Menyoal Simbol
Saturday, September 29th, 2007
Cuaca
dan situasi kota Jakarta di bulan Ramadhan ini tampaknya
memang benar-benar menguji kesabaran setiap orang yang sedang menjalani ibadah shaum.
Bagaimana tidak? Darah seakan mendidih oleh matahari yang bersinar demikian
teriknya. Kemacetan di seluruh titik ibukota, terutama menjelang waktu berbuka,
seolah memaksa orang-orang untuk tetap duduk manis di rumah atau berdiam di
kantor hingga lepas waktu berbuka. Pun demikian hal dengan saya, jika saja
tidak ada keperluan yang urgen, maka saya memilih untuk tinggal di rumah
ketimbang harus pergi ke sebuah kantor pemerintah yang terletak di bilangan Kota, Jakarta Barat,
siang itu. Apalagi jika mengingat daerah tersebut rawan akan kemacetan yang disebabkan
pembangunan terowongan penyebrangan orang [TPO] di halte busway yang tak
kunjung usai.
Sesampainya
saya di kantor tersebut, satu realita lagi yang harus saya hadapi adalah : antrian.
Selagi menunggu antrian, tiba-tiba HP saya berbunyi tanda ada sebuah SMS yang
masuk. Ternyata SMS tersebut adalah sebuah SMS dari salah seorang sahabat saya
ketika masih SMU. Setelah membaca SMS yang sepertinya juga terusan dari orang
lain tersebut, saya tercenung sesaat. SMS tersebut berisi sebuah peringatan
untuk menghindari penggunaan huruf-huruf “4JJ I” [baca : Allah] dalam berbagai
penulisan. Ujarnya, huruf-huruf tersebut ternyata menyimpan sebuah makna lain
yang memiliki hubungan kuat dengan satu agama tertentu. Intinya, makna yang
tersirat dari peringatan tersebut adalah : jika kita menggunakan huruf-huruf tersebut
dalam penulisan, maka sama saja kita memuja Tuhan dari agama lain.