beriringan
menyambut guliran jengat rumput-rumput
jarum yang membasah
bermain lincah menggoda sang
olfaktorius
kalanya mentari serasa malu sua
hingga gereja kecil pun tak hendak menyanyi
dan Desember pun datang lagi
it’s magnificient seven!
sebuah pijakkan kecil di hamparanNya yang demikian luas
Rabbi…
Rinjani pun hanyalah satu titik
kecil dari langit
Lombok
apalagi insanMu???
pantaskah ada gumam semua kuasa ada
dalam genggamannya
tangan yang sejatinya sungguh rapuh
sungguh lemah
bahkan Roma yang kecil pun tak
sanggup dibangun dalam waktu satu malam
absurd!
pantaskah Fir’aun merasa mulia
bila semesta bertutur
gumpalan mani pembentuknya begitu
eksentrik
hanya yang mendapat izinNyalah yang
memenangkan pertarungan
pantaskah Hitler yang bermuka pucat
dan pesakitan di masa kecilnya
mengagungkan kredo dan
berpropaganda
bahwa dialah Tuhan
hanya karena Stauffenberg gagal
menjagalnya?
tapi kemudian butiran-butiran abses
dengan begitu mudah menggeroti tubuhnya
merangkak
lalu berdiri seolah tlah mencapai
kulminasi
kemudian jatuh sampai merana
tak hendak bangkit meski sakit
sampai semuanya kusut masai
sepi bahkan dalam ramai
dan Desember pun datang lagi
it’s magnificient seven!
serentak menghentak jarak
dalam ruang-ruang qona’ah
meski riuh tersamar berkelebat
mata-mata bening
nurani berucap santun
dan Desember pun datang lagi
menghamba
Rabbi…
jangan henti ajari memujiMu dalam
tiap debaran
dalam tiap getaran
dalam tiap kerlipan
tumbuhkan tanah-tanah tandus di
pahatan cinta
terbangkan pasir-pasir dengki
hingga tiada lagi tersisa ruang
karena dalam dada pecinta sejati
tak kan terkumpul dua massa
dan Desember pun datang lagi