Archive for December, 2007

Kontemplasi

Wednesday, December 26th, 2007

Detik…telah berkumpul menjadi menit

Menit…telah bersatu menjadi jam

Jam…telah melebur menjadi hari

Hari…telah bertambah menjadi bulan

Bulan…telah berjalan menjadi tahun

 

…dan nikmat Tuhanmu manakah yang
kau dustakan?…

 

Allah…

Demikian melimpah kasih yang telah
Kau curahkan pada manusia dhaif ini

Adakah jalan yang lebih indah
dibandingkan jalan yang telah Kau tunjukkan

Meski berliku dan harus melaluinya dengan
ketertatihan

Sejatinya, itulah caraMu mencintaku

 

Allah…

Jauhkan hamba dari segala noktah
yang kerap menodai jiwa

Hempaskan gelimang thaghut yang berkelibat
tanpa sangka

Musnahkan seluruh bara yang menjadi
hijab di antara kita

Harapku, miliki sayap tuk kepakkan
ke ‘Arasy…jumpaiMu…

 

Allah…

Sungguh kupinta,

Hanya ingin dalam belaimu

Sekali lagi…

Jangan henti ajari memujiMu

Dalam tiap debaran…dalam tiap
getaran..dalam tiap kerlipan…

Tak ingin khianati rahman dan
rahimMu

Karena ku selalu yakini

Dalam dada pecinta sejati, tak

kan

terkumpul dua hati

 

*tiap detik adalah Anugerah…tiap tawa adalah
Karunia…dan tiap tetes air mata adalah Cinta… hari ini ruh baru telah lahir
kembali, tak ada yang bisa berpulang ke masa lampau, tapi selalu akan ada
kesempatan untuk memulai masa depan…semoga*


 

…special thanks
to : Bul’e, Bang Anca, Deasyku, Fathy, Bang Nanda, Icha, Diyas, Unce Marunce,
Tante Ida, Om Dhan, Jeng Dewi, Fitri, Meita, Andhika, Bang Ridho, Putri, Uda
Ipeng, Bang Ipin, Mba Ut, Thea, Donna, Pak’e Aroeng, Desly, Tia, Indah, Mba
Desan, Ditha [atas SMS dan teleponnya : sort by chronological order] ; Adis,
Ita, Yudha, Dian, Ranny, Mba Roza, Mba Retno, Mba Intan, Luiz [atas offline
message di Y!M], Mas Novi, Mas Haryo, Azhar, Idzma, Ka Samsul, Any, Tity,
Setta, Mba Wiet, Bunda Nila Aura, Wilda, Bunda Ira, Bunda Nila, Mas Riza, Dr.
Ady [atas message dan komennya di FS] ; Andik [atas kirimannya]…

…Born to Love…

Wednesday, December 19th, 2007

We were born to
love.

We were not born
to suffer.

There are times
when we will meet people who are heartless, and we feel like hitting them from
behind. But, we were not born to hurt others.

There are times
when we will meet people who are heartless, and we feel insecured, or stifled. But,
we were not born to be hurt by others.

 

Sometimes, we
create another person inside us.

Perhaps that is
just a way of escaping from pain and suffering.

Perhaps we are
only preparing ourselves for escape.

Shutting
ourselves and running to another place, in order to talk to that other person,
the friend inside us.

That is why no
one is ever alone.

Everyone of us
has a friend, the person inside of us.

There are times
when we think that friend is bad company, that he is cowardly and cruel.

But in reality
it is different.

The one that is
cowardly and cruel is not our friend, but ourselves.

Why? Because in
truth, the existence of that friend is created by us for our own sake.

That is why, we
have to part with that wonderful friend.

If we don’t do
so, we will always dependent on that person inside us.

 

So, when will
that happen?

It will happen
when we meet the person we love.

When we give up
loneliness, sorrow, pain, and the person inside us for that person that we love.

Let’s go look
for the one we love.

Someone who love
whom can talk to about anything, to laugh with, to cry with, to hold each
other.

Someone from
whom we can courage from, and to whom we can give courage in return.

Cause, the only
reason we were born is to love…

Romantika Masa PTT

Wednesday, December 19th, 2007

Pengalaman
masa pengabdian profesi dokter atau yang lebih dikenal dengan istilah
PTT [Pegawai Tidak Tetap] Departemen Kesehatan, kerap menjadi sebuah
kisah yang tak akan terlupakan bagi dokter dan dokter gigi yang
menjalaninya, terutama bagi mereka yang bertugas di daerah sangat
terpencil. Mulai dari pengalaman yang menyenangkan hingga tak sedikit
pula yang menyedihkan. Dari sekian banyak kisah yang dialami, tampaknya
kisah mengenai romantika cinta dokter dan dokter gigi PTT menjadi salah
satu kisah yang cukup menarik untuk disimak.

….read more…

Sebuah Keputusan

Wednesday, December 19th, 2007

Tak ubahnya gugusan bintang yang menetaskan cahayanya sendiri, pepasir
pantai di negeri Hukurila tampak gemilang dari kejauhan. Berbeda dengan
pepasir di negeri Kamarian yang lusuh meski telah berbasuh air laut
yang kerap menyambanginya bersama gelombang pasang. Batu-batu karang
besar yang menghampar di pojokan tanjung menegaskan pada setiap yang
bertandang agar selalu mawas pada keteduhan laut yang sejatinya ganas.
Ketegasan tersebut bukan tanpa satu motif yang nyata. Garis pantai
negeri Hukurila memang menelikung tepat di tepian laut yang tersohor di
dunia karena kedalamannya yaitu Laut Banda. Jika awan gemawan sedang
jenuh untuk bergumul, maka langit dan baruna laiknya karib yang tak
terpisahkan lagi, pun oleh seutas benang cahaya mentari di siang hari.

…read more…

Baku Pukul Manyapu

Wednesday, December 19th, 2007

Suasana kota Ambon di hari Sabtu, 20 Oktober 2007, mendadak senyap.
Seolah terjadi migrasi mendadak, ribuan warga Ambon berduyun-duyun
menggunakan angkutan darat dan laut menuju ke negeri Mamala dan Morela
yang terletak
di Jazirah Leihitu, kabupaten Maluku Tengah. Langit yang berawan sendu
tak menyurutkan langkah mereka untuk beranjangsana ke dua negeri yang
saling bertetangga di penjuru utara pulau Ambon tersebut. Bukan tanpa
perkara yang sederhana bila semangat mereka demikian membara seperti
itu. Pasalnya adalah, di tiap hari yang bertepatan dengan hari ketujuh
setelah Idul Fitri atau 8 Syawal pada penanggalan Hijriah, dua negeri
adat yang penduduknya beragama Islam tersebut mengadakan satu tradisi
pukul sapu atau yang lebih dikenal dengan Baku Pukul Manyapu.

…read more…