110107 @08.23
WIB :
Kalo ngelepas R**** adalah hal yang bener
kenapa rasanya begitu sakit ya cha?
Kenapa dia harus menangis? dan kenapa gw
ngerasa sedih?
Apa gw udah ga waraz ya cha, ngelepasin
orang yang begitu gw sayang?
btw buku weine lu ada di gw,
Pinjem dulu yaa cha mpe gw lulus hehe
Makasii banyak cha, ure an angel =]
-V****-
Haaa???
Koq bisa buku itu ada sama V****
sih???
Perasaan yang pinjam dulu itu si
P**** deh.
Udah selesaikah dia ujian???
120107 siang
hari menjelang sholat Jumat di kampus FKG UI :
“Eh cha,
buku Weinenya ocha kayaknya ada di si V**** deh”
-berpapasan
dengan R**** -
120107 malam
hari :
Masih menunggu
kabar dari P****. Mungkin dia sedang tak ada pulsa untuk mengabari bahwa
bukunya telah selesai dipinjam. Beri dia waktu sehari lagi.
130107 malam
hari :
Akhirnya, tak
sabar pula untuk tak bertanya pada P**** tentang keberadaan bukuku tersebut.
“Assalamu’alaikum P**, buku Weine-nya
rosa
sudah selesai dipinjamkah
?”
130107 @20.34
WIB :
“Wa’alaikumsalam cha, sebelumnya gw mo minta
maaf banget sama loe, buku loe dipinjem ama V****, kemarin sih pengen bilang
dulu ma ocha, emang kenapa cha? Mau dipake ya? Buat kapan?”
-P****-
Glekz…tak ada
reply untuk ini…
—–
Bila
musim ujian masuk klinik atau ujian dokter gigi tiba, entah kenapa
teman-temanku di kampus sering sekali mencariku untuk meminjam bahan-bahan
kuliah, entah itu kumpulan hand-out, textbook, atau sekedar ringkasan bahan
kuliah yang telah kubuat. Selama aku tidak sedang menggunakannya, aku biasanya
akan dengan senang hati meminjamkannya pada mereka. Aku senang karena mungkin dengan
demikian secara tak langsung aku dapat membantu mereka.
Namun,
entah kenapa, akhir-akhir ini tiap kali ada teman yang hendak meminjam
bahan-bahan kuliahku, aku merasa enggan untuk meminjamkannya. Bukan maksud hati
untuk bersikap pelit, tapi pengalaman-pengalaman soal pinjam meminjam inilah
yang aku sesalkan.
Pada
saat mereka membutuhkan bahan-bahan tersebut, maka mereka biasanya akan selalu
mengejar-ngejar aku hingga dapat, mulai dari mengSMS, menelepon, atau bahkan
menyambangi aku di tempat praktek. Namun, kejadian yang terjadi paska ujian
usai adalah, aku kerap tak mengetahui bahwa harta berhargaku itu telah
berpindah tangan ke orang lain. Parahnya adalah, orang yang pertama kali
meminjam bahkan tak memberiku ucapan pemberitahuan apalagi sejumput untaian
terima kasih.
Bukan
gila akan kata “terima kasih”, tapi aku
hanya meminta suatu pertanggungjawaban atas kepercayaan yang telah kuberikan
kepada mereka. Acapkali, kutemui hartaku tersebut sudah dalam kondisi yang
menyedihkan. Entah jilidannya ada yang lepas, lembarannya ada yang robek, dan
hal-hal lainnya. Hhhhh…padahal aku adalah orang yang sangat menjaga
harta-hartaku itu dengan baik dan apik, tapi kemudian dirusak begitu saja oleh
tangan-tangan tak bertanggungjawab. Bila
sudah begitu, orang terakhir yang memegang harta berhargaku itu justru biasanya
berkelit,
“Gw gak tau cha, pas gw pinjem udah robek
kayak begitu.”
Untuk
mereka yang merasa pernah meminjam bahan-bahan kuliah apapun dari rosa dan tak dapat menjaganya dengan baik, bila pada teman
sejawat saja kalian sudah tak dapat menunjukkan suatu tanggung jawab, bagaimana
dengan tanggung jawab kalian pada pasien-pasien nantinya???