiaanmu sendiri.

Saat di mana rasionalitasmu telah kalah oleh hawa nafsu yang berbungkus
rasa sayang.

 

Melunglai raga ini…sungguh ku terkejut menerima pengakuanmu kala itu.

Tiada ku sadari…butiran-butiran hangat dari mata ini meleleh kala kau
kirimkan pesan singkat itu padaku. Pesan yang menyatakan bahwa kau telah
mengikrarkan janji dengan seseorang yang telah mencuri hatimu.

 

Cintaku…mungkin aku telah gagal tuk merebut hatimu. Sungguh, demikian
sayang diri ini padamu. Ku tak ingin dirimu mengalami penyesalan di kemudian
hari. Apalagi nuraniku berkata bahwa dia bukanlah seseorang yang tepat untukmu.
Dan dirimu pun bertutur
padaku jua ragu akan dirinya. Namun, sejatinya seorang pelakon dengan mudahnya
ia berucap janji-janji manis tentang masa depan.

Kau pun meluluh…

Kau abaikan nuranimu

Kau biarkan air itu mengalir

Kau runtuhkan semua bentengmu

Kau semaikan harapan-harapan semu

Kau sambangi dirinya dengan senyuman

 

Sayangku…kau minta diriku tuk tetap temani dirimu. Apatah alasan diriku
tuk menolak permintaan dirimu itu?

Karena ku tulus menyayangimu

Karena ku ingin tetap berada di sampingmu

Karena ku kan mendukungmu dalam letihmu

Karena ku terus semangatimu meski diriku pun merintih

Karena ku ingin segala yang terbaik untukmu

Karena ku ingin pelukmu dalam kasihku

Karena ku ingin bawamu pada cintaNya

 

Kasihku…semoga Allah SWT senantiasa menuntunmu di jalanNya…semoga
pilihan yang kau ambil tiada kau sesali di kemudiannya…semoga kau dapat
berhijrah menuju cahayaNya…karena kita adalah Harafisy…semoga Allah selalu
menaungi kita dalam cintaNya…Amin…

 

 

-teruntuk seorang sahabatku…semoga kehadiran pria itu tak lantas menjadi
pembatas bagi kita berdua…ku yakin kau telah cukup dewasa tuk memilih apa
yang terbaik untuk dirimu-

Kejahatan Intelektual

Sunday, July 9th, 2006

Plagiarisme…mungkin hanya salah
satu contoh dari sekian banyak kejahatan intelektual. Dalam dunia akademisi, plagiarisme adalah sebuah
dosa besar. Ada orang yang bilang jika seorang politisi itu boleh berbohong,
tapi tak boleh salah, tetapi seorang peneliti atau akademisi itu boleh salah,
tapi tak boleh berbohong. Pun teringat perkataan seorang dosenku yang
menyatakan bahwa dia lebih bisa menerima sebuah kebodohan dibandingkan
kebohongan. Sungguh, pada titik ini plagiarisme merupakan suatu kebohongan yang
sejatinya tidak mencerminkan seorang akademisi sejati.

 

Well…rasanya menjadi korban plagiat memang betul-betul menyakitkan.
Apalagi yang melakukan plagiarisme adalah seseorang yang kita kenal baik.
Kejadian itu menimpa diriku beberapa minggu yang lalu. Seperti halnya di
Departemen lain, di Departemen Prostodontia aka Gigi Tiruan yang sedang aku
jalani saat ini juga memiliki requirement untuk membuat satu laporan kasus yang
diseminarkan. Kasus-kasus yang diseminarkan biasanya merupakan kasus-kasus
pasien yang unik dan perlu penatalaksanaan khusus dalam pembuatan gigi
tiruannya. Alhamdulillah, aku telah menyelesaikan seminar laporan kasus untuk
pembuatan gigi tiruan cekat pada bulan Desember 2005 yang lalu dengan
pembimbing Drg. Djaja Suminta, SpProst. Topik yang kuangkat adalah mengenai
pembuatan gigi tiruan pasak pada pasien dengan Diabetes Mellitus terkontrol.

