Archive for September, 2007

Menyoal Simbol

Saturday, September 29th, 2007

 
Cuaca
dan situasi kota Jakarta di bulan Ramadhan ini tampaknya
memang benar-benar menguji kesabaran setiap orang yang sedang menjalani ibadah shaum.
Bagaimana tidak? Darah seakan mendidih oleh matahari yang bersinar demikian
teriknya. Kemacetan di seluruh titik ibukota, terutama menjelang waktu berbuka,
seolah memaksa orang-orang untuk tetap duduk manis di rumah atau berdiam di
kantor hingga lepas waktu berbuka. Pun demikian hal dengan saya, jika saja
tidak ada keperluan yang urgen, maka saya memilih untuk tinggal di rumah
ketimbang harus pergi ke sebuah kantor pemerintah yang terletak di bilangan Kota, Jakarta Barat,
siang itu. Apalagi jika mengingat daerah tersebut rawan akan kemacetan yang disebabkan
pembangunan terowongan penyebrangan orang [TPO] di halte busway yang tak
kunjung usai.

Sesampainya
saya di kantor tersebut, satu realita lagi yang harus saya hadapi adalah : antrian.
Selagi menunggu antrian, tiba-tiba HP saya berbunyi tanda ada sebuah SMS yang
masuk. Ternyata SMS tersebut adalah sebuah SMS dari salah seorang sahabat saya
ketika masih SMU. Setelah membaca SMS yang sepertinya juga terusan dari orang
lain tersebut, saya tercenung sesaat. SMS tersebut berisi sebuah peringatan
untuk menghindari penggunaan huruf-huruf “4JJ I” [baca : Allah] dalam berbagai
penulisan. Ujarnya, huruf-huruf tersebut ternyata menyimpan sebuah makna lain
yang memiliki hubungan kuat dengan satu agama tertentu. Intinya, makna yang
tersirat dari peringatan tersebut adalah : jika kita menggunakan huruf-huruf tersebut
dalam penulisan, maka sama saja kita memuja Tuhan dari agama lain.

read more…

Manusia Dhaif

Monday, September 24th, 2007

Satu
siang dengan paras surya yang merekah bak putri bunga. Adalah suatu jalan yang
telah digariskan, ketika teriknya bergumul dengan kelebatan tatapan tajam
menerkam. Itulah perkara yang sejak dahulu dinisbatkan sebagai anugerah, tetapi
kelanjutannya dapat menjadi salah satu etiologi dari petaka besar dalam sejarah
manusia. Bila kemudian ia bersanding dengan gemerlap keduniawian, maka tak ayal
kenistaan telah menanti di ujung jalan. Adapun kilaunya bisa menyambangi tiap
pucuk dedaunan muda bersama angin yang mengalir semilir. Karenanya, penampikan
demi penampikan tak akan membuat gelora semakin meredup, tapi justru kian
meletup. Semiotika lantas dikejawantahkan dalam bilangan-bilangan syair. Setiap
ucap harus dimaknai dengan lamat dan cermat. Hening kerap menjadi saksi sejarah
berjuta metamorfosis karenanya. Dunia yang makin tenggelam karena runtuhnya
pegunungan es di belahan Antartika atau tanah tandus yang berganti menjadi
taman bunga dalam tempo sekejap, bisa menjadi sepenggal bukti. Bukan hanya
dalam satu babak saja manusia memilih, tapi hidup memang merupakan pilihan,
bergerak cepat atau tinggal di tempat. Ketika keputusan untuk bergerak cepat
telah dipilih, maka tak seharusnya melihat pada apa yang telah lampau melainkan
ibrah dan mauidzah.

 

Read more…

Tilawah Al-Qur’an Dapat Mengurangi Bau Mulut Saat Berpuasa

Friday, September 21st, 2007

Datangnya
bulan Ramadhan kerap menghadirkan kesyahduan tersendiri bagi setiap kalbu yang
merindunya. Momen-momen penting yang terjadi di bulan Ramadhan rasanya dapat
menginspirasi siapa saja yang hendak melakukan rihlah [wisata] ruhaniyah. Mekkah
yang berhasil ditaklukan oleh kaum Muslimin, kemenangan tentara Islam melawan
tentara kafir Quraisy, kehadiran Lailatul Qadar yang memiliki keutamaan lebih
dari seribu bulan, adalah beberapa di antaranya. Adapun momen terpenting di
bulan Ramadhan adalah diwajibkannya puasa dan turunnya Al-Qur’an berbarengan
dengan diangkatnya Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah. Oleh karena itu,
amal di bulan Ramadhan sejatinya terfokus pada dua hal tersebut. Sedangkan,
amalan lainnya merupakan suatu jalan untuk mengejawantahkan nilai-nilai yang
terkandung dalam Al-Qur’an.

Karena
Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan [QS. Al-Baqarah : 185],
tak heran bila Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di
bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun
langsung untuk memuroja’ah [mendengar dan menilai] bacaan Al-Qur’an beliau. Oleh
karenanya, amat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak membaca
Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Tilawah [membaca] Al-Qur’an ini tentu saja
dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan hakikat dasar diturunkannya
Al-Qur’an untuk ditadabburi, dipahami, dan diamalkan. Allah berfirman :

“Ini
adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran
mendapat pelajaran.”
[QS. Ash-Shad : 29].

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya, selain
mendatangkan pahala yang berlipat ganda apabila dilakukan secara ikhlas,
tilawah al-Qur’an pada saat berpuasa ternyata dapat pula mengurangi bau mulut [halitosis
/ fetor ex ore].

read more…