Archive for August, 2007

Serenada untuk Belahan Jiwa

Friday, August 31st, 2007

Sayang…

Sungguh
belum jua ada ilham yang menyambangiku mengenai siapa sejatinya dirimu, yang
menjadi belahan jiwaku. Bertanya-tanya di tiap desahan nafas, apakah kau dan
aku telah saling melontar kata, atau memang persinggungan aura itu belum pernah
terjadi? Sekejap, seolah ku jumpaimu dalam serpihan do’a, sujud panjang, mimpi,
lembaran lontar, atau bahkan pada secarik elegi cinta. Ternyata, isyarat itu
hanyalah sebilah fatamorgana, meski roja’ kerap menyertai kala ku kepakkan sayap
menuju bianglala.

 

Ksatriaku…

Aku
dengan segenap keimananku sungguh meyakini bahwa engkau adalah lelaki
pilihanNya. Engkau adalah makhlukNya yang terbaik yang akan berada di sampingku
hingga pada saatnya senja menempa raga. Engkaulah bintang Venus yang bersinar
cerah di jingga langitku. Duhai ksatria, terbangkan aku dengan kuda sembranimu
menuju romantika cinta yang bukan sekedar semiotika. Kau dan aku disandingkan
oleh iradahNya, karenanya ku mohon jangan sekali-kali kau ingkar dari mencintaiNya.
Cintailah aku, setelah engkau persembahkan cinta tertinggimu pada Allah dan
RasulNya.

 

Rindu…

Di
belahan bumi manapun engkau berdiri kini, meski mungkin tak sebaik

padang

pertemuan Adam dan
Hawa, aku percaya bahwa Sang Pemilik Jiwa telah menyiapkan tempat terbaik untuk
kita bersua. Wahai rindu, untuknya tak perlu kau berkeras menyelami Atlantis
yang tinggal legenda. Aku pun jua rasakan resah yang menjarah hatimu. Bahkan, kerinduan
ini selaksa khamr yang kian menelan kesadaranku. Namun, sekali lagi aku mohon :
bersabarlah. Kesabaran akan selalu berbuah indah, dan sungguh sesuatu yang indah
akan datang pada saatnya kelak.

 

Cinta…

Kau
adalah imamku. Engkau adalah pakaian bagiku dan aku adalah pakaian bagimu. Karenanya,
kenakanlah baju zirahmu tuk bertarung demi kehormatanku karena engkau adalah
pahlawan yang telah lama kuimpikan. Hari demi hari a

kan

kita hiasi dengan ketundukan padaNya. Kelamnya
malam akan kita terangi dengan tangis munajat kehadiratNya. Sunyinya istana
kecil akan kita riuhkan dengan tawa jundi-jundi yang kelak dititahkan
melanjutkan perjuangan menegakkan dienNya di muka bumi.

 

Kasih…

Kau
dan aku miliki masa lalu. Masa lalu kerap menjadi bumerang bagi insan yang
enggan memandang ke depan. Namun, dengan peleburan jiwa sebuah lembar baru
kehidupan pun telah dimulai. Akadnya, kita hidup untuk hari ini dan hari esok,
dan tiada guna hari kemarin melainkan ibrah dan mauidzah. Sekali lagi kuyakini
bahwa itu adalah bekalan terbaik untuk merengkuh masa depan nan futuh.

 

Pangeranku…

Tetaplah
sanjungkan harap di dua pertiga malammu. Biar ku dengar lamat isakmu di balik
hijab penantianku. Duhai pangeran, bukan hanya Pandawa yang bisa berbangga
dengan loyalitas seorang Drupadi, satu ikrarku dengan persaksian malaikatNya :
aku jua akan berikhtiar tuk menjadi yang kau bangga.