 

Mungkin satu hal lain yang menjadi kelemahanku adalah aku sulit sekali
menolak permintaan orang lain. Beberapa minggu lalu ketika salah seorang
temanku ingin meminjam file laporan kasus Prostodontiaku, dengan serta merta
aku mengiyakannya karena kupikir dia hanya akan melihat format yang telah aku
buat. Kebetulan topik yang akan diangkat oleh temanku ini adalah juga mengenai
pembuatan gigi tiruan pasak. Namun, bagaikan disambar petir di malam hari, pada
suatu malam h-2 sebelum dia mengadakan seminar laporan kasus, dia mengirimkanku
sebuah SMS yang berbunyi:”Ass Ocha, maaf
ya ……[dia menyebutkan namanya] terpaksa mencopy seluruh laporannya Ocha
karena waktunya udah mepet, semoga Allah membalas semua kebaikan Ocha, Amin
.”
Ya Rabb…apakah hal yang telah kulakukan dengan meminjamkan file laporanku
adalah sebuah kebaikan??? Pada titik itu, aku masih optimis bahwa dia tidak
akan mungkin mencopy seluruh hasil laporan yang telah kubuat. Namun, kenyataan
berkata lain. Pada hari H temanku tersebut mempresentasikan laporan kasusnya,
aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata dia benar-benar memplagiat
seluruh laporan kasusku mulai dari bab Pendahuluan hingga Daftar Pustaka!!!
Hanya pada bagian penatalaksanaan kasus saja yang berbeda, itupun dikarenakan
pasien kami berbeda.
Selebihnya???
Gambar-gambar dan titik komanya pun sama. Hingga kata-kata yang menurut
teman-temanku menjadi ciri khasku jika presentasi yaitu ’komprehensif’ dan
’holistik’ juga disebut oleh temanku tersebut.
Dan tanpa rasa bersalahnya sebelum dia presentasi,
dia berkata padaku, ”eh Ocha, ngerasa
kenal gak sama makalahnya?
” Begitu menyesakkan sebetulnya bagiku mengingat
pedih dan peluh yang kurasakan untuk membuat makalah tersebut bahkan sampai
melibatkan orang lain dalam pengerjaannya untuk mengedit tampilan makalahku.
Berkali-kali aku harus memperbaiki revisi dari pembimbing.
Dan dia??? dengan tinggal memplagiat makalahku,
tanpa perlu bersusah payah, sudah bisa mendapatkan poin untuk mengikuti ujian
Drg di Departemen Prostodontia.
Tadinya ingin kuluapkan kekesalanku padanya saat itu, tapi sudahlah toh
tiada gunanya. Satu hal yang membuatku agak khawatir adalah pembimbingnya dan
pembimbingku adalah sama-sama Drg. Djaja Suminta Sp.Prost. Entah beliau
menyadari atau tidak kesamaan makalahnya dengan makalah yang telah kubuat pada
bulan Desember lalu.
Satu
alasannya yang tidak dapat kuterima adalah karena waktunya sudah mepet.
So what gitu loh??? Yang namanya jadwal
seminar laporan kasus itu biasanya sudah diumumkan sebulan sebelumnya. Jadi
menurutku tidak ada alasan baginya untuk bilang jika waktunya sudah terlalu
mepet. Toh, dia dapat mencicilnya sejak pengumuman tersebut ditempel.

 

Aku hanya membayangkan, apa jadinya jika semua akademisi calon dokter gigi
seperti itu. Ingin lulus program profesi dokter gigi tepat waktu selama 1.5
tahun, tetapi tidak mau menjunjung nilai-nilai keilmiahan. Ingin menjadi
seorang dokter gigi yang sukses, tetapi tidak jujur dan hanya bisa memplagiat
hasil pekerjaan orang lain. Semoga ALLAH SWT mengampuniku atas rasa kesal yang merasuk
ke dalam dada ini dan juga semoga Dia menunjukkan lorong kebenaran pada temanku
untuk bertindak jujur lain kali. Amin Ya Rabb.

Secerah Pewarna

Saturday, July 8th, 2006

pada sujud-sujud panjang
menghamba diri
telusuri kepakan-kepakan
sayap yang tiada bisa melanglang
tersudut pada sebuah metafora
titipkan sebuah roja’ amat sangat
menghitung masa demi masa

selaksa mendedah angkasa
dalam tutur kearifan
secerah pewarna surgawi
terpancar dalam bilur-bilur aura
sayup-sayup
hentakkan ke kurva bianglala
tak sekedar semiotika sahaja
merunduk bak bulir-bulir padi
hantarkan semburat mistis
dialog-dialog malam
tiada sangka sebelum ada
euforianya
mengalir jernih lagi jujur
Laa takhof wa laa takhzan
Innallaha ma’ana